Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Finansial

Layanan Keuangan Digital dan Tata Kelola di Era Fintech

Share

Cerita ini membahas transformasi layanan publik dan keuangan digital melalui fintech, serta upaya peningkatan tata kelola dan inklusi keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia melalui inovasi digital dan kebijakan yang mendukung.

15 Feb 2026, 16.30 WIB

Cek Apakah NIK KTP Anda Disalahgunakan Untuk Pinjol Melalui SLIK OJK

Cek Apakah NIK KTP Anda Disalahgunakan Untuk Pinjol Melalui SLIK OJK
Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk sangat penting untuk dijaga kerahasiaannya. Di era digital saat ini, banyak penjahat siber menggunakan data pribadi tersebut untuk melakukan penipuan, terutama di layanan pinjaman online yang prosesnya terkadang hanya memakai data KTP tanpa verifikasi tambahan seperti swafoto. Penggunaan NIK secara ilegal dalam pinjaman online bisa membuat korban tidak sadar sampai muncul tagihan yang membebani mereka atau catatan kredit bermasalah yang berdampak buruk pada reputasi keuangan. Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat agar selalu waspada melindungi data pribadi. Untuk memastikan apakah NIK KTP Anda telah digunakan oleh orang lain dalam pengajuan pinjaman online, Otoritas Jasa Keuangan menyediakan sistem pengecekan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang bisa diakses secara online maupun dengan datang langsung ke kantor OJK. Cara pengecekan online melalui SLIK OJK mudah dilakukan dengan mengunjungi situs resmi atau aplikasi iDebku, mengisi formulir, mengunggah beberapa dokumen seperti KTP dan foto diri, kemudian menunggu proses verifikasi yang biasanya selesai dalam waktu sehari kerja. Hasil pengecekan akan dikirimkan melalui email yang telah didaftarkan. Jika memilih datang langsung ke kantor OJK, pemohon harus membawa dokumen sesuai jenis permohonan yang diinginkan. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui dan mengantisipasi penyalahgunaan NIK yang melibatkan pinjaman online tanpa izin, sehingga dapat menghindari kerugian finansial yang tidak perlu.
13 Feb 2026, 19.24 WIB

Bernardino Moningka Bangun AdaKami, Jembatan Kredit Untuk Masyarakat Mikro

Bernardino Moningka Bangun AdaKami, Jembatan Kredit Untuk Masyarakat Mikro
Bernardino Moningka Vega Jr dikenal luas dalam berbagai industri seperti keuangan, energi, kimia, dan properti. Dia kini memimpin AdaKami, sebuah perusahaan fintech lending yang berusaha membantu masyarakat mikro memperoleh akses kredit yang selama ini terbatas, terutama setelah krisis moneter 1997-1998 yang membuat bank menjadi lebih berhati-hati dalam memberi pinjaman. AdaKami berdiri sejak tahun 2018 dan memberikan pinjaman mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Ini sangat membantu para pelaku usaha kecil dan mikro yang membutuhkan modal cepat namun sulit mendapatkan pinjaman dari bank konvensional. Selain itu, industri fintech lending di Indonesia telah diatur secara jelas oleh Otoritas Jasa Keuangan sejak 2017 untuk membedakan lembaga finansial resmi dan pinjaman ilegal. Dalam melakukan penilaian kredit, AdaKami menggunakan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan dan algoritma berdasarkan data alternatif, seperti perilaku pembayaran listrik dan data digital lainnya. Hal ini memungkinkan mereka menilai peminjam secara lebih akurat tanpa harus mengandalkan sistem tradisional yang terkadang sulit diakses masyarakat kecil. Untuk mengurangi risiko gagal bayar, AdaKami memanfaatkan sistem penagihan robotik dan menghindari langkah-langkah yang mengganggu etika, seperti pelibatan kolektor lapangan. Tingkat wanprestasi sepanjang tahun tetap rendah di bawah 2%, dan jumlah pengguna aktif AdaKami sudah mencapai ratusan ribu orang, mencerminkan keberhasilan model ini. Bernardino menilai bahwa prospek industri fintech P2P lending di Indonesia sangat besar, terutama karena banyak masyarakat yang belum memiliki akses ke kredit perbankan. Namun, tantangan seperti literasi keuangan, pengendalian gagal bayar terorganisir, dan pemberantasan pinjol ilegal harus terus diusahakan agar ekosistem ini dapat tumbuh sehat dan bermanfaat luas.
04 Feb 2026, 15.09 WIB

