Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Guncangan Politik dan Ekonomi China

Share

Berbagai peristiwa mulai dari pengungkapan korupsi hingga tekanan ekonomi dan kebijakan geopolitik menunjukkan bahwa China sedang menghadapi periode turbulensi yang mempengaruhi dinamika global di bidang bisnis dan teknologi.

12 Feb 2026, 17.25 WIB

China Gunakan AI Untuk Perangi Korupsi Dalam Tender Proyek Publik

China Gunakan AI Untuk Perangi Korupsi Dalam Tender Proyek Publik
Pemerintah China kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengawasi proses tender proyek publik. Hal ini dilakukan karena jumlah tender yang sangat banyak membuat pengawasan manual menjadi tidak efektif dan rawan terjadi korupsi. Sistem AI yang dirancang bisa mendeteksi berbagai kejanggalan, seperti dokumen palsu, pengaturan tender, dan praktik suap. AI juga memberikan rekomendasi yang hampir setara dengan penalaran manusia untuk membantu aparat penegak hukum. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye antikorupsi Presiden Xi Jinping dan kebijakan terbaru yang melibatkan beberapa lembaga pemerintah guna memperketat pengawasan dan memanfaatkan big data. Hasil pemanfaatan AI sudah terlihat, seperti penangkapan Feng Jiang di Provinsi Zhejiang karena menerima suap ratusan ribu yuan. Ia terlibat dalam pengaturan tender dengan menyuap anggota komite penilai agar memenangkan pihak tertentu. Karena banyak proyek yang harus diawasi, penggunaan teknologi AI dan big data dianggap sebagai solusi praktis untuk memeriksa berbagai indikasi awal korupsi sehingga kasus bisa diungkap lebih cepat dan jelas.
06 Feb 2026, 21.40 WIB

AS dan China Tolak Aturan AI Militer, Negara Lain Tetap Komitmen

AS dan China Tolak Aturan AI Militer, Negara Lain Tetap Komitmen
Amerika Serikat dan China selama ini dikenal sebagai rival yang berjuang menguasai teknologi kecerdasan buatan, terutama dalam sektor militer. Meskipun rival, kedua negara justru tidak setuju bergabung dengan perjanjian yang mengatur penggunaan AI di medan perang. Ini menjadi perhatian karena AI semakin banyak digunakan dalam senjata dan peralatan militer canggih. Dalam KTT AI militer yang diadakan di A Coruna, Spanyol, hanya sepertiga dari 85 negara peserta yang setuju menandatangani komitmen untuk mengatur penggunaan AI secara bertanggung jawab. Negara-negara tersebut menetapkan prinsip seperti tanggung jawab manusia atas senjata bertenaga AI, pengendalian komando yang jelas, dan pentingnya pelatihan bagi personel militer. AS dan China, yang merupakan negara pengembang AI militer paling dominan, memilih keluar dari deklarasi ini. Ketegangan politik dan persaingan teknologi, terutama antara Eropa dan AS serta hubungan transatlantik yang tidak pasti, juga turut membuat beberapa negara ragu untuk menyepakati aturan yang mengikat terkait AI. Beberapa negara, seperti Kanada, Jerman, Prancis, Inggris, Korea Selatan, dan Ukraina, menjadi penandatangan utama komitmen di KTT tersebut. Mereka berupaya menyeimbangkan kecepatan pengembangan teknologi AI militer dengan pentingnya penerapan pengawasan dan aturan agar tidak terjadi kecelakaan atau kesalahan dalam pertempuran. Menurut Menteri Pertahanan Belanda, urgensi pengembangan AI militer semakin tinggi karena langkah cepat Rusia dan China. Namun, hal ini juga menambah urgensi untuk memastikan penggunaan yang bertanggung jawab. Ketidakpastian dan perbedaan kepentingan membuat kesepakatan internasional sulit dicapai dalam waktu dekat.
06 Feb 2026, 20.00 WIB

Produsen Komputer Besar Pertimbangkan Chip Memori China Atasi Krisis Pasokan

Produsen Komputer Besar Pertimbangkan Chip Memori China Atasi Krisis Pasokan
Industri teknologi global sedang menghadapi masalah besar yaitu krisis pasokan chip memori, terutama chip DRAM yang sangat penting untuk berbagai perangkat seperti laptop dan smartphone. Kekurangan ini berpotensi mengganggu produksi dan meningkatkan harga produk teknologi di pasar. Beberapa perusahaan besar seperti HP dan Dell kini sedang menguji chip memori dari produsen asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), sebagai alternatif jika pasokan dan harga chip dari sumber tradisional terus memburuk. Langkah ini diambil agar mereka dapat tetap meluncurkan produk dan memenuhi permintaan pasar. Selain HP dan Dell, produsen lain seperti Acer dan Asus juga menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan chip memori dari produsen China melalui mitra produksi mereka di negara tersebut. Hal ini menandakan adanya penyesuaian strategi rantai pasok agar tetap bisa bersaing di tengah tantangan global. Walaupun langkah ini dianggap belum resmi karena perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan komentar, potensi penggunaan chip dari China akan semakin besar jika kondisi pasokan dan harga chip memori tidak membaik hingga pertengahan 2026. Ini bisa menjadi perubahan besar dalam industri teknologi global. Secara keseluruhan, perusahaan teknologi sedang berupaya keras mencari solusi agar krisis pasokan tidak menghambat inovasi dan produksi mereka. Adanya alternatif dari produsen China bisa menjadi jalan keluar meski masih harus diawasi dari sisi kualitas dan keamanan.

Baca Juga

  • Ancaman Siber dan Pengawasan

  • Inovasi dan Risiko AI di Sektor Perusahaan dan Konsumen

  • Ekosistem Elektronik Konsumen yang Berkembang

  • Guncangan Politik dan Ekonomi China

  • Tantangan Mobilitas Otonom