Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Kemajuan Eksplorasi Antariksa dan Astronomi

Share

Kumpulan berita mengenai penemuan dan inovasi dalam eksplorasi antariksa, astronomi, serta teknologi pengamatan ruang angkasa yang mengubah pemahaman kita tentang alam semesta.

27 Jan 2026, 11.09 WIB

Bangunan yang Bisa Dilihat dari Luar Angkasa dan Mitos Tembok Besar China

Bangunan yang Bisa Dilihat dari Luar Angkasa dan Mitos Tembok Besar China
Banyak orang percaya bahwa Tembok Besar China bisa terlihat dari luar angkasa karena ukurannya yang sangat panjang, yakni lebih dari 21.000 km. Namun, astronaut dan ilmuwan luar angkasa menjelaskan bahwa meski panjang, Tembok Besar terlalu sempit dan warna serta bentuknya mengikuti lingkungan sekitarnya, sehingga tidak tampak dari ruang angkasa. Para astronaut dan pakar menyatakan hanya ada empat bangunan besar yang bisa dilihat dengan jelas dari luar angkasa, yaitu Palm Jumeirah di Dubai, Piramida Giza di Mesir, Bendungan Three Gorges di China, dan Tambang Bingham Canyon di Amerika Serikat. Masing-masing memiliki ukuran besar yang membuatnya tampak dari ketinggian luar angkasa. Palm Jumeirah, pulau buatan yang membentuk pola unik di Dubai, dapat terlihat dari Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan bantuan lensa telefoto. Begitu juga dengan Piramida Giza, yang meski ada pendapat berbeda, rupanya bisa diamati dengan alat bantu atau bahkan mata telanjang dengan kondisi yang tepat. Bendungan Three Gorges di Sungai Yangtze China adalah bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar dan paling mahal di dunia. Bendungan ini juga terlihat jelas dari luar angkasa karena ukurannya yang sangat besar. Sementara itu, Tambang Bingham Canyon di Amerika Serikat juga dapat dilihat tanpa alat bantu dari orbit bumi. Garis Karman menjadi batas resmi antara atmosfer bumi dan ruang angkasa. Informasi ini penting agar kita memahami di mana orbit satelit dan ISS berada, dan mengapa hanya bangunan tertentu yang bisa terlihat dari luar angkasa. Pengetahuan ini membantu menghilangkan kesalahpahaman dan memberikan wawasan baru yang menarik tentang pengamatan bumi dari antariksa.
24 Jan 2026, 01.40 WIB

Penemuan Jet Terpanjang dari Lubang Hitam Supermasif Ubah Pemahaman Evolusi Galaksi

Penemuan Jet Terpanjang dari Lubang Hitam Supermasif Ubah Pemahaman Evolusi Galaksi
Lubang hitam supermasif sangat penting dalam membentuk galaksi karena daya gravitasinya yang sangat kuat dan energi yang dilepaskan dari materinya. Energi tersebut kadang membuat pusat galaksi, yang dikenal sebagai Active Galactic Nucleus (AGN), menjadi sangat terang seperti mengalahkan seluruh bintang di galaksi tersebut. Selain itu, beberapa lubang hitam ini juga memancarkan jet berkecepatan tinggi dari kutubnya yang dapat mencapai jutaan tahun cahaya. Baru-baru ini, tim astronom dari Universitas California, Irvine dan Caltech menemukan jet terpanjang dan terluas yang pernah ada dalam sebuah galaksi bernama VV340a. Dengan menggunakan teleskop Keck di Hawaii, mereka menemukan jet ini memanjang hingga 20.000 tahun cahaya dan memiliki pola seperti tombak yang sejalan dengan inti galaksi tersebut. Pengamatan lanjutan menggunakan teleskop James Webb dan Very Large Array memperlihatkan adanya gas sangat panas di sekitar lubang hitam serta jet plasma yang berputar melingkar, sebuah pola langka yang menunjukkan bahwa jet ini mengalami presesi atau gerakan mengayun pelan. Jet ini juga sangat efektif menghentikan pembentukan bintang di galaksi dengan menghilangkan gas sekitar sebanyak 20 massa Matahari setiap tahun. Penemuan ini mengejutkan karena biasanya jet seperti ini ditemukan pada galaksi tua yang sudah tidak aktif membentuk bintang. Namun, VV340a masih menjadi galaksi muda yang sedang dalam proses penggabungan, menandakan bahwa fenomena ini bisa lebih umum dan terjadi juga di galaksi seperti Milky Way kita. Para astronom berencana melanjutkan penelitian dengan pengamatan radio resolusi tinggi untuk mengetahui apakah ada lubang hitam kedua yang mungkin menyebabkan jet ini bergetar. Penemuan ini membuka pandangan baru untuk memahami bagaimana galaksi berubah seiring waktu dan bagaimana lubang hitam supermasif bisa mempengaruhi seluruh galaksi.
23 Jan 2026, 23.15 WIB

