Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Finansial

Inovasi Crypto dan Blockchain

Share

Kumpulan berita yang membahas perkembangan dan inovasi di sektor cryptocurrency, stablecoins, dan penggunaan AI dalam perdagangan crypto, termasuk langkah inovatif seperti tokenisasi dan dorongan pengembangan ekosistem blockchain nasional.

20 Feb 2026, 13.02 WIB

Fenomena Anomali Bitcoin Februari 2026 dan Strategi Cerdas Investor Aset Digital

Fenomena Anomali Bitcoin Februari 2026 dan Strategi Cerdas Investor Aset Digital
Pada awal tahun 2026, pasar aset digital diprediksi akan merayakan kenaikan besar berkat narasi ‘Trump Trade’ yang membuat banyak analis yakin Bitcoin akan mencapai harga tertinggi baru. Namun kenyataan berbalik dengan penurunan harga Bitcoin yang drastis pada 5 Februari, mengundang kebingungan dan kepanikan bagi para investor ritel di seluruh dunia karena harga malah turun saat berita politik memuncak. Laporan riset Pluang menyebut fenomena ini sebagai “The Great Decoupling,” di mana harga aset digital terlepas dari narasi berita karena pengaruh penting dari likuiditas global dan tekanan utang berlebihan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh likuidasi paksa oleh dana hedge funds besar di Hong Kong yang menggunakan leverage tinggi dan aturan margin call otomatis dari broker memicu penjualan besar-besaran Bitcoin. Selain itu, investor institusional melalui ETF Bitcoin Spot juga memperparah tekanan dengan melakukan penarikan modal saat volatilitas melonjak, sehingga menguatkan tekanan penurunan harga. Di sisi lain, pandangan para pemain besar di pasar terpecah menjadi dua: bank konservatif seperti Standard Chartered yang menurunkan target harga karena suku bunga tinggi, versus optimisme tinggi dari Goldman Sachs dan tokoh industri seperti Michael Saylor yang optimis Bitcoin akan mencapai Rp 2.84 juta (US$170.000) hingga Rp 3.34 juta (US$200.000) . Jason Gozali, Head of Investment Research Pluang, menegaskan bahwa koreksi ini bukan kegagalan fundamental Bitcoin namun reset struktural akibat deleveraging institusional. Dia menyarankan agar investor menggunakan volatilitas sebagai peluang dengan menerapkan strategi lindung nilai dan memanfaatkan instrumen seperti USD Yield yang memberikan imbal hasil untuk mengelola risiko dan tetap produktif dalam menunggu sinyal beli yang valid. Laporan ini juga menunjukkan pentingnya strategi diversifikasi aset defensif seperti Crypto Emas (PAXG/XAUT) untuk HNWIs demi efisiensi pajak dan perlindungan nilai, serta menghimbau investor agar tetap disiplin dan tidak terbawa kepanikan. Secara keseluruhan, pasar Bitcoin 2026 penuh risiko namun terdapat peluang besar bagi investor yang cermat dan berbasis data.
07 Nov 2025, 09.30 WIB

Blockchain dan Digital Product Passport: Kunci Daya Saing Komoditas Indonesia di Dunia

Blockchain dan Digital Product Passport: Kunci Daya Saing Komoditas Indonesia di Dunia
Industri blockchain global diprediksi tumbuh sangat pesat dengan nilai pasar yang akan mencapai USD 1,43 triliun pada tahun 2030. Teknologi blockchain kini menjadi pondasi penting dalam ekonomi digital tidak hanya untuk transaksi keuangan, tapi juga untuk menciptakan sistem yang aman dan transparan. Di Indonesia, blockchain dianggap sangat strategis untuk mendukung kemajuan teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan keamanan siber. Selain itu, blockchain membuka peluang besar bagi ekspor komoditas unggulan lewat konsep Digital Product Passport yang menjamin produk asli dan berkelanjutan. MDI Ventures, sebagai perusahaan modal ventura, aktif berinvestasi di sektor blockchain dan teknologi terkait lainnya. Melalui jaringan angel investor eMerge, mereka memberikan modal kepada startup blockchain yang berpotensi memberikan dampak ekonomi nyata pada ekosistem digital. Dalam forum Bali Blockchain Summit 2025, MDI Ventures berperan sebagai investor strategis yang mendukung pembangunan ekosistem blockchain yang aman dan berkelanjutan. Fokus ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjadi pemain utama di pasar blockchain global. Penggunaan Digital Product Passport berbasis blockchain dianggap sebagai solusi inovatif untuk memperkuat akses pasar global bagi komoditas Indonesia. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk, tetapi juga mendukung keberlanjutan dan transparansi produk nasional di tingkat internasional.
04 Nov 2025, 12.15 WIB

