Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Peningkatan Ketahanan Melalui Pemantauan Lingkungan

Share

Berita tentang inovasi teknologi dan inisiatif untuk memantau serta mengantisipasi bencana alam dan kerusakan lingkungan, dari deteksi gempa hingga pelacakan kualitas sungai.

28 Jan 2026, 07.00 WIB

Mengungkap Rahasia Produksi Oksigen Gelap di Dasar Laut Dalam

Mengungkap Rahasia Produksi Oksigen Gelap di Dasar Laut Dalam
Para peneliti menemukan adanya produksi oksigen dalam jumlah besar di dasar laut yang sangat dalam, sekitar 4.000 meter di bawah permukaan, dimana tidak ada cahaya matahari yang memungkinkan fotosintesis. Fenomena ini disebut sebagai ‘oksigen gelap’ dan bertentangan dengan pemahaman yang selama ini ada tentang produksi oksigen di bumi. Tempat penemuan oksigen gelap ini adalah Zona Clarion–Clipperton, sebuah wilayah antara Hawaii dan Meksiko yang kaya akan polymetallic nodules, yaitu nugget logam kuno yang mengandung logam penting seperti mangan dan kobalt yang terbentuk selama jutaan tahun di dasar laut. Para ilmuwan menduga nodule logam ini bisa bertindak sebagai katalis dalam proses pemisahan air menjadi oksigen dan hidrogen, mirip dengan teknologi elektro-kimia yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen. Namun, kemungkinan lain adalah bahwa mikroorganisme di dasar laut juga berkontribusi dalam produksi oksigen. Untuk membuktikan hipotesis ini, tim peneliti mendapat pendanaan sebesar 5,2 juta dolar AS dari Nippon Foundation, dan akan mengirimkan instrumen khusus ke dasar laut untuk mengukur aktivitas oksigen dan pH air laut, yang merupakan indikator adanya proses pemisahan air. Selain itu, percobaan juga akan dilakukan di laboratorium dengan kondisi tekanan tinggi sesuai dengan kedalaman laut untuk meneliti sifat katalitik dari nodule logam dan interaksi dengan mikroba, yang diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang siklus oksigen dan potensi teknologi ramah lingkungan.
25 Jan 2026, 18.45 WIB

Penelitian Sesar Cimandiri Tingkatkan Mitigasi Risiko Gempa di Jawa Barat

Penelitian Sesar Cimandiri Tingkatkan Mitigasi Risiko Gempa di Jawa Barat
Sesar Cimandiri kini menjadi perhatian utama di Jawa Barat karena merupakan salah satu sesar aktif yang dapat memicu gempa di wilayah Bandung Raya. Penelitian komprehensif sedang dilakukan oleh BRIN dan berbagai institusi untuk memahami karakteristik sesar ini agar mitigasi bencana bisa lebih efektif. Sesar ini membentang sekitar 100 kilometer mulai dari Pelabuhan Ratu sampai Padalarang. Meski sudah diteliti sebelumnya, riset tersebut belum cukup konklusif sehingga perlu pendekatan yang lebih terpadu menggunakan teknologi canggih seperti GPS, LiDAR, dan drone survei. Sesar Cimandiri pernah memicu gempa besar dengan dampak serius seperti kerusakan rumah dan infrastruktur transportasi. Catatan gempa dengan magnitudo di atas 5 dari tahun 1982 dan 2000 menunjukkan potensi aktivitas tektonik yang signifikan di daerah ini. Selama lima tahun ke depan, pengambilan data di 24 titik di sekitar sesar akan dilakukan untuk memetakan pergerakan sesar secara tepat. Penelitian ini membantu pemerintah dan masyarakat dalam merancang pembangunan yang lebih aman dan mengurangi risiko kerusakan akibat gempa. Kolaborasi antara BRIN dengan lembaga dalam dan luar negeri memperkuat riset ini. Hasilnya akan menjadi dasar pembaruan peta sumber gempa dan langkah mitigasi bencana, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan terhadap gempa bumi.
23 Jan 2026, 02.56 WIB

Metode Baru Untuk Melacak dan Melindungi Sungai yang Sangat Terancam

Metode Baru Untuk Melacak dan Melindungi Sungai yang Sangat Terancam
Masyarakat secara umum sangat peduli dan mendukung upaya perlindungan sumber air, terutama sungai, danau, serta saluran air yang menjadi sumber air minum. Namun, fakta menunjukkan perlindungan ekosistem air tawar, termasuk sungai, masih sangat kurang dibandingkan perlindungan ekosistem darat maupun laut. Hal ini karena metode pelacakan perlindungan yang ada belum mampu menangani kompleksitas sistem sungai yang unik. Sungai merupakan ekosistem yang dinamis dan saling terhubung sehingga dampak dari kegiatan di satu bagian sungai dapat mempengaruhi bagian lain. Metode pengukuran yang hanya menghitung panjang sungai dalam kawasan konservasi daratan tidak cukup untuk memastikan sungai benar-benar terlindungi. Akibatnya, perlindungan sungai seringkali tidak efektif dan konservasi gagal menjaga keberlangsungan ekosistem air tawar. Sebuah studi terbaru di jurnal Nature Sustainability mengusulkan Protected River Index (PRI), sebuah alat yang menggabungkan lima atribut ekologis utama sungai dan berbagai mekanisme perlindungan untuk memberikan gambaran perlindungan sungai yang lebih lengkap. Studi ini menemukan bahwa hanya sekitar 12% sungai di Amerika Serikat yang memiliki perlindungan cukup untuk keberlangsungan ekologis jangka panjang. Perlindungan sungai di AS juga tidak merata. Sungai di kawasan pegunungan dengan lahan publik mendapat perlindungan lebih baik dibandingkan sungai di daerah rendah dengan populasi manusia dan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi namun minim perlindungan. Karena itu, upaya konservasi harus difokuskan pada wilayah sungai yang menyediakan sumber air minum agar sesuai dengan prioritas masyarakat. Meski ada inisiatif seperti target global 30x30 dan program Freshwater Challenge yang menargetkan pemulihan ribuan kilometer sungai dan lahan basah pada 2030, perlindungan terhadap sungai masih menghadapi tantangan dari perubahan peraturan yang dapat memperlemah perlindungan aliran air kecil dan lahan basah. Oleh karena itu, metode pelacakan baru seperti PRI penting untuk memastikan pelaksanaan konservasi yang tepat sasaran dan didukung baik oleh masyarakat maupun kebijakan.

Baca Juga

  • Inovasi Teknologi Medis dan Pengobatan

  • Kemajuan Eksplorasi Antariksa dan Astronomi

  • Kemajuan Solusi Energi Terbarukan

  • Peningkatan Ketahanan Melalui Pemantauan Lingkungan

  • Kontroversi Politik Global dan Debat Internasional