BRI Perkuat Transformasi Digital dengan BRImo, Transaksi Meningkat Pesat

BRI Perkuat Transformasi Digital dengan BRImo, Transaksi Meningkat Pesat
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, atau BRI, terus memperkuat transformasi digital lewat program BRIVolution Reignite. Hal ini tercermin dari performa aplikasi Super Apps BRImo yang menunjukkan pertumbuhan basis pengguna dan volume transaksi digital secara signifikan hingga akhir 2025. Penggunaan BRImo oleh masyarakat mengalami peningkatan dengan jumlah pengguna mencapai 45,9 juta, naik sekitar 18,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah transaksi digital yang dilayani BRImo meningkat menjadi 5,60 miliar transaksi sepanjang tahun 2025. Dari sisi nilai transaksi, BRImo mencapai Rp7.057 triliun dengan pertumbuhan sebesar 26,1% dibandingkan tahun 2024. Hal ini menegaskan peran BRImo sebagai salah satu kanal utama transaksi ritel dalam mengakomodasi kebutuhan nasabah di berbagai segmen. Direktur IT BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendi, menyatakan penguatan kinerja BRImo berasal dari pengembangan infrastruktur teknologi yang terintegrasi dengan berbagai ekosistem layanan seperti ATM, QRIS, EDC dan BRILink Agen di seluruh Indonesia. Selain meningkatkan volume transaksi, transformasi digital BRI juga berfokus pada peningkatan kualitas layanan dan keamanan sistem agar tetap stabil dan dapat mendukung perluasan pembiayaan sektor produktif serta ekonomi kerakyatan di masa depan.
03 Feb 2026, 13.40 WIB

India dan China Bahas Pembayaran Digital Lintas Batas Demi Mudahkan Transaksi

India dan China Bahas Pembayaran Digital Lintas Batas Demi Mudahkan Transaksi
India dan China sedang berunding untuk membuka akses pembayaran lintas batas antara kedua negara dengan menghubungkan sistem Alipay+ serta Unified Payments Interface (UPI) India. Ini memungkinkan wisatawan India menggunakan UPI untuk bertransaksi dengan pedagang yang tergabung di Alipay+ saat berada di China. Kerja sama ini bertujuan mempermudah transaksi digital sehingga masyarakat dan diaspora kedua negara bisa melakukan pembayaran dalam mata uang Rupee India dengan biaya dan hambatan lebih rendah ketika berada di luar negeri. Namun, ada tantangan besar terkait aspek keamanan data dan infrastruktur digital, karena Alipay berasal dari China dan hubungan politik antara kedua negara sedang kurang baik. Pemerintah India masih mempertimbangkan risiko-risiko ini secara serius. Alipay+ sendiri sudah sangat luas digunakan oleh 1,8 miliar akun dan 150 juta pedagang di lebih dari 100 pasar di seluruh dunia, sementara UPI India memproses hampir 18 miliar transaksi setiap bulan dan menjadi sistem pembayaran populer di India. Jika kesepakatan tercapai, ini akan membuka era baru kemudahan pembayaran lintas batas di wilayah Asia, sekaligus tetap menjadi tantangan bagaimana menjaga keamanan serta stabilitas infrastruktur digital kedua negara yang sangat penting.
30 Jan 2026, 14.32 WIB

Indonesia Siap Jadi Raksasa Ekonomi Digital Asal Ada Eksekusi Regulasi Jelas

Indonesia Siap Jadi Raksasa Ekonomi Digital Asal Ada Eksekusi Regulasi Jelas
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital di Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh populasi yang besar, pemanfaatan teknologi yang semakin meluas, dan pasar domestik yang dinamis, sehingga menjadikan sektor ini sangat menjanjikan untuk investasi dan pengembangan. Bernardino Vega, CEO AdaKami, menekankan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi akan tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan. Peluang investasi utama berada di bidang e-commerce, kecerdasan buatan, dan teknologi finansial yang terus berkembang dalam ekosistem digital Indonesia. Meskipun peluangnya besar, tantangan utama yang saat ini dihadapi adalah bagaimana memastikan eksekusi kebijakan dan regulasi berjalan dengan baik. Kejelasan dan konsistensi dalam penerapan regulasi sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian yang bisa menghambat minat investor. Selain itu, penguatan infrastruktur keras seperti konektivitas yang andal dan energi ramah lingkungan, serta infrastruktur lunak seperti literasi digital dan kesiapan teknologi, menjadi sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital secara berkelanjutan di Indonesia. Dialog dan kolaborasi antara pelaku industri dan regulator juga menjadi kunci keberhasilan. Forum diskusi rutin, seperti dengan Otoritas Jasa Keuangan, diharapkan dapat menyelaraskan regulasi dengan perkembangan teknologi agar investor yakin dan tertarik untuk berinvestasi di sektor ini.

Baca Juga

  • Restrukturisasi Perusahaan dan Dinamika IPO Teknologi

  • Ketidakstabilan Crypto dan Penumpasan Penipuan Digital

  • Regulasi Keuangan Global dan Penumpasan Penghindaran Pajak

  • Layanan Keuangan Digital dan Tata Kelola di Era Fintech

  • Perlombaan Global AI dan Semikonduktor yang Mengubah Industri Teknologi