Fokus
Finansial

Investasi AI dan Pertumbuhan Teknologi

Share

Cerita ini membahas investasi di sektor AI yang dipadukan dengan inovasi teknologi dan dukungan dari sektor energi, yang bersama-sama mendorong pertumbuhan teknologi masa depan.

20 Feb 2026, 22.10 WIB

Peak XV Kumpulkan Dana 1,3 Miliar Dolar Fokus AI dan Startup Asia

Peak XV Kumpulkan Dana 1,3 Miliar Dolar Fokus AI dan Startup Asia
Peak XV mengumumkan penggalangan dana sebesar 1,3 miliar dolar AS untuk dana baru yang fokus pada pasar India dan Asia. Dana ini akan dipakai dalam waktu dua sampai tiga tahun mendatang, dengan mayoritas investasi dialokasikan untuk pasar India yang sedang berkembang pesat. Perusahaan ini memisahkan diri dari Sequoia Capital pada tahun 2023 agar dapat lebih fokus pada portofolio yang berpusat di India. Peak XV kini mengelola lebih dari 10 miliar dolar AS dengan ratusan perusahaan portofolio di sektor fintech, perangkat lunak, dan internet konsumen. Selain itu, Peak XV menyoroti pentingnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang, dengan lebih dari 80 perusahaan startup AI sudah mereka danai. Mereka juga memperhatikan peluang dari teknologi dalam bidang fintech dan konsumen, serta mulai melihat minat terhadap teknologi mendalam atau deep tech. Meskipun ada pergantian beberapa pemimpin senior baru-baru ini, mayoritas pimpinan masih terdiri atas tim yang berpengalaman lebih dari satu dekade. Hal ini memberikan fondasi yang kuat untuk keberlangsungan dan keberhasilan investasi yang mereka jalankan. Dalam konteks persaingan global dan regional, Peak XV menegaskan tidak berusaha melawan kompetitor dengan cara meningkatkan modal secara besar-besaran, melainkan memilih strategi investasi yang menghasilkan pengembalian tinggi dan berdampak jangka panjang, terutama di wilayah Asia dan India.
20 Feb 2026, 11.28 WIB

Mengapa Energi Fosil Jadi Kunci Investasi di Era Revolusi AI?

Mengapa Energi Fosil Jadi Kunci Investasi di Era Revolusi AI?
Revolusi teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan Midjourney telah membawa perubahan besar dalam dunia digital dan pasar modal. Namun di balik kecanggihan itu, AI memerlukan konsumsi energi yang sangat tinggi yang sering kali terlupakan. Setiap penggunaan AI membutuhkan listrik yang besar untuk pusat data yang terus berjalan sepanjang waktu. Energi fosil seperti gas alam dan batubara menjadi sangat penting karena mampu menyediakan listrik yang andal dan konsisten sebagai sumber daya kontinu bagi pusat data AI. Hal ini membuat perusahaan energi konvensional kembali menguntungkan dengan harga energi yang terjaga tinggi dan arus kas positif. Di sisi lain, energi terbarukan tidak kalah penting. Big Tech seperti Google dan Amazon berinvestasi besar melalui kontrak pembelian energi bersih untuk menjaga reputasi hijau sekaligus memenuhi kebutuhan listrik mereka. Teknologi nuklir generasi baru juga muncul sebagai alternatif energi bersih yang dapat menyediakan baseload. Selain energi, pembangunan jaringan listrik baru dan kebutuhan logam industri seperti tembaga juga mendapat dorongan yang kuat oleh revolusi AI karena infrastruktur pusat data dan transmisi listrik harus ditingkatkan. Investor pun dianjurkan mengadopsi strategi diversifikasi antara energi konvensional dan energi bersih. Ketegangan geopolitik memang memengaruhi pasokan energi, namun permintaan dari AI yang bersifat inelastis akan menjaga harga energi tetap tinggi dalam jangka panjang. Ini menjadi peluang besar bagi investor untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan sektor energi dan komoditas di era dominasi digital.
04 Nov 2025, 13.39 WIB

