Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Ancaman Siber dan Pengawasan

Share

Berita ini mengulas isu-isu seputar privasi, pengawasan, dan serangan siber yang mengancam keamanan data serta mengundang kekhawatiran tentang pelanggaran privasi oleh perusahaan teknologi besar dan lembaga pemerintah.

07 Feb 2026, 01.02 WIB

Senator Ron Wyden Bunyi Alarm soal Aktivitas Rahasia dan Kontroversial CIA

Senator Ron Wyden Bunyi Alarm soal Aktivitas Rahasia dan Kontroversial CIA
Senator Ron Wyden, yang berperan penting dalam pengawasan intelijen AS, mengungkapkan kekhawatiran mendalam tentang beberapa aktivitas CIA yang sangat rahasia. Surat singkatnya tidak merinci penyebab kekhawatirannya, tetapi ini menambah daftar peringatan Wyden tentang masalah privasi dan legalitas dalam operasi pemerintah selama beberapa tahun terakhir. Wyden dikenal sebagai sosok yang mendapat akses khusus ke program pengawasan rahasia seperti yang dijalankan NSA dan CIA. Namun, ia dibatasi untuk tidak membocorkan detail mengenai program tersebut kepada publik atau mayoritas anggota kongres demi keamanan nasional. Oleh karenanya, setiap pernyataannya yang samar sering menjadi 'sirene' peringatan bagi organisasi privasi dan hak sipil. Sejarah menunjukkan peringatan Wyden tidak main-main. Pada 2011, ia mengindikasikan adanya interpretasi rahasia terhadap Patriot Act yang memungkinkan pengumpulan rekaman telepon jutaan warga tanpa diketahui publik. Setelah bocoran Snowden beberapa tahun kemudian, kekhawatiran tersebut terbukti benar. Wyden juga mengungkap bagaimana perusahaan teknologi dilarang memberitahukan pengguna tentang permintaan data rahasia pemerintah. CIA sendiri menanggapi pernyataan Wyden dengan sinisme, menyebut ketidakpuasan senator tersebut sebagai ‘lencana kehormatan’. Hal ini mempertegas ketegangan antara kebutuhan pemerintah akan kerahasiaan dan tuntutan publik untuk akuntabilitas. Meski demikian, tepatnya apa yang dikhawatirkan Wyden tentang CIA saat ini masih dirahasiakan. Dengan rekam jejak Wyden yang akurat dalam memperingatkan praktik pemerintah yang melanggar privasi dan hukum, publik dan organisasi advokasi diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan selanjutnya. Isu ini penting agar prinsip kebebasan dan hak asasi tetap terjaga di tengah perluasan operasi pengawasan negara.
06 Feb 2026, 07.15 WIB

Cara Mematikan Pelacakan Google untuk Lindungi Privasi Online Anda

Cara Mematikan Pelacakan Google untuk Lindungi Privasi Online Anda
Google memantau aktivitas pengguna melalui layanan seperti Gmail, Search, dan Android, yang membuat pengguna sering melihat iklan produk yang baru saja dibicarakan. Meski riwayat lokasi dimatikan, pemantauan ini tetap berlanjut tanpa henti. Hal ini menjadi perhatian karena privasi digital pengguna sangat tergantung pada pengaturan yang dilakukan di akun Google. Pengguna sebenarnya dapat menghentikan aktivitas pelacakan ini dengan mengubah pengaturan di akun Google mereka, khususnya melalui menu Activity Controls. Namun, data yang sudah tersimpan sebelumnya akan tetap ada dan hanya aktivitas di masa depan yang tidak akan dicatat. Ini berarti pengaruhnya baru terasa setelah pengaturan diubah. Google mengumpulkan beragam data pengguna, mulai dari nama, jenis kelamin, nomor ponsel, sampai aktivitas seperti pencarian Google, situs yang dikunjungi, serta video yang ditonton di YouTube. Pengguna dapat memeriksa dan mengelola data ini melalui pengaturan seperti Manage Ads Settings dan Google Maps untuk lokasi yang pernah dikunjungi. Selain mengubah pengaturan di Google, pengguna juga disarankan untuk rutin menghapus jejak digital di browser seperti Google Chrome, Mozilla Firefox, Safari, Microsoft Edge, dan Opera. Setiap browser memiliki cara berbeda dalam menghapus data seperti riwayat, cache, dan cookies yang membantu menjaga privasi pengguna. Meski menonaktifkan pelacakan Google akan mengurangi kemudahan dalam mendapatkan iklan dan rekomendasi yang relevan, hal ini penting untuk perlindungan data pribadi pengguna. Kesadaran akan pentingnya pengaturan privasi ini perlu ditingkatkan agar pengguna dapat menikmati internet dengan lebih aman dan nyaman.
06 Feb 2026, 02.00 WIB

Serangan Ransomware Lumpuhkan Sistem La Sapienza, Universitas Besar di Roma

Serangan Ransomware Lumpuhkan Sistem La Sapienza, Universitas Besar di Roma
Universitas La Sapienza di Roma, salah satu universitas terbesar di Eropa dengan sekitar 120.000 mahasiswa, mengalami gangguan sistem komputer selama tiga hari akibat serangan yang diduga ransomware. Universitas mematikan sistemnya sebagai tindakan pencegahan dan tengah berusaha mengembalikan layanan dari data cadangan yang tidak terpengaruh. Beberapa saluran komunikasi seperti email dan komputer kerja saat ini berfungsi terbatas, dan situs web universitas masih belum dapat diakses. Kelompok peretas yang belum dikenal sebelumnya, bernama Femwar02, diduga menggunakan malware BabLock dalam serangan ini. Hacker mengirimkan permintaan tebusan berupa link yang memiliki hitungan mundur selama 72 jam—hanya aktif jika link tersebut diklik oleh pihak universitas. Meskipun demikian, universitas tetap melaksanakan ujian dengan mekanisme pendaftaran langsung melalui dosen dan menyediakan titik informasi bagi mahasiswa di kampus. Institusi pendidikan sering menjadi target serangan siber, seperti contoh sebelumnya grup ShinyHunters yang meretas Harvard dan University of Pennsylvania tahun lalu untuk mencuri data tanpa mengenkripsi sistem. Kedua universitas tersebut tidak membayar tebusan kepada peretas. Saat ini, penyelidikan masih berlangsung oleh Badan Siber Nasional Italia dan universitas berupaya secepat mungkin memulihkan sistem agar mahasiswa dan staf dapat kembali menggunakan layanan digital tanpa gangguan.

Baca Juga

  • Inisiatif AI Meta yang Divergen

  • Ancaman Siber dan Pengawasan

  • Inovasi dan Risiko AI di Sektor Perusahaan dan Konsumen

  • Ekosistem Elektronik Konsumen yang Berkembang

  • Guncangan Politik dan Ekonomi China