Fokus
Sains

Penjelajahan Kosmik dan Fenomena Misterius

Share

Cerita ini mengangkat eksplorasi ruang angkasa melalui persiapan Artemis 2 NASA, penemuan perlambatan rotasi bumi yang membuka jalan bagi kehidupan baru, penemuan tanda-tanda kelahiran yang misterius, serta spekulasi tentang kemungkinan alam semesta paralel.

20 Feb 2026, 20.26 WIB

NASA Sukses Atasi Kebocoran Hidrogen, Artemis 2 Siap Menuju Bulan

NASA Sukses Atasi Kebocoran Hidrogen, Artemis 2 Siap Menuju Bulan
NASA baru saja menyelesaikan sebuah pengujian penting bernama wet dress rehearsal untuk misi Artemis 2 yang bertujuan mengirim manusia mengelilingi bulan. Pengujian ini dilakukan di Kennedy Space Center, Florida, selama dua hari dan bertujuan memastikan semua sistem roket dan pesawat ruang angkasa siap untuk peluncuran. Sebelumnya, NASA menghadapi masalah serius berupa kebocoran hidrogen cair pada roket Space Launch System, yang membuat tes-tes sebelumnya gagal atau terhenti. Kali ini, masalah tersebut berhasil diatasi dengan mengganti segel-segel yang bermasalah, sehingga pengisian bahan bakar roket dengan 730.000 galon berjalan lancar tanpa kebocoran. Selain pengisian bahan bakar, tim NASA juga memeriksa berbagai sistem penting seperti penutupan pintu kapsul Orion dan sistem pelolosan darurat. Pengujian termasuk simulasi hitungan mundur terakhir yang mereplikasi kondisi peluncuran sebenarnya sampai detik-detik sebelum mesin roket menyala. Artemis 2 tidak akan mendarat di bulan, melainkan akan mengitari bulan menggunakan lintasan yang memanfaatkan gravitasi bulan agar dapat kembali ke Bumi tanpa perlu dorongan tambahan. Misi ini akan menjadi penerbangan manusia pertama NASA melintasi orbit rendah Bumi sejak era Apollo. Empat astronot yang akan ikut dalam misi ini berasal dari NASA dan Canadian Space Agency, menunjukkan kerja sama internasional dalam eksplorasi luar angkasa. Peluncuran Artemis 2 direncanakan berlangsung pada awal Maret 2024, dengan peluang peluncuran cadangan di bulan April.
31 Des 2025, 07.45 WIB

Penelitian Baru Ungkap Hari di Bumi Dulu Pernah Cuma 19 Jam

Penelitian Baru Ungkap Hari di Bumi Dulu Pernah Cuma 19 Jam
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa panjang satu hari di Bumi tidak selalu 24 jam seperti yang kita kenal sekarang. Dalam jangka waktu sekitar satu miliar tahun di masa lampau, hari di Bumi stabil berada di sekitar 19 jam. Hal ini terjadi karena keseimbangan antara efek pasang surut dari Bulan dan atmosfer yang dipanaskan oleh Matahari. Tim peneliti yang dipimpin oleh Ross Mitchell menggunakan metode siklostratigrafi untuk menganalisis lapisan batuan sedimen yang merekam sejarah Bumi selama 2,5 miliar tahun. Mereka menemukan bahwa rotasi Bumi mengalami fase di mana laju perlambatan berhenti sejenak, menciptakan periode panjang hari yang belum pernah diperkirakan sebelumnya. Periode 19 jam ini terjadi karena resonansi antara pasang surut atmosfer dan lautan yang hampir mengimbangi pengereman gravitasi Bulan. Fenomena ini juga mempengaruhi ekosistem mikroba di dasar laut dangkal, yang menjadi penghasil utama oksigen pada masa itu. Karena hari yang relatif pendek ini, mikroba fotosintetik menyerap lebih banyak oksigen daripada yang dilepaskan, sehingga produksi oksigen global terhambat dan tetap stabil selama masa tersebut. Baru setelah kondisi resonansi ini berakhir, panjang hari mulai mendekati 24 jam kembali, dan produksi oksigen meningkat tajam. Studi ini juga memberikan wawasan baru tentang dinamika inti Bumi, termasuk bagaimana mantel bawah mengantarkan listrik dan berinteraksi dengan inti cair di dalam bumi. Penemuan ini penting untuk memahami perubahan jangka pendek dalam rotasi Bumi yang masih terjadi hingga sekarang.
19 Des 2025, 14.55 WIB

