
Sebuah model kecerdasan buatan dari Alibaba Cloud, Qwen3-Max, berhasil meraih keuntungan sebesar 22,32 persen dari modal awal sebesar 10.000 dolar AS hanya dalam waktu dua minggu saat mengikuti sebuah kompetisi perdagangan cryptocurrency. Kompetisi ini melibatkan enam model AI dari perusahaan ternama di Amerika Serikat dan China.
Dari enam model AI yang diuji, hanya dua yang berhasil menghasilkan keuntungan, yakni model dari Alibaba dan model V3.1 Chat milik DeepSeek. Model-model lain yang berasal dari perusahaan besar seperti OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan xAI justru kehilangan banyak uang selama masa pengujian, dengan OpenAI GPT-5 mengalami kerugian terbesar hingga mencapai 62,66 persen.
Tes ini dilakukan oleh perusahaan riset Nof1 melalui platform Alpha Arena, yang hanya menyediakan data pasar kuantitatif kepada model-model tersebut dan tidak memberikan akses pada berita atau informasi non-kuantitatif lainnya. Hal ini membuat sebagian pengamat meragukan seberapa besar hasil ini dapat diandalkan untuk skenario investasi nyata di dunia finansial yang kompleks.
Nof1 menegaskan bahwa hasil awal ini belum bisa dijadikan patokan pasti, karena kemungkinan besar hasil tersebut dipengaruhi oleh keberuntungan. Mereka berencana melanjutkan kompetisi dengan metode pengujian yang lebih ketat dan statistik yang lebih kuat agar hasilnya bisa lebih dapat dipercaya dan menggambarkan performa sesungguhnya model AI di pasar nyata.
Keberhasilan model Alibaba ini menunjukkan potensi penggunaan kecerdasan buatan dalam membantu pengambilan keputusan investasi di pasar cryptocurrency yang terkenal volatil. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan model AI tersebut mampu beradaptasi dengan kompleksitas dan dinamika pasar sesungguhnya agar keuntungannya stabil dan berkelanjutan.