
Pada tahun 2025, investasi dari dana kekayaan negara, dana pensiun, dan bank sentral ke China mengalami penurunan besar, mencapai Rp 71.81 triliun (US$4,3 miliar) , turun 58 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 172.01 triliun (US$10,3 miliar) . Penurunan ini terutama disebabkan oleh ketatnya situasi politik dan geopolitik yang mempengaruhi keputusan investasi.
Investor-negara Barat seperti Kanada dan Eropa mulai mengurangi investasi mereka di China dan menahan diri dari membuat kesepakatan besar karena meningkatnya sensitivitas politik. Sementara itu, dana kekayaan negara China sendiri masih terus berkembang dan memperkuat hubungan dengan investor dari kawasan Teluk seperti Abu Dhabi dan Qatar.
Pada 2025, investor terbesar yang menanamkan modalnya ke China adalah Temasek dari Singapura dengan nilai investasinya mencapai Rp 21.71 triliun (US$1,3 miliar) , diikuti oleh Mubadala Investment dari Abu Dhabi dan Qatar Investment Authority. Meskipun volume investasi menurun, para investor ini tetap aktif mencari peluang yang muncul.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan adalah geopolitik teknologi. Banyak startup teknologi China saat ini sudah masuk dalam daftar sanksi AS sejak fase awal, sehingga dana kekayaan negara yang terkait pemerintah harus lebih berhati-hati dalam memilih investasi agar menghindari risiko politik dan sanksi.
Walaupun ada penurunan besar, para ahli percaya bahwa peluang investasi selektif tetap ada jika hubungan bilateral antara China dan negara lain dapat diperkuat. Dengan pendekatan yang lebih hati-hati dan strategi diversifikasi, investasi dari dana kekayaan negara dapat kembali tumbuh di masa mendatang.