Misteri Lubang Hitam Supermasif di Awal Alam Semesta Terungkap

Misteri Lubang Hitam Supermasif di Awal Alam Semesta Terungkap
Lubang hitam supermasif adalah monster kosmik yang memiliki massa jutaan hingga miliaran kali matahari, biasanya berada di pusat galaksi. Selama puluhan tahun, ilmuwan sulit memahami bagaimana objek ini bisa tumbuh sangat besar dalam waktu singkat di alam semesta muda. Model terdahulu menganggap lubang hitam ini berasal dari runtuhnya bintang besar dan penggabungan lubang hitam kecil, namun hal ini tidak mampu menjelaskan keberadaan lubang hitam raksasa yang sudah ada sejak ratusan juta tahun setelah Big Bang. James Webb Space Telescope (JWST) berhasil mendeteksi lubang hitam besar yang ada sangat awal di alam semesta. Salah satu contohnya adalah galaksi UHZ1 dengan lubang hitam seberat 40 juta massa matahari saat alam semesta baru berusia 470 juta tahun. Data dari JWST dan observatorium sinar X Chandra menunjukkan keberadaan lubang hitam sangat besar dan terang yang semakin menguatkan teori lubang hitam direct-collapse, yakni pembentukan lubang hitam langsung dari awan gas dan debu yang sangat besar tanpa melewati tahap bintang. Penemuan 'little red dots' oleh JWST, benda-benda kecil berwarna merah yang sangat padat dan cerah, memunculkan dugaan bahwa mereka bukan galaksi biasa melainkan lubang hitam supermasif tanpa galaksi pendamping yang terlihat. Objek seperti QSO1 yang masif tapi tanpa tanda galaksi tuan rumah menantang pandangan lama tentang bagaimana lubang hitam harus selalu berada di pusat galaksi besar. Selain itu, konsep quasistar atau bintang lubang hitam, suatu tahap evolusi di mana lubang hitam tertutup oleh lapisan gas yang panas, mulai mendapat bukti observasi dari objek 'The Cliff'. Teori lain yang masih dipertimbangkan adalah lubang hitam primordial yang terbentuk dari gumpalan materi padat di saat-saat sangat awal alam semesta, sebelum terbentuknya bintang dan galaksi. Para ilmuwan kini percaya model pembentukan lubang hitam supermasif kemungkinan besar kombinasi dari berbagai mekanisme tersebut. Misi luar angkasa masa depan seperti teleskop Euclid dan Nancy Grace Roman Space Telescope diharapkan akan memberikan data lebih lengkap untuk membedakan mana mekanisme yang paling umum dalam pembentukan lubang hitam raksasa ini dan memperdalam pengetahuan kita tentang awal mula alam semesta.
23 Jan 2026, 23.00 WIB

Space Beyond Hadirkan Layanan Kirim Abu Jenazah ke Luar Angkasa Murah

Space Beyond Hadirkan Layanan Kirim Abu Jenazah ke Luar Angkasa Murah
Ryan Mitchell, mantan insinyur NASA dan Blue Origin, mendapat ide untuk membuat layanan pengiriman abu jenazah ke luar angkasa setelah menghadiri upacara abu keluarga. Dia ingin memperbaiki cara tradisional dengan solusi yang lebih terjangkau dan bermakna. Space Beyond menggunakan CubeSat kecil untuk mengirim abu dari hingga 1.000 orang sekaligus ke orbit sun-synchronous sekitar 550 kilometer. Peluncuran dijadwalkan Oktober 2027 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Layanan ini sangat terjangkau dengan harga mulai dari Rp 4.16 juta ($249) , jauh lebih murah dibandingkan dengan layanan sejenis yang biasanya menelan biaya ribuan dolar. Ini dimungkinkan berkat model ride-share dan pengoperasian secara bootstrapped. CubeSat hanya akan berada di orbit selama sekitar lima tahun dan nantinya akan terbakar di atmosfer Bumi, memberikan penghormatan simbolis yang indah meskipun tidak dapat dilihat oleh banyak orang. Abu tidak akan disebarkan secara fisik di orbit untuk menghindari sampah antariksa. Mitchell mengatakan bahwa ide ini tidak hanya bisnis, tapi juga tentang momen emosional keluarga dan pengalaman yang lebih baik untuk mengenang orang tercinta. Space Beyond ingin membawa inovasi ke sektor tradisional yang biasanya mahal dan rumit.
23 Jan 2026, 17.00 WIB

