Kontroversi Sora OpenAI: Video AI Tokoh Terkenal Viral Tapi Memicu Isu Etika
Teknologi
Kecerdasan Buatan
13 Okt 2025
44 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Sora adalah aplikasi AI yang populer untuk menciptakan konten visual, tetapi menimbulkan kontroversi etika.
Kritik terhadap penggunaan citra selebritas yang telah meninggal tanpa izin dari keluarga mereka semakin meningkat.
OpenAI berupaya mengatur penggunaan kemiripan selebritas untuk melindungi hak dan kepentingan keluarga mereka.
Aplikasi Sora dari OpenAI menjadi populer dengan lebih dari 1 juta unduhan dalam waktu kurang dari lima hari sejak peluncurannya di Amerika Serikat dan Kanada. Aplikasi ini menggunakan teknologi AI untuk membuat video dan gambar yang sangat realistis berdasarkan perintah teks. Banyak pengguna memanfaatkan aplikasi ini untuk membuat konten yang menampilkan tokoh-tokoh terkenal, termasuk yang sudah meninggal dunia, dan membagikannya di platform sosial seperti TikTok.
Video-video yang menampilkan kemiripan selebritas seperti Kobe Bryant, John Lennon, Michael Jackson, dan Amy Winehouse menjadi viral dan mendapat jutaan penonton. Namun, video-video ini tidak mendapat persetujuan dari keluarga atau ahli waris para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perdebatan etika yang intens. Contohnya, Zelda Williams, putri dari mendiang Robin Williams, mengecam tren ini karena dianggap tidak menghormati warisan dan privasi keluarganya.
OpenAI mencoba untuk mengatur penggunaan aplikasi dengan menerapkan berbagai batasan, seperti pelarangan pembuatan konten yang menampilkan selebritas yang masih hidup dan pengaturan ketat terkait penggunaan kemiripan figur publik bersejarah. Mereka juga memberi kesempatan kepada keluarga atau ahli waris untuk meminta penghapusan konten yang dianggap melanggar, seperti yang terjadi pada konten Michael Jackson setelah klaim hak cipta diajukan.
Walaupun ada beberapa bidang seperti film dan musik yang sebelumnya menggunakan teknologi suara dan rupa digital dengan izin resmi dari pihak terkait, penggunaan bebas di media sosial tanpa izin menimbulkan risiko penyalahgunaan dan menempatkan perusahaan AI dalam tekanan untuk bertanggung jawab. OpenAI menyatakan bahwa kontrol dan perlindungan terhadap pengguna, terutama remaja, juga menjadi salah satu prioritas mereka dalam pengembangan aplikasi ini.
Isu hukum pun muncul terkait perlindungan hak cipta di Inggris dan negara lainnya yang memiliki aturan berbeda tentang kemiripan orang. Kini banyak pihak berharap regulasi yang lebih jelas dan ketat segera diterapkan untuk mengatur penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi konten agar tidak melanggar hak privasi, etika, dan hak kekayaan intelektual.
Analisis Ahli
Lawrence Lessig
Teknologi AI memang inovatif, namun harus dilandasi oleh aturan hukum yang jelas agar tidak melanggar hak kekayaan intelektual dan hak privasi, terutama dalam konteks kemiripan digital yang berpotensi disalahgunakan.Fei-Fei Li
AI telah mencapai kemampuan mengagumkan dalam menciptakan konten visual, tapi aspek etika dan pengawasan harus diutamakan agar teknologi ini bermanfaat secara positif dan tidak merugikan pihak lain.


