Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Mengungkap Peradaban Kuno: Bukti-Bukti Baru dari Indonesia dan Tiongkok

Share

Penemuan-penemuan arkeologis baru dari Indonesia dan Tiongkok memberikan wawasan mendalam tentang asal-usul peradaban manusia. Cap tangan berusia 67.800 tahun yang ditemukan di RI, batu mulia yang menghubungkan ke kerajaan Shu, dan studi tentang umur peradaban Tiongkok membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas tentang evolusi budaya dan sejarah umat manusia.

14 Feb 2026, 14.41 WIB

Temuan Cap Tangan Tertua Dunia di Sulawesi Mengungkap Sejarah Manusia Purba

Temuan Cap Tangan Tertua Dunia di Sulawesi Mengungkap Sejarah Manusia Purba
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia yang diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun. Temuan ini ditemukan di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara dan dipublikasikan dalam jurnal Nature. Penelitian ini menunjukkan bahwa seni cadas tidak hanya terbatas pada stensil cap tangan, tetapi juga mencerminkan hubungan manusia dengan hewan, alam, dan aktivitas sosial, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kehidupan manusia purba. Kolaborasi penelitian antara BRIN dengan Griffith University dan Southern Cross University Australia menggunakan teknik terbaru seperti penanggalan laser-ablation uranium-series untuk memastikan umur lukisan gua tersebut dengan presisi tinggi. Temuan ini menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai koridor utama jalur migrasi manusia modern awal yang melintasi Asia Tenggara dan menuju Australia melalui dua rute utama, sehingga membuka wawasan baru tentang sejarah migrasi dan seni simbolik manusia. Penemuan ini tidak hanya penting bagi ilmu arkeologi Indonesia tetapi juga bagi dunia karena memperkuat pemahaman tentang sejarah seni tertua dan jalur migrasi manusia modern di kawasan Asia-Pasifik.
13 Feb 2026, 15.33 WIB

Misteri Karneol Sanxingdui: Batu Merah dari Jaringan Perdagangan Zaman Perunggu

Misteri Karneol Sanxingdui: Batu Merah dari Jaringan Perdagangan Zaman Perunggu
Di situs arkeologi Sanxingdui yang berlokasi di Cekungan Sichuan, Tiongkok, ditemukan 11 manik-manik karneol merah yang sudah berusia 3.000 tahun. Manik-manik ini ditemukan di dalam sebuah lubang pemujaan yang berisi berbagai artefak berharga seperti wadah perunggu dan gading gajah. Keberadaan batu merah yang dikenal sebagai karneol ini menjadi sebuah misteri karena batu ini jarang ditemukan di peninggalan prasejarah Cina pada masa itu. Karneol merupakan batu permata yang sangat dihargai di dunia kuno, terutama di wilayah seperti Lembah Indus, Timur Tengah, dan Mediterania. Namun, di Cina tradisional, warna merah lebih sering diwakili oleh bahan lain seperti oker atau cinnabar. Fakta bahwa karneol ditemukan di Sanxingdui menunjukkan adanya hubungan dan pertukaran budaya dengan wilayah lain. Sebelumnya, para ahli berhipotesis bahwa manik-manik karneol ini mungkin berasal dari dua jalur utama perdagangan, yaitu melalui Sungai Yangtze bagian tengah atau lewat jaringan perdagangan maritim dari Asia Selatan menuju wilayah Tiongkok barat daya. Hipotesis ini menandakan betapa luas dan kompleks jalur perdagangan kuno di wilayah ini. Penemuan ini penting karena membuka wawasan baru tentang bagaimana masyarakat Zaman Perunggu di Sanxingdui berinteraksi dengan dunia luar. Keberadaan karneol ini menunjukkan bahwa wilayah Sanxingdui bukanlah kawasan terpencil, melainkan bagian dari jaringan hubungan ekonomi dan budaya luas yang menghubungkan Asia dan dunia kuno lainnya. Dengan penelitian lebih lanjut, kemungkinan besar kita akan mendapatkan gambaran yang lebih rinci tentang rute perdagangan dan pertukaran budaya kuno di Asia. Ini akan membantu kita memahami bagaimana teknologi, kepercayaan, dan bahan berharga seperti karneol menyebar melintasi benua, serta kontribusi penting Sanxingdui dalam sejarah peradaban manusia.
08 Feb 2026, 05.37 WIB

Argumen Baru Sebut Peradaban Tiongkok Sudah Ada 8.000 Tahun Lalu

Argumen Baru Sebut Peradaban Tiongkok Sudah Ada 8.000 Tahun Lalu
Seorang arkeolog terkemuka asal Cina, Feng Shi, mengusulkan bahwa peradaban Tiongkok telah berlangsung selama 8.000 tahun, jauh lebih lama dari yang biasanya diterima secara umum yaitu sekitar 5.000 tahun. Ia mengajukan ide ini berdasarkan bukti-bukti terkait kemajuan kuno dalam astronomi dan teknik mengamati waktu. Menurut Feng Shi, penguasaan teknik astronomi kuno sudah dilakukan ribuan tahun sebelum kemunculan negara dan struktur pemerintahan yang lazim dianggap sebagai tanda terciptanya peradaban. Teknik ini sangat penting dalam menunjang kegiatan pertanian yang menjadi salah satu fondasi peradaban manusia. Pandangan tersebut menimbulkan perdebatan tentang bagaimana sebenarnya peradaban itu didefinisikan, apakah dari perkembangan politik dan sosial ataukah dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan seperti astronomi. Ada pula kritik yang menganggap upaya ini untuk memperpanjang sejarah Tiongkok dipengaruhi oleh motivasi politik. Feng Shi, yang merupakan anggota Chinese Academy of Social Sciences, mempublikasikan gagasan ini dalam artikel di Chinese Social Sciences Net. Argumennya menimbulkan dorongan baru dalam kajian arkeologi dan sejarah peradaban di Tiongkok sekaligus mengundang kritik dari beberapa kalangan ilmuwan. Meski kontroversial, gagasan Feng Shi membuka wawasan baru tentang bagaimana sejarah peradaban bisa dikaji dari berbagai sudut pandang. Hal ini juga mendorong diskusi intelektual mengenai metodologi penelitian sejarah dan definisi civilisasi yang selama ini telah diterima secara umum.

Baca Juga

  • Terobosan Teknologi Energi Nuklir yang Muncul

  • Menerobos Batas Astrofisika: Menguji Relativitas dan Paradigma Materi Gelap

  • Mengungkap Peradaban Kuno: Bukti-Bukti Baru dari Indonesia dan Tiongkok

  • Fenomena Komet: Mengungkap Asal-usul Kehidupan dan Perjalanan Antarbintang

  • Peringatan Bencana yang Meningkat di Indonesia: Mempersiapkan Diri untuk Skenario Apokaliptik