Fokus
Sains

Fenomena Komet: Mengungkap Asal-usul Kehidupan dan Perjalanan Antarbintang

Share

Beberapa penelitian astronomi terbaru mengungkapkan fenomena komet dengan karakteristik luar biasa, mulai dari komet hijau yang akan terlempar ke ruang antarbintang, hingga komet yang membawa blok bangunan awal kehidupan. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti NASA dan tim astronomi internasional mengindikasikan peran komet dalam membentuk narasi tentang asal-usul kehidupan di alam semesta.

13 Feb 2026, 23.12 WIB

Komet Hijau Raksasa C/2024 E1 Mendekati Bumi, Akan Tinggalkan Tata Surya

Komet Hijau Raksasa C/2024 E1 Mendekati Bumi, Akan Tinggalkan Tata Surya
Sebuah komet berwarna hijau cerah dan berukuran sekitar kota kecil, yang dikenal sebagai C/2024 E1 (Wierzchoś), sedang mendekati Bumi dan akan bisa dilihat dengan teleskop maupun binocular. Komposisi unik komet ini, terutama kandungan karbon dioksida, membuatnya tampak hijau saat melintasi langit malam. Ditemukan oleh astronom Polandia Kacper Wierzchoś menggunakan teleskop kecil di Mount Lemmon Observatory, komet ini berasal dari awan Oort, sebuah wilayah jauh di tepi tata surya yang berisi banyak benda es dan komet. Orbitnya bersifat hiperbolik, artinya komet ini tidak akan kembali lagi setelah melewati dekat Matahari. Pada tanggal 20 Januari 2024, komet ini mencapai titik terdekat dengan Matahari, kemudian pada 17 Februari akan mencapai titik terdekat dengan Bumi sekitar 94 juta mil. Pengamatan lebih lanjut menggunakan teleskop James Webb memberikan informasi penting tentang ukuran dan kandungan gas pada komet ini. Diperkirakan dalam beberapa dekade atau abad ke depan, setelah melewati dekat Matahari, komet ini akan mendapatkan dorongan gravitasi yang cukup untuk terlempar keluar dari tata surya dan mengembara di ruang antar bintang. Fenomena ini mirip dengan apa yang dialami oleh komet antar bintang 3I/ATLAS sebelumnya. Tahun 2026 juga menjanjikan banyak aktivitas pengamatan komet dengan kedatangan beberapa komet potensial yang bisa terlihat tanpa bantuan teleskop. Keberadaan observatorium baru seperti Vera C. Rubin Observatory akan membantu mengidentifikasi lebih banyak objek menarik di langit kita.
10 Feb 2026, 02.53 WIB

Komet C/2026 A1 (MAPS) Bisa Jadi Bintang Cerah di Siang Hari Jika Bertahan

Komet C/2026 A1 (MAPS) Bisa Jadi Bintang Cerah di Siang Hari Jika Bertahan
Astronom berhasil menemukan sebuah komet baru bernama C/2026 A1 (MAPS) yang ternyata sangat unik karena akan sangat dekat dengan matahari. Komet ini berukuran sekitar 2,4 kilometer dan ditemukan di gurun Atacama, Chile. Saat awal ditemukan, posisi komet ini masih dua kali jarak Bumi ke matahari. C/2026 A1 masuk dalam kelompok besar komet Kreutz yang dikenal dengan julukan 'sungrazer', yaitu komet yang melintas sangat dekat dengan matahari dan biasanya hancur karena panas dan tekanan gravitasi yang amat tinggi. Komet Kreutz diyakini berasal dari sebuah komet besar yang pecah ribuan tahun lalu. Pada tanggal 4 April nanti, komet ini akan mencapai jarak terdekatnya dengan matahari, sekitar 800 ribu kilometer, yang sangat dekat dibandingkan dengan planet terdekat matahari, Merkurius. Jika komet ini dapat bertahan dari kondisi ekstrem tersebut, maka ia bisa tampil sangat terang dan bahkan terlihat dengan mata telanjang meskipun di siang hari. Selain itu, komet ini berpotensi mengeluarkan ekor yang indah seperti beberapa komet terkenal sebelumnya seperti Comet Ikeya-Seki dan Comet Lovejoy. Pengamatan terbaik akan dilakukan dari belahan bumi selatan, tapi orang di daerah utara juga bisa melihatnya saat matahari terbenam. Walaupun ada kemungkinan komet ini hancur saat mendekati matahari, jika bertahan dan menjadi sangat terang, ini akan menjadi fenomena langit yang luar biasa yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Sebuah komet lain bernama C/2025 R3 (PanSTARRS) juga diprediksi akan tampak jelas tak lama setelah itu.