Pendiri Bursa Kripto Turki Thodex Gantung Diri Saat Dipenjara 11 Ribu Tahun

Pendiri Bursa Kripto Turki Thodex Gantung Diri Saat Dipenjara 11 Ribu Tahun
Faruk Fatih Ozer, pendiri dan mantan CEO bursa kripto Thodex asal Turki, ditemukan tewas gantung diri di sel penjara Tekirdag saat menjalani hukuman. Ia mendapat hukuman selama lebih dari 11.000 tahun penjara karena berbagai tuduhan kriminal serius. Thodex adalah bursa kripto populer di Turki yang tiba-tiba menghentikan operasinya pada April 2021. Kala itu, banyak investor mulai curiga karena aktivitas perdagangan di platform tersebut mendadak berhenti. Ozer melarikan diri ke Albania setelah penghentian operasi tersebut, dan diduga membawa bersama dana investor senilai jutaan dolar Amerika Serikat. Setahun kemudian, dia ditangkap dan diekstradisi kembali ke Turki untuk diadili. Ia dituduh melakukan penipuan terhadap lebih dari 400 ribu investor serta mencuci uang dengan mengirim aset kripto senilai Rp 148.63 miliar (US$8,9 juta) ke dompet digital miliknya dan rekan-rekannya. Kerugian total diperkirakan mencapai Rp 208.75 miliar (US$12,5 juta) . Selain Ozer, dua saudaranya juga ditangkap dan mendapat hukuman yang sama karena terlibat kasus serupa. Pemerintah dan aparat masih melakukan penyidikan mendalam atas kematian Ozer dan kasus yang melibatkan Thodex.
04 Nov 2025, 11.46 WIB

Model AI Alibaba Cetak Untung Besar dalam Trading Crypto Dua Minggu

Model AI Alibaba Cetak Untung Besar dalam Trading Crypto Dua Minggu
Sebuah model kecerdasan buatan dari Alibaba Cloud, Qwen3-Max, berhasil meraih keuntungan sebesar 22,32 persen dari modal awal sebesar 10.000 dolar AS hanya dalam waktu dua minggu saat mengikuti sebuah kompetisi perdagangan cryptocurrency. Kompetisi ini melibatkan enam model AI dari perusahaan ternama di Amerika Serikat dan China. Dari enam model AI yang diuji, hanya dua yang berhasil menghasilkan keuntungan, yakni model dari Alibaba dan model V3.1 Chat milik DeepSeek. Model-model lain yang berasal dari perusahaan besar seperti OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan xAI justru kehilangan banyak uang selama masa pengujian, dengan OpenAI GPT-5 mengalami kerugian terbesar hingga mencapai 62,66 persen. Tes ini dilakukan oleh perusahaan riset Nof1 melalui platform Alpha Arena, yang hanya menyediakan data pasar kuantitatif kepada model-model tersebut dan tidak memberikan akses pada berita atau informasi non-kuantitatif lainnya. Hal ini membuat sebagian pengamat meragukan seberapa besar hasil ini dapat diandalkan untuk skenario investasi nyata di dunia finansial yang kompleks. Nof1 menegaskan bahwa hasil awal ini belum bisa dijadikan patokan pasti, karena kemungkinan besar hasil tersebut dipengaruhi oleh keberuntungan. Mereka berencana melanjutkan kompetisi dengan metode pengujian yang lebih ketat dan statistik yang lebih kuat agar hasilnya bisa lebih dapat dipercaya dan menggambarkan performa sesungguhnya model AI di pasar nyata. Keberhasilan model Alibaba ini menunjukkan potensi penggunaan kecerdasan buatan dalam membantu pengambilan keputusan investasi di pasar cryptocurrency yang terkenal volatil. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan model AI tersebut mampu beradaptasi dengan kompleksitas dan dinamika pasar sesungguhnya agar keuntungannya stabil dan berkelanjutan.
04 Nov 2025, 07.30 WIB