Mars Pernah Berubah Jadi Planet Biru dengan Samudra Luas di Belahan Utara

Mars Pernah Berubah Jadi Planet Biru dengan Samudra Luas di Belahan Utara
Penelitian terbaru dari Universitas Bern mengungkapkan bukti kuat bahwa Mars pernah memiliki samudra yang membentang luas di belahan utaranya. Temuan ini didapatkan melalui analisis gambar resolusi tinggi dari beberapa wahana antariksa yang mengabadikan struktur delta sungai mirip di Bumi, terutama di kawasan Valles Marineris. Valles Marineris adalah lembah terbesar di Mars yang lima kali lebih panjang dari Grand Canyon di Bumi. Pada tepi lembah ini, para ilmuwan menemukan deposit yang tampak seperti delta sungai yang terbentuk saat sungai mengalir ke dalam badan air yang besar, membentuk garis pantai purba. Delta sungai ini terbentuk sekitar 3,37 miliar tahun lalu dan ditemukan pada ketinggian seragam antara 3,650 hingga 3,750 meter di atas permukaan Mars. Kesamaan ketinggian ini mendukung teori adanya sebuah samudra luas yang pernah menutupi sebagian besar wilayah utara planet tersebut. Penemuan ini juga sejalan dengan data sebelumnya yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan air di Mars, seperti 'blueberry stones' yang kaya air dan jejak sungai yang ditemukan oleh rover Curiosity. Dengan bukti baru ini, para ilmuwan semakin yakin bahwa Mars memiliki sejarah geologis yang kaya akan air. Kesimpulan ini memperluas pemahaman kita tentang sejarah planet Mars dan membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut terkait potensi kehidupan purba di Mars serta membekali misi manusia masa depan untuk mengeksplorasi lingkungan yang dulu kaya air.
23 Jan 2026, 14.25 WIB

Suni Williams Pensiun Setelah Terdampar 9 Bulan di Luar Angkasa

Astronaut NASA, Suni Williams, memilih untuk pensiun setelah 27 tahun bertugas, menyusul perjalanan luar angkasanya yang luar biasa dan penuh tantangan. Keputusan ini diambil kurang dari setahun setelah ia dan rekan astronotnya, Butch Wilmore, mengalami pengalaman tak terlupakan dengan terdampar selama sembilan bulan di luar angkasa akibat masalah teknis pesawat. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2024 saat Williams dan Wilmore melakukan penerbangan menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang semula direncanakan hanya berlangsung selama satu minggu saja. Namun, gara-gara pesawat Starliner milik Boeing mengalami masalah saat proses penyambungan, mereka akhirnya harus menghabiskan waktu total selama 286 hari di luar angkasa. Pada akhirnya, kedua astronaut itu kembali ke Bumi pada Maret 2025 dengan menggunakan kapsul Dragon milik SpaceX bersama dua astronaut lainnya. Williams mengungkapkan bahwa pengalaman sebelumnya sangat membantunya dalam pemulihan fisik dan mental setelah perjalanan panjang tersebut. Williams bergabung dengan NASA sejak tahun 1998 dan selama kariernya telah mengikuti tiga misi ke ISS, termasuk yang pertama menggunakan pesawat ulang alik Discovery pada tahun 2026. Selama 27 tahun, dia telah menghabiskan total 608 hari di luar angkasa dan mencatat waktu berjalan di antariksa terlama dengan durasi 62 jam 6 menit. Suni Williams disebut sebagai pelopor penerbangan luar angkasa berawak oleh Administrator NASA Jared Isaacman, yang menilai bahwa kiprah Williams telah membuka jalan bagi misi-misi komersial menuju orbit Bumi rendah di masa depan. Williams sendiri merasa menjadi kehormatan besar dapat berkontribusi dalam eksplorasi luar angkasa, yang menurutnya adalah tempat favoritnya.
23 Jan 2026, 07.00 WIB

Neutrino Energi Tinggi Deteksi Pertama, Mungkinkah Dari Ledakan Black Hole Primordial?

