
Kuaishou Technology, platform video pendek terbesar kedua di Tiongkok, berencana mengumpulkan dana sebesar Rp 33.40 triliun (US$2 miliar) melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang, yaitu dolar AS dan yuan. Ini adalah kali pertama perusahaan menggunakan pasar utang luar negeri untuk memperkuat bisnisnya.
Perusahaan akan menerbitkan obligasi dolar AS senilai Rp 25.05 triliun (US$1,5 miliar) dengan dua tenor berbeda, yaitu jatuh tempo pada 2031 dan 2036, dengan tingkat kupon masing-masing sebesar 4,125% dan 4,75%. Selain itu, ada juga obligasi yuan senilai 3,5 miliar yuan, yang setara dengan Rp 8.39 triliun (US$502,4 juta) , dengan kupon 2,45%.
Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk keperluan umum perusahaan, meskipun tidak dijelaskan secara spesifik. Langkah ini diharapkan dapat membantu Kuaishou dalam mendukung investasi dan pengembangan bisnis di tengah persaingan sengit di sektor aplikasi video pendek.
Kuaishou saat ini adalah aplikasi video pendek terbesar kedua di Tiongkok dan merupakan aplikasi mobile ketiga berdasarkan total waktu penggunaan pengguna harian yang tercatat sebanyak 416 juta pengguna aktif setiap hari pada kuartal terakhir. Sementara pesaing utama seperti Douyin dan WeChat Video masih menjadi ancaman serius.
Meskipun persaingan ketat, Kuaishou terus menunjukkan pertumbuhan jumlah pengguna dan stabilitas waktu penggunaan. Menurut S&P Global Ratings, ini menunjukkan perusahaan berhasil mempertahankan daya tariknya di pasar yang kompetitif, memberi sinyal positif bagi investor dan pasar modal.