Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Penemuan Arkeologi dan Sejarah Kuno

Share

Kompilasi berita mengenai penemuan artefak kuno, situs pemakaman berusia ribuan tahun, dan temuan arkeologi yang memberikan wawasan baru tentang sejarah manusia purba.

16 Feb 2026, 00.16 WIB

Penemuan Sisa Gadis Berusia 11.000 Tahun Ungkap Tradisi Pra-Sejarah di Inggris Utara

Penemuan Sisa Gadis Berusia 11.000 Tahun Ungkap Tradisi Pra-Sejarah di Inggris Utara
Pada tahun 2023, para arkeolog menemukan sisa-sisa seorang gadis kecil yang diperkirakan berusia antara 2,5 hingga 3,5 tahun di Gua Heaning Wood Bone dekat Great Urswick, Cumbria. Sisa ini, yang dinamakan Ossick Lass, merupakan anak tertua yang pernah ditemukan di wilayah utara Inggris dengan usia sekitar 11.000 tahun. Penemuan ini sangat berharga karena memberikan gambaran tentang kehidupan manusia pasca Zaman Es di kawasan tersebut. Penelitian terhadap sisa-sisa tersebut menggunakan analisis DNA dan radiokarbon untuk memastikan usia dan jenis kelaminnya secara akurat. Penemuan perhiasan dan artefak seperti manik-manik kerang yang berlubang menunjukkan bahwa gadis kecil ini dikebumikan dengan cara yang terhormat dan berbudaya, menandakan adanya tradisi penguburan yang sudah ada sejak masa Mesolitik di wilayah tersebut. Gua Heaning Wood Bone sendiri telah menjadi lokasi penemuan berbagai sisa manusia dan hewan sejak 1958, yang menegaskan bahwa gua ini merupakan tempat penguburan dan aktivitas manusia sepanjang ribuan tahun. Diperkirakan terdapat minimal delapan individu di lokasi tersebut, dengan sisa-sisa yang berasal dari berbagai periode seperti Mesolitik, Neolitik Awal, dan Zaman Perunggu Awal. Studi ini juga menunjukkan adanya kontinuitas budaya selama ribuan tahun di kawasan utara dan barat Inggris, di mana tradisi penguburan manusia di dalam gua tidak terganggu meskipun terjadi perubahan iklim dan migrasi besar-besaran akibat Zaman Es. Tradisi ini menjadi bagian dari budaya yang lebih luas yang juga ditemukan di berbagai bagian Eropa. Penemuan Ossick Lass menambah pemahaman penting tentang bagaimana manusia prasejarah menggunakan gua sebagai tempat penguburan dan ritual. Hal ini juga memperlihatkan bahwa bahkan individu terkecil, seperti balita ini, memiliki peran penting dalam sejarah manusia dan budaya, membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang kehidupan dan tradisi manusia purba di masa lampau.
15 Feb 2026, 20.12 WIB

Penemuan Pedang Perunggu Oktagonal: Mengungkap Rahasia Keterampilan Zaman Perunggu

Penemuan Pedang Perunggu Oktagonal: Mengungkap Rahasia Keterampilan Zaman Perunggu
Para arkeolog di Jerman Selatan menemukan pedang perunggu oktagonal yang sangat langka dan berada dalam kondisi hampir sempurna. Pedang ini dikenal dengan nama Achtkantschwert yang berarti pedang delapan sisi, sebuah temuan yang mengundang kekaguman dan rasa ingin tahu tentang cara pembuatannya. Dengan menggunakan teknologi canggih di Berlin, para peneliti berhasil memindai pedang ini tanpa merusak bahan asli. Mereka menemukan bahwa bilah pedang menyatu dengan gagang menggunakan bagian tang yang diikat dengan rivet, sebuah teknik penyambungan yang canggih untuk zamannya. Yang menarik, di alur-alur gagang pedang ditemukan kawat tembaga yang ditanamkan untuk tujuan dekorasi. Ini menunjukkan bahwa pembuat pedang memiliki keahlian artistik tinggi karena menggabungkan tembaga merah dengan warna emas perunggu, memperlihatkan perbedaan warna yang mencolok dan indah. Peneliti juga menduga bahwa kawat tembaga ini diberi patina kimiawi untuk menegaskan kontras warna antara tembaga dan perunggu. Teknik ini sangat maju dan menandakan tingkat pemahaman tentang estetika dan teknik metalurgi yang tinggi pada Zaman Perunggu. Penelitian terhadap pedang ini masih terus berlanjut dengan harapan dapat menguak lebih dalam rahasia pembuatan dan teknik pandai besi zaman dahulu. Temuan ini memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah dan budaya kuno serta menunjukkan bahwa peradaban zaman itu memiliki keterampilan teknis yang luar biasa.
14 Feb 2026, 19.49 WIB

