Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Finansial

Restrukturisasi Perusahaan dan Dinamika IPO Teknologi

Share

Cerita ini mengeksplorasi proses restrukturisasi perusahaan global dan dinamika penawaran umum perdana di berbagai sektor teknologi, termasuk tantangan dan peluang pasar di Asia.

13 Feb 2026, 11.55 WIB

Koreksi Saham AI dan Risiko Investasi Besar Teknologi di 2026

Koreksi Saham AI dan Risiko Investasi Besar Teknologi di 2026
Saham perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sempat naik tinggi kini mulai mengalami penurunan tajam. Para investor mulai menyadari bahwa investasi besar di bidang AI tidak selalu memberikan hasil yang pasti dan membawa risiko yang cukup besar. Hal ini memicu volatilitas pasar yang semakin tinggi. Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Amazon menjadi contoh saham yang mengalami tekanan harga karena kekhawatiran investor akan biaya besar yang harus dikeluarkan untuk pengembangan AI tanpa jaminan imbal hasil yang sepadan. Penurunan saham ini turut memengaruhi sektor jasa keuangan dan asuransi. Sektor jasa keuangan mengalami tekanan akibat adanya startup yang meluncurkan fitur perencanaan pajak berbasis AI, yang menyebabkan saham-saham seperti Charles Schwab dan LPL Financial turun. Selain itu, sektor asuransi seperti Willis Towers Watson ikut terdampak penurunan harga saham. Meskipun indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan kecil di tahun ini dan berada dekat pada rekor tertinggi, volatilitas pasar meningkat tajam. Saham-saham yang melemah turun lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan pasar semakin sensitif terhadap perkembangan dan risiko investasi AI. Para analis pasar menyarankan bahwa di tahun 2026, strategi investasi harus lebih selektif dan hati-hati dalam memilih saham. Fokus utama adalah menghindari saham yang berpotensi mengalami kerugian besar, menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami fase ketidakpastian dan perlombaan ketat antara perusahaan yang berhasil dan gagal dalam adopsi teknologi AI.
12 Feb 2026, 07.00 WIB

Unisplendour Batalkan Rencana IPO Hong Kong, Fokus Kembangkan H3C Lewat Penawaran Privat

Unisplendour Batalkan Rencana IPO Hong Kong, Fokus Kembangkan H3C Lewat Penawaran Privat
Unisplendour Corporation, sebuah perusahaan yang terafiliasi dengan Tsinghua Holdings, memilih untuk membatalkan rencana mereka melakukan penawaran saham perdana (IPO) di Bursa Saham Hong Kong setelah hampir satu tahun persiapan. Keputusan ini diumumkan secara resmi dalam sebuah pengumuman kepada Bursa Shenzhen, tempat perusahaan ini terdaftar. Alih-alih melanjutkan IPO, Unisplendour berencana menggalang dana sebesar 5,57 miliar yuan atau sekitar 800 juta dolar AS melalui penawaran saham pribadi di Bursa Shenzhen. Dana yang terkumpul ini akan digunakan untuk beberapa tujuan strategis, termasuk membeli saham tambahan sebanyak 7% di H3C Technologies. H3C Technologies adalah perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur digital seperti server AI, perangkat jaringan, dan solusi cloud. H3C awalnya adalah usaha patungan antara perusahaan teknologi 3Com dan Huawei. Pada tahun 2015, Unisplendour sudah mengakuisisi 51% saham perusahaan ini dengan nilai mencapai 2,3 miliar dolar AS. Selain pembelian saham, dana dari penawaran saham pribadi juga akan digunakan untuk membeli peralatan riset dan pengembangan (R&D) serta membayar kembali pinjaman yang ada. Dengan strategi ini, Unisplendour berupaya memperkuat kapasitas teknologi dan memperluas pengaruhnya di sektor infrastruktur digital. Perusahaan menegaskan bahwa pembatalan rencana IPO di Hong Kong tidak akan berdampak signifikan terhadap operasional bisnis mereka. Strategi baru ini diharapkan dapat mempercepat pengumpulan modal dan mendukung pertumbuhan jangka panjang bagi Unisplendour dan anak perusahaannya.
29 Jan 2026, 02.09 WIB

Once Upon a Farm Lanjutkan Rencana IPO dengan Target Dana Besar Tahun Ini

Once Upon a Farm Lanjutkan Rencana IPO dengan Target Dana Besar Tahun Ini
Once Upon a Farm, perusahaan makanan organik yang terkenal dengan produk makanan bayi dan camilan anak-anak, memutuskan untuk melanjutkan rencana penawaran umum perdana (IPO) setelah menunda prosesnya tahun lalu. Penundaan ini terjadi karena adanya shutdown pemerintah yang berdampak pada pasar modal. Pada Selasa, perusahaan mengajukan dokumen S-1 terbaru yang menunjukkan mereka akan membuka harga saham dalam kisaran Rp 283.90 ribu ($17) hingga Rp 317.30 ribu ($19) , menandakan bahwa proses IPO resmi berjalan kembali. Debut resmi di pasar saham diperkirakan akan berlangsung pada tanggal 6 Februari. Once Upon a Farm didirikan pada tahun 2015 dan memiliki beberapa pendiri termasuk Jennifer Garner yang terkenal sebagai aktris, bersama dengan Cassandra Curtis dan Ari Raz. Goldman Sachs dan J.P. Morgan menjadi bankir utama dalam proses IPO ini. Perusahaan berencana mengumpulkan dana minimal sebesar Rp 3.49 triliun ($208,9 juta) dengan valuasi perusahaan mencapai Rp 12.77 triliun ($764,4 juta) . Sebelumnya, mereka telah mengumpulkan hampir Rp 1.67 triliun ($100 juta) dari beberapa investor besar seperti S2G Ventures dan CAVU Consumer Partners. Proses IPO ini menandai kesempatan bagi Once Upon a Farm untuk memperbesar usaha dan meningkatkan penetrasi pasar, sekaligus menunjukkan tanda-tanda pemulihan di pasar IPO yang sempat lesu karena berbagai faktor ekonomi dan politik.
16 Jan 2026, 12.36 WIB