Tiga tahun lalu, sebuah neutrino dengan energi sangat tinggi terdeteksi oleh KM3NET, sebuah detektor neutrino di Laut Mediterania dekat Sicilia, Italia. Neutrino ini 35 kali lebih energik dari neutrino lain yang pernah diamati sebelumnya, sehingga asalnya menjadi misteri besar bagi para ilmuwan. David Kaiser, seorang fisikawan dari MIT, mengajukan kemungkinan bahwa neutrino ini berasal dari ledakan black hole primordial yang melepaskan radiasi dan partikel energi tinggi sebelum menghilang. Black hole primordial merupakan black hole yang diyakini terbentuk di awal alam semesta melalui lonjakan densitas ruang-waktu yang ekstrem. Teori black hole primordial sudah ada sejak tahun 1960-an dan dikembangkan oleh Stephen Hawking, yang juga merumuskan konsep radiasi Hawking—proses penguapan black hole yang melepas partikel dan energi dengan cepat saat black hole mendekati akhir masa hidupnya. Namun, keberadaan black hole primordial masih kontroversial karena model kosmologis membutuhkan penyetelan parameter yang sangat tepat untuk bisa sesuai dengan pengamatan yang ada. Para ilmuwan masih mencari bukti lebih kuat dan cara baru untuk mendeteksi keberadaan black hole primordial ini, termasuk melalui sinyal neutrino dan gelombang gravitasi. Meski skeptisisme ada, beberapa ahli berharap bahwa penemuan neutrino ini bisa menjadi bukti pertama dari ledakan black hole primordial. Penelitian lanjutan dan pengamatan lebih intensif dalam beberapa tahun ke depan mungkin akan memberi jawaban apakah black hole primordial nyata dan apakah mereka bisa menjelaskan misteri materi gelap alam semesta.
22 Jan 2026, 22.00 WIB

Orbit Semakin Padat, Starlink Harus Lakukan Ribuan Manuver Hindari Tabrakan

Orbit Bumi rendah kini semakin padat dengan banyaknya satelit dan puing ruang angkasa yang berserakan. Kondisi ini menyebabkan risiko tabrakan tinggi, sehingga operator satelit harus rutin melakukan manuver penghindaran agar satelit tidak rusak. Manuver seperti ini mengkonsumsi bahan bakar dan memperpendek umur satelit. SpaceX, melalui konstelasi satelit internet besar mereka yang disebut Starlink, menghadapi tantangan besar dalam menjaga satelitnya agar tetap aman di orbit. Dalam enam bulan terakhir tahun lalu, Satelit Starlink melakukan hampir 150 ribu kali manuver penghindaran tabrakan yang mengganggu operasional mereka. Salah satu penyebab utama adalah satelit eksperimental China bernama Honghu-2 yang memicu lebih dari seribu manuver penghindaran dari satelit Starlink. Selain itu, tujuh dari 20 objek ruang angkasa paling sering memicu manuver tersebut berasal dari China. Masalah ini memperlihatkan persaingan teknologi tinggi juga menimbulkan risiko keselamatan di orbit. Manuver penghindaran tabrakan yang banyak terjadi ini menjadi isu serius karena penggunaan bahan bakar yang meningkat drastis berdampak pada masa pakai satelit yang menjadi lebih singkat. Operator harus memperhitungkan biaya dan durasi operasional yang lebih rumit sebagai akibat kondisi orbit yang kurang terkendali. Dengan kondisi orbit yang semakin padat dan risiko tabrakan yang tinggi, penting bagi komunitas internasional untuk mengembangkan aturan dan standar pengelolaan ruang angkasa. Jika tidak, risiko gangguan layanan internet dan kerusakan satelit penting bisa terjadi, yang akan berdampak luas bagi teknologi dan komunikasi global.

Baca Juga

  • Inovasi Teknologi Medis dan Pengobatan

  • Kemajuan Eksplorasi Antariksa dan Astronomi

  • Kemajuan Solusi Energi Terbarukan

  • Peningkatan Ketahanan Melalui Pemantauan Lingkungan

  • Kontroversi Politik Global dan Debat Internasional