
Courtesy of TechCrunch
CISA Terpuruk: Kekurangan Staf dan Kepemimpinan Mengancam Keamanan Siber Nasional
Mengungkapkan bahwa CISA dalam kondisi krisis manajemen dan staf sehingga berisiko gagal menghadapi ancaman siber, serta menyoroti pengaruh kebijakan pemerintahan Trump terhadap penurunan performa agensi penting ini.
26 Feb 2026, 03.26 WIB
73 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- CISA mengalami pengurangan signifikan dalam jumlah staf yang memengaruhi kemampuannya.
- Kepemimpinan Madhu Gottumukkala di CISA dipertanyakan oleh beberapa pihak.
- Administrasi Trump diduga berperan dalam mengurangi prioritas keamanan siber di CISA.
Washington, United States - CISA, agensi keamanan siber AS yang bertanggung jawab menjaga keamanan jaringan pemerintah dan pemilu, saat ini menghadapi krisis besar akibat pemangkasan staf dan kurangnya kepemimpinan tetap. Sekitar sepertiga karyawannya hilang sejak pemerintahan Trump dimulai, menyebabkan banyak program penting terhenti.
Program kontra-ransomware dan keamanan pemilu sangat terdampak, bahkan beberapa anggota tim keamanan pemilu telah keluar. Banyak staf juga dipindahkan untuk membantu operasi imigrasi di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang dianggap mengurangi fokus CISA pada tugas utama mereka.
Pemerintahan Trump dianggap bertanggung jawab atas penurunan kondisi ini, terutama karena lebih memprioritaskan kebijakan imigrasi dan mencurigai CISA karena tidak mendukung klaim palsu mengenai hasil pemilu 2020. Pada akhirnya, CISA sekarang beroperasi dengan hanya sekitar 38% staf aslinya.
Kepemimpinan CISA juga menjadi masalah karena sejak 2025 tidak ada direktur permanen, dan pelaksana tugasnya, Madhu Gottumukkala, dinilai kurang efektif memimpin. Hal ini memperburuk situasi, terutama selama shutdown pemerintah yang membuat operasi semakin terbatas.
Meski begitu, CISA menegaskan komitmennya melindungi jaringan federal dari ancaman siber selama krisis saat ini. Namun, tanpa perbaikan segera dalam pendanaan dan kepemimpinan, keamanan nasional tetap berada dalam risiko besar dari serangan siber dan ancaman lain.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/02/25/us-cybersecurity-agency-cisa-reportedly-in-dire-shape-amid-trump-cuts-and-layoffs/
[1] https://techcrunch.com/2026/02/25/us-cybersecurity-agency-cisa-reportedly-in-dire-shape-amid-trump-cuts-and-layoffs/
Analisis Ahli
Richard Clarke (Mantan Penasihat Keamanan Siber Nasional AS)
"Pengurangan kapasitas seperti ini di agensi keamanan siber utama sangat berbahaya, memperbesar risiko serangan siber besar yang dapat melumpuhkan infrastruktur kritis pemerintahan."
Amy Hess (Direktur Federal Bureau of Investigation - Divisi Siber)
"Pemangkasan staf dan tidak adanya kepemimpinan tetap melemahkan deteksi dan respons ancaman siber, memperbesar celah keamanan yang bisa dieksploitasi musuh."
Analisis Kami
"CISA saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan dikarenakan kombinasi buruk dari kebijakan politik dan manajemen internal yang lemah. Tanpa perhatian serius terhadap penambahan staf dan pemulihan program prioritas, keamanan siber nasional akan sangat terancam di masa mendatang."
Prediksi Kami
Jika masalah ini tidak segera diatasi, CISA akan semakin tidak siap menghadapi krisis keamanan siber besar, berpotensi membahayakan jaringan pemerintahan dan keamanan pemilu di masa depan.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa masalah utama yang dihadapi CISA saat ini?A
CISA menghadapi masalah besar terkait pengurangan staf dan ketidakmampuan untuk menjalankan misi intinya.Q
Bagaimana pengaruh administrasi Trump terhadap CISA?A
Administrasi Trump dituding telah mengurangi anggaran dan sumber daya CISA, memengaruhi efektivitas lembaga.Q
Siapa Madhu Gottumukkala dan apa perannya di CISA?A
Madhu Gottumukkala adalah direktur sementara CISA yang dianggap tidak mampu memimpin lembaga dengan baik.Q
Mengapa staf CISA berkurang hingga sepertiga?A
Staf CISA berkurang hingga sepertiga akibat pemotongan anggaran dan penugasan ulang ke lembaga lain.Q
Apa yang dilakukan CISA untuk melindungi jaringan federal selama penutupan pemerintah?A
CISA tetap berkomitmen untuk melindungi jaringan federal meskipun mengalami tantangan akibat penutupan pemerintah.


