
Courtesy of CNBCIndonesia
AS dan China Tolak Aturan AI Militer, Negara Lain Tetap Komitmen
Artikel ini bertujuan menginformasikan bahwa meskipun Amerika Serikat dan China adalah kekuatan besar dalam pengembangan AI militer, keduanya menolak mengikat diri dalam regulasi penggunaan AI di medan perang, sementara sepertiga negara peserta KTT AI militer berkomitmen untuk pengaturan yang bertanggung jawab demi menghindari risiko kesalahan dan eskalasi konflik.
06 Feb 2026, 21.40 WIB
89 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- AS dan China tidak menandatangani deklarasi untuk mengatur AI di medan perang.
- Sebagian besar negara setuju bahwa regulasi AI dalam konteks militer sangat penting untuk menghindari risiko.
- KTT AI militer menunjukkan kekhawatiran global terhadap penggunaan cepat teknologi AI tanpa pengawasan yang memadai.
A Coruna , Spanyol - Amerika Serikat dan China selama ini dikenal sebagai rival yang berjuang menguasai teknologi kecerdasan buatan, terutama dalam sektor militer. Meskipun rival, kedua negara justru tidak setuju bergabung dengan perjanjian yang mengatur penggunaan AI di medan perang. Ini menjadi perhatian karena AI semakin banyak digunakan dalam senjata dan peralatan militer canggih.
Dalam KTT AI militer yang diadakan di A Coruna, Spanyol, hanya sepertiga dari 85 negara peserta yang setuju menandatangani komitmen untuk mengatur penggunaan AI secara bertanggung jawab. Negara-negara tersebut menetapkan prinsip seperti tanggung jawab manusia atas senjata bertenaga AI, pengendalian komando yang jelas, dan pentingnya pelatihan bagi personel militer.
AS dan China, yang merupakan negara pengembang AI militer paling dominan, memilih keluar dari deklarasi ini. Ketegangan politik dan persaingan teknologi, terutama antara Eropa dan AS serta hubungan transatlantik yang tidak pasti, juga turut membuat beberapa negara ragu untuk menyepakati aturan yang mengikat terkait AI.
Beberapa negara, seperti Kanada, Jerman, Prancis, Inggris, Korea Selatan, dan Ukraina, menjadi penandatangan utama komitmen di KTT tersebut. Mereka berupaya menyeimbangkan kecepatan pengembangan teknologi AI militer dengan pentingnya penerapan pengawasan dan aturan agar tidak terjadi kecelakaan atau kesalahan dalam pertempuran.
Menurut Menteri Pertahanan Belanda, urgensi pengembangan AI militer semakin tinggi karena langkah cepat Rusia dan China. Namun, hal ini juga menambah urgensi untuk memastikan penggunaan yang bertanggung jawab. Ketidakpastian dan perbedaan kepentingan membuat kesepakatan internasional sulit dicapai dalam waktu dekat.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260206150938-37-708883/amerika-dan-china-bersatu-35-negara-kompak-bilang-begini
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260206150938-37-708883/amerika-dan-china-bersatu-35-negara-kompak-bilang-begini
Analisis Ahli
Ruben Brekelmans
"Percepatan pengembangan AI oleh Rusia dan China menimbulkan kebutuhan mendesak agar negara-negara lain juga cepat berinovasi, namun hal ini juga memperbesar urgensi penerapan penggunaan yang bertanggung jawab dan etis."
Analisis Kami
"Sikap AS dan China yang enggan terikat pada regulasi AI di militer menunjukkan bahwa kepentingan dominasi teknologi dan pertahanan masih mengalahkan prinsip keselamatan global. Ini memperlihatkan tantangan besar dalam diplomasi internasional untuk mengedepankan etika dan kontrol teknologi yang berpotensi destruktif."
Prediksi Kami
Ketidakpastian politik dan persaingan teknologi akan memperlambat tercapainya perjanjian internasional yang mengikat terkait pengaturan AI militer, sehingga risiko penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab dan kecelakaan dalam konflik bersenjata kemungkinan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.