Penemuan Terkini Ungkap Praktik Menghitamkan Gigi di Vietnam Sudah Ada 2.000 Tahun Lalu

Penemuan Terkini Ungkap Praktik Menghitamkan Gigi di Vietnam Sudah Ada 2.000 Tahun Lalu
Para peneliti dari Australian National University berhasil menemukan bukti tertua praktik menghitamkan gigi di situs pemakaman Zaman Besi Dong Xa, Vietnam Utara. Temuan ini menghapus asumsi bahwa tradisi tersebut muncul baru pada akhir abad ke-19 dan menegaskan bahwa praktik ini telah ada sejak lama dalam sejarah budaya Vietnam. Melalui teknologi canggih seperti scanning electron microscopy dan portable X-ray fluorescence, para ilmuwan menemukan komposisi besi dan belerang di enamel gigi yang membentuk senyawa besi tanin. Ini menandakan bahwa pewarnaan gigi dilakukan secara sengaja dengan mengaplikasikan sebuah pasta khusus, bukan hanya efek samping dari mengunyah pinang. Untuk memastikan hipotesis mereka, para peneliti melakukan eksperimen dengan melapisi gigi hewan modern menggunakan campuran tinta besi-gall sesuai resep tradisional Vietnam. Hasilnya sangat mirip dengan temuan arkeologis, membuktikan bahwa teknik kompleks ini memang telah diterapkan sejak masa kuno. Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Zaman Besi memiliki akses luas ke sumber besi dan belerang, yang mereka gunakan dengan metode kimia rumit, termasuk pemanasan ekstrak tanaman kaya tanin untuk membuat pasta yang diaplikasikan ke gigi hingga mengilap. Proses ini menunjukkan tingkat inovasi dan pemahaman kimia yang tinggi pada masa itu. Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bahwa tradisi penghitaman gigi bukanlah praktik yang tersembunyi atau ditekan, melainkan mungkin sebuah simbol kebanggaan budaya yang dirayakan oleh masyarakat kuno, berbeda dengan pandangan modern yang sering menilai praktik ini secara negatif.
11 Feb 2026, 18.05 WIB

Nenek di Romania Temukan Amber Terbesar Dunia Bernilai 1 Juta Euro

Nenek di Romania Temukan Amber Terbesar Dunia Bernilai 1 Juta Euro
Seorang nenek di Rumania menemukan sebuah batu besar seberat 3,5 kilogram saat berada di sebuah sungai. Batu tersebut kemudian digunakan sebagai pengganjal pintu rumah tanpa ada yang mengetahui nilai sebenarnya dari batu itu. Setelah nenek tersebut meninggal pada tahun 1991, keluarganya mulai curiga terhadap batu tersebut. Ternyata batu itu adalah amber terbesar di dunia dengan nilai mencapai 1 juta euro atau sekitar Rp 19 miliar. Amber yang ditemukan adalah jenis rumanite, sebuah batu mulia berwarna merah tua yang sangat langka dan bernilai tinggi. Batu ini dilaporkan berusia antara 38 hingga 70 juta tahun. Amber jenis ini ditemukan di daerah aliran sungai Buzai, desa Colti, yang dikenal sebagai lokasi sumber amber di Rumania sejak tahun 1920. Keluarga nenek akhirnya menjual batu amber tersebut kepada pemerintah Rumania. Kini, amber tersebut menjadi salah satu koleksi harta karun nasional dan dipamerkan di museum sejarah di Krakow, Polandia. Direktur Museum of Buzau, Daniel Costache, menyatakan bahwa penemuan ini sangat penting dari sisi ilmu pengetahuan dan nilai museum. Penemuan ini memperlihatkan bagaimana benda biasa bisa memiliki makna ilmiah dan sejarah yang besar.
11 Feb 2026, 07.00 WIB

Komunitas Pemburu-Pengumpul di Eropa Bertahan Melawan Migrasi Petani dan Penggembala