Hipotesis Baru Komet Jadi Penjelasan Bintang Timur Dalam Alkitab

Hipotesis Baru Komet Jadi Penjelasan Bintang Timur Dalam Alkitab
Dalam Alkitab, Bintang Timur atau Star of Bethlehem adalah cahaya yang menuntun tiga raja dari Majus menuju tempat kelahiran Yesus di Bethlehem. Cerita ini unik karena digambarkan sebagai cahaya yang muncul di langit bagian selatan dan berhenti di atas lokasi tertentu, yang berbeda dari pergerakan benda langit yang biasanya dari timur ke barat. Mark Matney, seorang astronom dari NASA, mengusulkan hipotesis baru setelah memperhatikan fenomena langit di planetarium. Dia menduga bahwa Bintang Timur bukanlah planet yang sejajar seperti yang sering dipercaya, melainkan sebuah komet yang datang sangat dekat dengan Bumi sehingga terlihat hampir diam di langit. Catatan kuno dari China pada tahun 5 SM menyebutkan adanya fenomena yang disebut 'bintang sapu', yang merupakan istilah untuk menggambarkan komet. Bintang ini dikatakan bertahan selama kurang lebih 70 hari di satu lokasi, sesuai dengan hipotesis Matney tentang komet yang jalurnya hampir menabrak Bumi. Jika komet tersebut benar ada dan melewati dekat Bumi, maka bisa menyebabkan efek optik seperti objek yang tampak berhenti atau diam di langit. Hal ini menjelaskan keanehan pergerakan Bintang Timur sebagaimana tercatat dalam Injil Matius, yang menggunakan kata 'astra' untuk menggambarkan fenomena itu. Penelitian ini tidak menutup kemungkinan adanya penjelasan lain, namun memberikan sumbangan penting bagi dunia astronomi forensik untuk memahami sejarah fenomena astronomi yang juga terkait dengan kepercayaan dan bagian dari narasi sejarah agama.
19 Des 2025, 07.00 WIB

Bagaimana Teori Dunia Paralel Fisika Diangkat dalam Serial Stranger Things

Bagaimana Teori Dunia Paralel Fisika Diangkat dalam Serial Stranger Things
Stranger Things adalah serial Netflix yang bercerita tentang dunia paralel bernama Upside Down yang penuh dengan monster menakutkan. Meskipun cerita dan karakternya fiksi, konsep dunia paralel yang digunakan dalam seri ini berakar pada teori fisika nyata yang dikenal sebagai interpretasi many-worlds dalam mekanika kuantum. Teori many-worlds diajukan oleh fisikawan Amerika, Hugh Everett, pada tahun 1950-an. Teori ini menjelaskan bahwa ketika sebuah sistem kuantum diukur, alam semesta sebenarnya bercabang ke berbagai versi, masing-masing mewakili semua hasil yang mungkin dari pengukuran itu, menciptakan banyak dunia paralel. Perdebatan antara banyak fisikawan tentang teori ini berpusat pada masalah bagaimana superposisi kuantum berubah menjadi satu hasil setelah diukur. Interpretasi Copenhagen yang lama percaya hasil dipilih secara probabilistik, sementara many-worlds mengatakan semua hasil tersebut nyata di cabang berbeda. Meskipun dianggap elegan dan sesuai data oleh sebagian ilmuwan, banyak juga yang skeptis karena teori ini sulit dibuktikan lewat eksperimen dan tidak bisa menunjukkan interaksi antara dunia paralel tersebut. Ini membuat teori ini masih kontroversial di kalangan ilmuwan. Penjelasan fisika dalam Stranger Things membuat tayangan tersebut bukan hanya hiburan, tapi juga memicu minat pada konsep fisika kuantum yang kompleks. Ini membantu orang memahami bahwa topik seperti dunia paralel bukan hanya fantasi, tapi bagian dari diskusi ilmiah nyata.