Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

OpenAI Hentikan Video Deepfake Martin Luther King Jr. Setelah Kritik Estate

Teknologi
Kecerdasan Buatan
artificial-intelligence (5mo ago) artificial-intelligence (5mo ago)
18 Okt 2025
46 dibaca
2 menit
OpenAI Hentikan Video Deepfake Martin Luther King Jr. Setelah Kritik Estate

Rangkuman 15 Detik

OpenAI menghentikan penggunaan gambar Martin Luther King Jr. setelah adanya keluhan dari estate-nya.
Kontroversi mengenai aplikasi Sora menunjukkan perlunya perlindungan yang lebih baik terhadap hak gambar publik.
Keluarga tokoh publik meminta agar penggunaan AI dalam menciptakan representasi mereka dilakukan dengan izin dan perhatian yang lebih besar.
OpenAI baru-baru ini menghentikan sementara pembuatan video dengan menggunakan teknologi AI yang menampilkan Martin Luther King Jr., setelah ada keluhan dari keluarga dan pengelola warisan tokoh tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran video deepfake yang merugikan citra Martin Luther King Jr. yang beredar di internet. Aplikasi baru OpenAI yang bernama Sora memungkinkan pengguna membuat video realistis dengan teknologi AI. Namun, karena kurangnya pembatasan, aplikasi ini mudah disalahgunakan oleh pengguna yang membuat video deepfake menampilkan tokoh publik dalam situasi yang tidak pantas. Video deepfake tersebut menunjukkan Martin Luther King Jr. dalam berbagai adegan yang mempermalukan dan menyesatkan, seperti perlakuan kriminal dan stereotip rasial. Hal ini membangkitkan keprihatinan serius dari keluarga dan pengelola warisannya, khususnya Dr. Bernice A. King yang meminta OpenAI untuk menghentikan penggunaan ini. OpenAI akhirnya merilis pernyataan bersama dengan Estate Martin Luther King Jr. bahwa mereka akan memperketat aturan dan hanya akan mengizinkan penggunaan citra tokoh publik dengan persetujuan dari pemilik hak. Namun, kritikus dan ahli hukum menilai respons ini terlambat dan menunjukkan pola industri AI yang bertindak dulu baru meminta maaf kemudian. Kedepannya, diharapkan ada regulasi yang lebih kuat terkait teknologi deepfake agar melindungi reputasi tokoh publik sekaligus menjaga kebebasan berekspresi. Perusahaan teknologi juga harus mengambil langkah proaktif untuk mencegah penyalahgunaan sejak awal produk diluncurkan.

Analisis Ahli

Kristelia García
Perusahaan teknologi sering bergerak terlalu cepat tanpa pertimbangan hukum yang memadai, dan hal ini menciptakan risiko besar bagi perlindungan hak citra dan reputasi tokoh publik.