AI summary
Proyek gas yang didukung Google berfokus pada penangkapan karbon, tetapi menimbulkan skeptisisme. CCS memiliki catatan keberhasilan yang buruk di AS, dengan banyak proyek gagal. Energi terbarukan seperti solar dan angin lebih murah dan tidak memiliki masalah polusi yang sama dengan pembangkit listrik berbahan bakar gas. Google baru-baru ini mengumumkan dukungannya terhadap sebuah proyek pembangkit listrik tenaga gas bernama Broadwing Energy Center di Illinois, Amerika Serikat, yang akan menggunakan teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Teknologi ini dirancang untuk menangkap karbon dioksida dari asap pembakaran dan menyimpannya di bawah tanah agar tidak mencemari atmosfer.Meskipun teknologi CCS ini terdengar seperti solusi untuk mengatasi perubahan iklim, ada banyak keraguan teknis dan finansial di baliknya. Banyak proyek CCS di Amerika Serikat sebelumnya gagal beroperasi secara ekonomi dan teknis, bahkan setelah pemerintah menghabiskan ratusan juta dolar untuk mendukungnya. Selain itu, biaya listrik dari pembangkit tenaga gas dengan CCS jauh lebih mahal dibandingkan pembangkit tenaga surya dan angin.Proyek Broadwing akan menghasilkan listrik berkapasitas 400MW, dan Google berencana membeli sebagian besar listrik yang dihasilkan setelah mulai beroperasi pada tahun 2030. Namun masalah lain muncul karena gas alam yang digunakan adalah metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dan berisiko bocor sepanjang rantai penghasilannya. Hal ini tidak ditangani oleh teknologi CCS di pembangkit tersebut.Selain itu, pembangkit listrik tenaga gas juga menghasilkan polutan lain yang dapat berbahaya bagi kesehatan masyarakat di sekitar. Ini membuat energi surya dan angin semakin menjadi pilihan yang lebih bersih dan lebih murah dibandingkan opsi pembangkit berbahan bakar fosil dengan CCS. Di sisi lain, dukungan politik terhadap energi terbarukan mulai berkurang di Amerika Serikat, dengan banyak insentif dialihkan ke teknologi CCS dan bahan bakar fosil.Google ingin mencoba solusi CCS ini untuk mengatasi kebutuhan energinya, terutama untuk pusat data yang konsumsi energinya sangat besar. Namun pertanyaannya tetap apakah investasi ini akan memperlambat peralihan ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, atau justru hanya menjadi jembatan teknologi dengan risiko memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Google tampaknya mengambil pendekatan pragmatis untuk memenuhi kebutuhan energi pusat data mereka sambil mencoba menampilkan solusi berkelanjutan yang belum sepenuhnya matang secara ekonomi atau lingkungan. Ini mencerminkan dilema besar teknologi transisi energi saat ini, di mana solusi sementara mungkin tetap membutuhkan pengorbanan bahkan di era perubahan iklim.