
Para peneliti menemukan adanya produksi oksigen dalam jumlah besar di dasar laut yang sangat dalam, sekitar 4.000 meter di bawah permukaan, dimana tidak ada cahaya matahari yang memungkinkan fotosintesis. Fenomena ini disebut sebagai ‘oksigen gelap’ dan bertentangan dengan pemahaman yang selama ini ada tentang produksi oksigen di bumi.
Tempat penemuan oksigen gelap ini adalah Zona Clarion–Clipperton, sebuah wilayah antara Hawaii dan Meksiko yang kaya akan polymetallic nodules, yaitu nugget logam kuno yang mengandung logam penting seperti mangan dan kobalt yang terbentuk selama jutaan tahun di dasar laut.
Para ilmuwan menduga nodule logam ini bisa bertindak sebagai katalis dalam proses pemisahan air menjadi oksigen dan hidrogen, mirip dengan teknologi elektro-kimia yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen. Namun, kemungkinan lain adalah bahwa mikroorganisme di dasar laut juga berkontribusi dalam produksi oksigen.
Untuk membuktikan hipotesis ini, tim peneliti mendapat pendanaan sebesar 5,2 juta dolar AS dari Nippon Foundation, dan akan mengirimkan instrumen khusus ke dasar laut untuk mengukur aktivitas oksigen dan pH air laut, yang merupakan indikator adanya proses pemisahan air.
Selain itu, percobaan juga akan dilakukan di laboratorium dengan kondisi tekanan tinggi sesuai dengan kedalaman laut untuk meneliti sifat katalitik dari nodule logam dan interaksi dengan mikroba, yang diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang siklus oksigen dan potensi teknologi ramah lingkungan.