Komunitas Pemburu-Pengumpul di Eropa Bertahan Melawan Migrasi Petani dan Penggembala
Selama ribuan tahun, sebagian besar Eropa bertransformasi dari gaya hidup pemburu-pengumpul menjadi masyarakat bertani dan beternak melalui migrasi besar dari wilayah Timur Tengah dan Eurasia. Namun, wilayah delta sungai Rhine–Meuse yang mencakup Belanda, Belgia, dan Jerman Barat, menjadi pengecualian dengan mempertahankan tingkat keturunan pemburu-pengumpul yang tinggi hingga ribuan tahun kemudian. Para ilmuwan genetika, termasuk David Reich dari Harvard, menganalisis DNA kuno dari 112 individu yang hidup antara 8.500 hingga 1.700 tahun sebelum sekarang. Mereka menemukan bukti kuat bahwa komunitas pemburu-pengumpul di area ini tetap bertahan secara genetik meskipun sebagian besar wilayah sekitarnya sudah mengadopsi pertanian dan peternakan yang dibawa oleh kelompok migran. Patut dicatat bahwa meski secara genetik bertahan, komunitas di wilayah Rhine–Meuse juga mengadopsi beberapa aspek budaya pertanian seperti peralatan dan pola pemakaman, yang menunjukkan adanya pertukaran budaya dengan kelompok lain. Studi juga menemukan bukti adanya bias jenis kelamin dalam pertukaran genetik ini, dengan perempuan petani lebih banyak bergabung ke komunitas pemburu-pengumpul. Para peneliti mengatakan wilayah rawa, hutan, dan rawa-rawa di Rhine–Meuse bisa menjadi faktor pembatas penyebaran pertanian berskala besar, sekaligus memudahkan komunitas berbasis air ini berkelanjutan dan berdampingan secara unik dari lingkungannya. Kontak dengan kelompok yang membawa keturunan stepa Eurasia juga terbatas di wilayah ini terutama pada masa awal masuknya budaya Bell Beaker sekitar 3.000 SM. Penemuan ini memperkaya pemahaman kita tentang sejarah populasi Eropa dan memperlihatkan bahwa migrasi kuno tidak selalu berarti penggantian total, melainkan menciptakan lapisan interaksi budaya dan genetik yang kompleks. Hal ini membuka peluang riset baru mengenai dinamika sosial yang mendorong perpaduan budaya, terutama peran perempuan dalam sejarah panjang Eropa.
11 Feb 2026, 07.00 WIB

Mengungkap Keberlangsungan Gen Pemburu-Pengumpul di Delta Rhine-Meuse Ribuan Tahun

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komunitas pemburu-pengumpul di wilayah delta sungai Rhine-Meuse, yang meliputi bagian Belanda, Belgia, dan Jerman, berhasil bertahan secara genetik selama ribuan tahun meskipun sebagian besar Eropa telah bertransformasi menjadi masyarakat petani dan pengembala sejak sekitar 9.000 tahun yang lalu. Wilayah ini terdiri dari rawa-rawa, kawasan sungai, dan pesisir yang sulit untuk pertanian, yang mungkin menjadi alasan mengapa komunitas pemburu-pengumpul bisa mempertahankan gaya hidup mereka lebih lama dibandingkan dengan wilayah sekitarnya seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Analisis genetika dari 112 individu yang hidup antara 8500 SM hingga 1700 SM menunjukkan bahwa para pemburu-pengumpul ini tetap mempertahankan tingkat genetika asli mereka yang tinggi, sementara juga terjadi sejumlah adaptasi budaya melalui interaksi dengan kelompok petani dan pemilik garis keturunan stepa. Studi ini juga menemukan bukti adanya bias jenis kelamin, di mana genetik petani dari Eropa kemungkinan besar masuk ke dalam komunitas pemburu-pengumpul melalui perempuan, yang menunjukkan perpindahan budaya dan sosial yang lebih kompleks daripada hanya pergeseran populasi. Penemuan ini membuka pertanyaan baru untuk para arkeolog tentang bagaimana perempuan petani dapat bergabung dengan masyarakat pemburu-pengumpul dan bagaimana hal itu mempengaruhi evolusi budaya serta genetik masyarakat tersebut di Eropa prasejarah.

Baca Juga

  • Astronomi, Eksplorasi Luar Angkasa, dan Penemuan Kuantum

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Inovasi Medis dan Bioteknologi

  • Dampak Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

  • Pengamatan Astronomi dan Fenomena Luar Angkasa yang Baru