
Sebuah eksperimen penting baru-baru ini menguji kemampuan berbagai model kecerdasan buatan (AI) dalam mengelola investasi nyata di pasar mata uang kripto. Kompetisi ini melibatkan enam model AI utama dari perusahaan teknologi besar di AS dan China, dan dilakukan oleh firma riset AS bernama Nof1.
Dari semua model yang diuji, Qwen3-Max milik Alibaba Cloud berhasil mencatatkan hasil terbaik dengan meningkatnya nilai investasi sebesar 22,32% berdasarkan modal awal sebesar Rp 167.00 juta (US$10,000) dalam waktu hanya dua minggu. Ini menempatkan Qwen3-Max di posisi puncak dalam eksperimen tersebut.
Sementara itu, model lain dari China, DeepSeek V3.1 Chat, juga berhasil meraih keuntungan sebesar 4,89%. Namun sebagian besar model dari Amerika Serikat, termasuk OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan xAI, justru mengalami kerugian signifikan — dengan OpenAI GPT-5 menjadi yang paling buruk, kehilangan 62,66% dari modalnya.
Eksperimen ini hanya menggunakan data pasar kuantitatif tanpa memasukkan berita atau informasi eksternal lain, sehingga beberapa pengamat mempertanyakan seberapa baik hasil ini dapat diterapkan pada kondisi investasi dunia nyata yang kompleks dan dinamis.
Nof1 sendiri mengingatkan bahwa hasil awal ini bisa saja dipengaruhi oleh keberuntungan dan akan melakukan uji coba lebih lanjut dengan pendekatan statistik yang lebih ketat untuk memastikan validitas hasil di masa depan.