Fracking Jadi Tulang Punggung Energi Besar Pusat Data AI, Dampak Lingkungan Terabaikan
Teknologi
Kecerdasan Buatan
18 Okt 2025
194 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Perusahaan AI semakin bergantung pada energi fosil untuk memenuhi kebutuhan daya pusat data mereka.
Proyek pusat data seringkali menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang signifikan bagi komunitas lokal.
Ketergantungan pada gas alam dapat menimbulkan risiko finansial dan lingkungan jangka panjang bagi daerah yang terlibat.
Pusat data besar untuk kecerdasan buatan saat ini mulai dibangun di kawasan yang kaya gas alam hasil fracking, seperti di West Texas dan Louisiana. Perusahaan-perusahaan seperti Poolside, OpenAI, dan Meta memanfaatkan gas alam ini untuk menyediakan energi dalam jumlah sangat besar yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat data mereka. Fracking, yang sempat menjadi kontroversi karena dampak lingkungan, kini mendapat panggung baru sebagai sumber energi utama di era AI.
Proyek-proyek tersebut membutuhkan energi dalam skala gigawatt, setara dengan pembangkit listrik besar seperti Bendungan Hoover, dan membangun infrastruktur baru berupa pembangkit listrik berbahan bakar gas alam. Masyarakat lokal yang tinggal di sekitar tempat pembangunan ini merasa terganggu oleh aktivitas konstruksi yang mengubah lingkungan sekitar dan mengancam pasokan air bersih di daerah yang sudah dilanda kekeringan.
Pemerintah Amerika Serikat mendorong percepatan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam melalui kebijakan yang mempercepat perizinan dan menawarkan insentif finansial, sementara energi terbarukan kurang mendapat dukungan dalam konteks proyek ini. Alasannya adalah tekanan geopolitik, khususnya persaingan dengan China yang terus membangun kapasitas energi dalam jumlah besar untuk teknologi kecerdasan buatannya.
Namun, para peneliti menunjukan bahwa kapasitas listrik yang ada masih bisa dioptimalkan untuk menampung beban tambahan tanpa perlu membangun banyak pembangkit baru. Dengan pengelolaan beban puncak yang baik, kebutuhan listrik sektor data center bisa terpenuhi tanpa bergantung pada energi fosil lebih lanjut, memberikan peluang beralih ke energi terbarukan dan nuklir bersih di masa depan.
Sementara itu, masa depan energi untuk pusat data AI masih penuh ketidakpastian. Investasi besar telah mengalir ke teknologi energi baru seperti reaktor modular kecil dan fusi nuklir, namun transisi ini mungkin memakan waktu puluhan tahun. Dalam jangka menengah, masyarakat lokal yang terdampak dan pengeluaran besar untuk infrastruktur fosil dapat menjadi isu besar yang harus segera diatasi untuk memastikan perkembangan AI berkelanjutan.
Analisis Ahli
Shaolei Ren
Pemakaian teknologi pendingin tertutup yang diklaim hemat air justru menyebabkan konsumsi listrik lebih besar, sehingga berdampak pada penggunaan air secara tidak langsung di pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