Kuaishou Terbitkan Obligasi Rp 33.40 triliun (US$2 Miliar) untuk Perkuat Bisnis Video Pendek

Kuaishou Terbitkan Obligasi Rp 33.40 triliun (US$2 Miliar)  untuk Perkuat Bisnis Video Pendek
Kuaishou Technology, platform video pendek terbesar kedua di Tiongkok, berencana mengumpulkan dana sebesar Rp 33.40 triliun (US$2 miliar) melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang, yaitu dolar AS dan yuan. Ini adalah kali pertama perusahaan menggunakan pasar utang luar negeri untuk memperkuat bisnisnya. Perusahaan akan menerbitkan obligasi dolar AS senilai Rp 25.05 triliun (US$1,5 miliar) dengan dua tenor berbeda, yaitu jatuh tempo pada 2031 dan 2036, dengan tingkat kupon masing-masing sebesar 4,125% dan 4,75%. Selain itu, ada juga obligasi yuan senilai 3,5 miliar yuan, yang setara dengan Rp 8.39 triliun (US$502,4 juta) , dengan kupon 2,45%. Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk keperluan umum perusahaan, meskipun tidak dijelaskan secara spesifik. Langkah ini diharapkan dapat membantu Kuaishou dalam mendukung investasi dan pengembangan bisnis di tengah persaingan sengit di sektor aplikasi video pendek. Kuaishou saat ini adalah aplikasi video pendek terbesar kedua di Tiongkok dan merupakan aplikasi mobile ketiga berdasarkan total waktu penggunaan pengguna harian yang tercatat sebanyak 416 juta pengguna aktif setiap hari pada kuartal terakhir. Sementara pesaing utama seperti Douyin dan WeChat Video masih menjadi ancaman serius. Meskipun persaingan ketat, Kuaishou terus menunjukkan pertumbuhan jumlah pengguna dan stabilitas waktu penggunaan. Menurut S&P Global Ratings, ini menunjukkan perusahaan berhasil mempertahankan daya tariknya di pasar yang kompetitif, memberi sinyal positif bagi investor dan pasar modal.
13 Jan 2026, 11.00 WIB

Hupo: Transformasi AI untuk Coaching Penjualan di Industri Keuangan

Hupo: Transformasi AI untuk Coaching Penjualan di Industri Keuangan
Justin Kim memulai perusahaan bernama Ami yang berfokus pada kesehatan mental dan bagaimana orang mengelola tekanan dan kebiasaan. Dari obsesinya pada olahraga dan performa manusia, dia mengembangkan ketertarikannya pada bagaimana performa bisa diterapkan di lingkungan kerja. Setelah melakukan riset dan mendapatkan pendanaan seed dari Meta, Kim menyadari bahwa software hanya efektif jika dapat menyatu dalam perilaku sehari-hari pengguna dan tidak menghakimi. Ide ini menjadi dasar pengembangan Hupo yang kini fokus pada coaching penjualan di sektor perbankan dan asuransi. Hupo menggunakan teknologi AI yang mampu memahami percakapan secara real-time untuk memberikan coaching yang konsisten dan scalable dalam industri yang sangat diregulasi. Hal ini penting karena tradisional coaching tidak dapat menjangkau semua karyawan dan manajer sulit memantau setiap percakapan penjualan. Hingga saat ini, Hupo sudah mengumpulkan total dana sebesar 15 juta dolar, termasuk putaran Series A senilai 10 juta dolar yang dipimpin DST Global Partners. Perusahaan ini melayani banyak pelanggan besar dari Asia Pasifik dan Eropa dan berencana memperluas pasar ke Amerika Serikat. Ke depannya, Kim berharap Hupo dapat mengembangkan platformnya lebih jauh untuk membantu tim besar bukan hanya dalam coaching penjualan tetapi juga dalam meningkatkan performa kerja secara menyeluruh dengan wawasan dan panduan praktis kepada manajer dan karyawan.

Baca Juga

  • Restrukturisasi Perusahaan dan Dinamika IPO Teknologi

  • Ketidakstabilan Crypto dan Penumpasan Penipuan Digital

  • Regulasi Keuangan Global dan Penumpasan Penghindaran Pajak

  • Layanan Keuangan Digital dan Tata Kelola di Era Fintech

  • Perlombaan Global AI dan Semikonduktor yang Mengubah Industri Teknologi