China Kembangkan Drone AI Militer Canggih, Tantang Dominasi AS
Courtesy of CNBCIndonesia

China Kembangkan Drone AI Militer Canggih, Tantang Dominasi AS

Menginformasikan perkembangan signifikan teknologi kecerdasan buatan China dalam aplikasi militer, terutama penggunaan drone cerdas berbasis perilaku hewan, serta implikasi strategis dan keamanan global dari inovasi tersebut.

27 Jan 2026, 21.10 WIB
93 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Amerika Serikat berusaha membatasi pengembangan teknologi AI China untuk menjaga keunggulan militernya.
  • China semakin maju dalam pengembangan drone militer berbasis AI yang dapat meniru perilaku hewan.
  • Penggunaan AI dalam militer dipandang sebagai solusi untuk keterbatasan manusia, tetapi juga menimbulkan risiko serius.
Jakarta, Indonesia - Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir menerapkan kebijakan ketat mengekang ekspor teknologi chip dan kecerdasan buatan ke China karena khawatir teknologi tersebut akan digunakan untuk memperkuat militer China. Namun, China tidak tergantung terus-menerus kepada AS dan semakin gencar mengembangkan teknologi AI dan chip canggih secara mandiri agar lebih kuat dan mandiri dalam bidang teknologi pertahanan.
Baru-baru ini, peneliti dari Beihang University yang berafiliasi dengan militer China berhasil mengembangkan sistem drone militer yang bertindak seperti sayap burung elang dan merpati. Drone defensif seperti elang akan menargetkan musuh paling rentan, sementara drone penyerang seperti merpati untuk menghindari serangan. Inovasi ini sudah dipatenkan dan menjadi bagian dari strategi militer China untuk mengembangkan kawanan drone otomatis.
China memiliki kemampuan produksi drone yang sangat besar, melebihi AS jauh. China bisa memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahunnya, sementara AS hanya puluhan ribu unit dengan biaya lebih mahal. Selain drone udara, China juga mengembangkan robot berjenis serigala yang bersenjata untuk bekerja sama dengan kawanan drone udara tersebut.
Selain pengendalian drone, militer China juga mengembangkan riset sistem perang kognitif yang kompleks, termasuk kemampuan menyiarkan deepfake, mengerahkan robot anjing, dan menggunakan suara terarah sebagai senjata. Meski teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, para ahli khawatir potensi bahaya akibat keputusan tanpa kontrol manusia dan risiko kegagalan dalam kondisi perang elektronik semakin meningkat.
Sejak 2022, institusi terkait militer China telah mengajukan lebih dari 930 paten tentang kecerdasan kawanan drone, jauh melampaui jumlah paten yang diajukan AS. AI dinilai sebagai kunci revolusi peperangan baru oleh militer China, yang kemungkinan akan mengubah cara perang modern dan menghadirkan tantangan besar bagi pertahanan negara lain, khususnya di kawasan seperti Taiwan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260127180111-37-705782/china-makin-ganas-ketakutan-trump-akhirnya-jadi-kenyataan

Analisis Ahli

Stacie Pettyjohn
"Teknologi drone kawanan dapat mengubah medan tempur secara drastis dengan memungkinkan PLA membanjiri pertahanan musuh, terutama dalam skenario seperti Taiwan."
Zhu Qichao
"Risiko utama penggunaan AI dalam sistem senjata adalah masalah keselamatan dan kurangnya tanggung jawab akibat kompleksitas algoritma yang sulit dipahami."

Analisis Kami

"Inovasi AI China yang mengadopsi perilaku hewan dalam drone militer menunjukkan lompatan besar dalam strategi tempur otomatis yang praktis dan efektif. Namun, tanpa kontrol manusia yang ketat, risiko kegagalan sistem dan konsekuensi etis bisa berujung pada eskalasi konflik yang sulit dikendalikan."

Prediksi Kami

China kemungkinan akan semakin mendominasi teknologi AI militer dengan kawanan drone otomatis yang mampu membanjiri sistem pertahanan musuh, membuat persaingan militer dengan AS dan aliansinya menjadi semakin ketat dan berbahaya.