
Tether, perusahaan di balik stablecoin terbesar dunia, USDT, memulai perubahan besar dengan meluncurkan USAT, stablecoin yang sesuai dengan regulasi Amerika Serikat. Hal ini dilakukan untuk bersaing dengan pesaing seperti Circle dan Fidelity yang juga memasuki pasar stablecoin dolar digital yang diatur secara ketat di AS.
Selama ini, Tether dikenal dengan image negatif terkait ketidakjelasan cadangan dan tuduhan penggunaan untuk aktivitas ilegal. Namun CEO Paolo Ardoino menegaskan bahwa Tether kini bekerja sama dengan berbagai agen penegak hukum AS untuk memantau dan membekukan dana ilegal, serta memiliki cadangan lebih dari cukup untuk menebus semua token mereka yang beredar.
USDT saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar 187 miliar dolar dan digunakan oleh lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, terutama mereka yang tinggal di negara dengan mata uang yang sangat terdepresiasi, seperti Argentina dan Haiti. Tether mengklaim telah memberikan akses keuangan bagi kelompok yang selama ini terabaikan oleh sistem keuangan tradisional.
Selain stablecoin, Tether juga mengembangkan produk lain seperti Tether Gold yang didukung oleh emas fisik senilai sekitar 24 miliar dolar. Perusahaan ini juga mulai bergerak ke bidang kecerdasan buatan melalui platform terdesentralisasi Qvac, yang ditargetkan untuk menjangkau pengguna di negara berkembang dengan teknologi yang lebih terjangkau.
Meskipun Tether telah berhasil mempertahankan operasinya meskipun menghadapi kritik dan kepanikan pasar, tantangan regulasi dan politik masih mengintai. Namun Ardoino optimistis bahwa inklusi finansial dan edukasi dapat membantu Tether menjadi bagian penting dari sistem keuangan digital global.