Hong Kong Jadi Pusat Pembayaran Stablecoin Baru untuk Perdagangan Internasional

Hong Kong Jadi Pusat Pembayaran Stablecoin Baru untuk Perdagangan Internasional
Ebanx, perusahaan fintech asal Brasil, mulai melirik Hong Kong sebagai pusat aktivitas stablecoin untuk pembayaran lintas negara, terutama untuk perusahaan asal Tiongkok yang ingin berbisnis secara global. CEO Ebanx, Joao Del Valle, menyatakan Hong Kong bisa menjadi langkah awal bagi perusahaan dari Tiongkok dalam penggunaan stablecoin untuk perdagangan internasional. Hong Kong baru saja meluncurkan regulasi stablecoin yang dianggap sebagai perubahan besar dalam dunia kripto dan pembayaran digital. Regulasi ini mengharuskan penerbit stablecoin mendapatkan lisensi resmi dan menjaga cadangan dengan aset berkualitas tinggi agar stabilitas nilai tetap terjaga. Ebanx berencana menggunakan stablecoin yang terintegrasi dengan sistem pembayaran berbasis kecerdasan buatan miliknya. Hal ini akan mempercepat transaksi bisnis dengan pedagang global, terutama dari Tiongkok, yang biasanya mengalami kendala lambatnya transfer kawat tradisional yang memakan waktu 1 hingga 2 hari. Menurut Del Valle, meskipun adopsi stablecoin diperkirakan berjalan secara bertahap, penggunaan stablecoin akan meningkat secara signifikan di masa depan karena transfer antar negara menggunakan stablecoin hanya memakan waktu beberapa detik saja, jauh lebih efisien dibanding metode lama. Dengan hadirnya regulasi tersebut, Hong Kong mulai menjadi pusat stabilitas dan inovasi keuangan kripto di Asia yang bisa menjadi jembatan ekonomis bagi perusahaan Tiongkok untuk memperluas bisnis secara internasional dengan cara yang lebih modern dan cepat.
03 Nov 2025, 12.06 WIB

Ant Group Gunakan Tokenisasi untuk Penyelesaian Transaksi Real-Time Lintas Bank

Ant Group, melalui Project Ensemble di Hong Kong, berhasil menggunakan teknologi tokenisasi pada simpanan bank untuk memfasilitasi penyelesaian transaksi secara real-time antara berbagai bank. Teknologi ini memanfaatkan blockchain untuk merepresentasikan aset tradisional sehingga mampu menurunkan biaya dan meningkatkan kecepatan transaksi. Eric Jing Xiandong, ketua Ant Group, mengungkapkan bahwa pencapaian ini dimulai sejak tahun lalu ketika mereka berhasil melakukan penyelesaian real-time di cabang-cabang bank global. Meski identitas bank tersebut tidak diungkap, keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi penerapan tokenisasi di dunia nyata. Project Ensemble adalah inisiatif yang diluncurkan oleh pemerintah Hong Kong pada Agustus tahun lalu. Tujuannya adalah mengeksplorasi berbagai kemungkinan implementasi tokenisasi dalam sistem keuangan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Ant Digital Technologies berperan aktif dalam proyek sandbox ini. Eric Jing juga menekankan bahwa meski kemajuan blockchain terlihat signifikan, Ant Group memilih untuk tidak fokus pada pengembangan stablecoin yang saat ini mengalami hambatan akibat regulasi ketat terkait aktivitas spekulatif di pasar finansial. Keberhasilan ini membuka peluang baru bagi penyelesaian lintas bank secara global yang lebih cepat dan efisien. Di masa depan, pemanfaatan tokenisasi dalam sistem keuangan diharapkan dapat mempercepat inklusi keuangan dan mendorong inovasi di sektor fintech.

Baca Juga

  • Transformasi Digital pada Sistem Kesejahteraan Publik Indonesia

  • Investasi AI dan Pertumbuhan Teknologi

  • Transformasi Digital dan Gangguan di Sektor Transportasi

  • Inovasi Crypto dan Blockchain

  • Perubahan Kebijakan dan Pendanaan Riset Global