AI summary
China sedang mengembangkan teknologi AI untuk memperkuat kemampuan militernya, termasuk drone otonom. Paten dan penelitian terkait AI menunjukkan upaya sistematis China dalam meningkatkan kekuatan militernya. Kekhawatiran AS terhadap aplikasi militer dari teknologi AI China menunjukkan pentingnya perlombaan teknologi dalam konteks geopolitik. Amerika Serikat selama ini khawatir China akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat kekuatan militernya. Oleh sebab itu, AS membatasi ekspor chip AI canggih ke China, meskipun baru-baru ini mereka mulai memberi kelonggaran dengan mengizinkan ekspor chip H200 buatan Nvidia.China mengembangkan drone militer yang meniru perilaku hewan, seperti elang dan merpati, untuk menjalankan operasi tempur secara kawanan otonom. Drone ini bertugas mengincar dan menghindar dari serangan dengan cara yang mirip binatang sungguhan, dan sistem ini sudah dipatenkan pada April 2024.Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menggunakan teknologi AI untuk mengoperasikan sistem tanpa awak seperti drone dan robot anjing, dengan intervensi manusia yang minim. China juga memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahun, jauh lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat yang hanya puluhan ribu dengan biaya jauh lebih tinggi.Selain itu, China mengembangkan sistem perang kognitif seperti siaran deepfake dan serangan suara terarah, serta kendaraan tempur AI seperti P60 milik Norinco yang bisa beroperasi mandiri. Teknologi ini didukung oleh model AI dalam negeri bernama DeepSeek dan semakin dipopulerkan di kalangan militer China.Meski militer China menegaskan kendali manusia akan tetap ada, kemampuan AI yang terus berkembang ini memunculkan risiko besar terutama jika keputusan mematikan dibuat tanpa kontrol manusia. AI militer China diperkirakan akan menjadi senjata masa depan yang dapat menyaingi atau bahkan mengancam dominasi militer Amerika Serikat.
Perkembangan AI militer China menunjukkan betapa cepatnya teknologi dapat mengubah dinamika kekuatan global, dan penggunaan sistem kawanan drone otonom akan mengubah taktik peperangan secara dramatis. Namun, risiko pengambilan keputusan tanpa kontrol manusia menyajikan bahaya etis dan strategis yang belum sepenuhnya siap dihadapi oleh semua pihak.