
Belakangan ini, kecerdasan buatan (AI) menunjukkan kemajuan dalam memecahkan masalah matematika rumit seperti menemukan fungsi Lyapunov yang menentukan stabilitas sistem dinamik. Salah satu prestasi menonjol datang dari perusahaan teknologi besar seperti Meta dan DeepMind yang mengklaim berhasil menyelesaikan beberapa masalah yang sebelumnya dianggap tak terselesaikan oleh manusia.
Namun, para ahli matematika secara luas masih skeptis dengan klaim tersebut. Walaupun AI berhasil menyelesaikan tugas lebih baik daripada algoritma pendahulu, seperti menyelesaikan 10,1% masalah dibandingkan 2,1% sebelumnya, AI masih jauh dari mampu bersaing dengan matematikawan terbaik, dan kerap membutuhkan bantuan manusia dalam prosesnya.
AI juga telah diuji dalam Olimpiade Matematika Internasional, kejuaraan bergengsi bagi pelajar matematika, dengan hasil yang mengesankan tetapi tidak cukup untuk menyebut AI sebagai jenius. Misalnya, sistem AI terbaru berhasil memecahkan lima dari enam soal dengan nilai setara medali emas, namun AI membutuhkan waktu dan bantuan manusia dalam menerjemahkan soal ke bahasa komputer.
Beberapa matematikawan ternama, seperti Terence Tao, optimis AI akan segera dapat memecahkan ribuan konjektur matematika sekaligus dalam beberapa tahun mendatang, membuka era baru penelitian matematika. AI juga sudah membantu menemukan hipotesis baru yang menghubungkan berbagai cabang matematika, meski masih perlu manusia untuk memverifikasi dan membuktikannya secara tepat.
Secara keseluruhan, meski AI belum menggantikan matematikawan manusia, teknologi ini diprediksi akan menjadi alat penting yang mengubah cara riset matematika dilakukan. Para ahli sepakat bahwa matematika tidak akan punah, tapi akan berevolusi dengan kolaborasi erat antara manusia dan AI untuk memecahkan masalah yang sebelumnya tak terbayangkan.