Model AI Alibaba Qwen3-Max Raih Untung 22% dalam Perdagangan Crypto Dua Minggu

Model AI Alibaba Qwen3-Max Raih Untung 22% dalam Perdagangan Crypto Dua Minggu
Sebuah eksperimen penting baru-baru ini menguji kemampuan berbagai model kecerdasan buatan (AI) dalam mengelola investasi nyata di pasar mata uang kripto. Kompetisi ini melibatkan enam model AI utama dari perusahaan teknologi besar di AS dan China, dan dilakukan oleh firma riset AS bernama Nof1. Dari semua model yang diuji, Qwen3-Max milik Alibaba Cloud berhasil mencatatkan hasil terbaik dengan meningkatnya nilai investasi sebesar 22,32% berdasarkan modal awal sebesar Rp 167.00 juta (US$10,000) dalam waktu hanya dua minggu. Ini menempatkan Qwen3-Max di posisi puncak dalam eksperimen tersebut. Sementara itu, model lain dari China, DeepSeek V3.1 Chat, juga berhasil meraih keuntungan sebesar 4,89%. Namun sebagian besar model dari Amerika Serikat, termasuk OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan xAI, justru mengalami kerugian signifikan — dengan OpenAI GPT-5 menjadi yang paling buruk, kehilangan 62,66% dari modalnya. Eksperimen ini hanya menggunakan data pasar kuantitatif tanpa memasukkan berita atau informasi eksternal lain, sehingga beberapa pengamat mempertanyakan seberapa baik hasil ini dapat diterapkan pada kondisi investasi dunia nyata yang kompleks dan dinamis. Nof1 sendiri mengingatkan bahwa hasil awal ini bisa saja dipengaruhi oleh keberuntungan dan akan melakukan uji coba lebih lanjut dengan pendekatan statistik yang lebih ketat untuk memastikan validitas hasil di masa depan.
03 Nov 2025, 08.54 WIB

Kevin Rose: Investasi AI Hardware Harus Jaga Privasi dan Rasa Sosial

Kevin Rose: Investasi AI Hardware Harus Jaga Privasi dan Rasa Sosial
Kevin Rose, seorang investor berpengalaman dari True Ventures, mengingatkan pentingnya mempertimbangkan perasaan dan privasi saat mengembangkan dan berinvestasi dalam perangkat keras AI, terutama wearable seperti kacamata pintar atau cincin AI. Ia menilai bahwa banyak produk saat ini terlalu menekan batasan sosial, seperti selalu aktif mendengarkan, sehingga menciptakan ketidaknyamanan sosial dan mengancam privasi pengguna. Pengalamannya mencoba berbagai wearable AI, termasuk Humane AI pendant, menunjukkan bagaimana teknologi yang selalu merekam atau mencatat percakapan bisa menimbulkan masalah pribadi, misalnya saat argumen keluarga terjadi dan perangkat digunakan untuk 'menang' dengan mengacu pada rekaman yang ada. Ini menunjukkan bahwa faktor emosional dan penerimaan sosial sangat penting dalam pengembangan produk AI. Rose juga mengkritik tren menggabungkan AI ke dalam berbagai produk tanpa memperhitungkan dampak jangka panjangnya terhadap realitas sosial, seperti fitur aplikasi foto yang dapat menghapus objek asli, yang berpotensi mengubah memori dan persepsi generasi mendatang. Ia membandingkan situasi ini dengan era awal media sosial yang penuh kesalahan dan penyesalan di kemudian hari. Namun, Rose sangat optimis bahwa AI akan merevolusi dunia startup dan venture capital dengan menurunkan banyak hambatan teknis. Ia membayangkan masa depan di mana proses pengembangan aplikasi akan sangat cepat dan bebas kesalahan berkat kemajuan AI seperti Google Gemini 3, sehingga memungkinkan lebih banyak pengusaha muda dan non-teknis untuk menciptakan bisnis besar tanpa kebutuhan pendanaan awal yang besar. Menurut Rose, peran utama venture capital akan bergeser ke dukungan emosional dan pendampingan jangka panjang, karena masalah nyata yang dihadapi pengusaha adalah masalah emosional dan sosial, bukan sekadar teknis. Ia mencari pendiri dengan ide-ide besar dan berani yang siap melawan skeptisisme, dan memberikan dukungan berkelanjutan untuk inovasi meski tidak selalu sukses di percobaan pertama.