Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Krisis Iklim dan Bencana Alam

Share

Kumpulan berita yang membahas tantangan dan respons terhadap perubahan iklim serta bencana alam, mulai dari respons kebakaran hutan, banjir akibat kenaikan permukaan laut, kekeringan ekstrem, potensi gempa, hingga badai super.

27 Jan 2026, 08.52 WIB

Pembentukan U.S. Wildland Fire Service untuk Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan

Pembentukan U.S. Wildland Fire Service untuk Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan
Ancaman kebakaran hutan semakin meningkat di Amerika Serikat dengan biaya kerugian mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun. Sebagai respons, Departemen Dalam Negeri membentuk U.S. Wildland Fire Service sebagai organisasi baru yang menyatukan operasi pemadam kebakaran hutan dari berbagai biro yang sebelumnya beroperasi terpisah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan saat menghadapi kebakaran hutan yang semakin sering terjadi. Brian Fennessy, mantan kepala pemadam kebakaran di San Diego dan Orange County, ditunjuk sebagai pemimpin organisasi ini karena pengalaman dan keahliannya dalam bidang pemadam kebakaran. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini berusaha menyederhanakan rantai komando, memperbaiki sistem rekrutmen, kompensasi, serta meningkatkan sinergi antara berbagai entitas pemerintah dan komunitas lokal. Data dari National Centers for Environmental Information menunjukkan bahwa tahun 2025 adalah tahun keempat terpanas dalam catatan 131 tahun, dengan jumlah kebakaran hutan yang melebihi rata-rata 20 tahun sebelumnya. Wilayah seperti Utah dan Nevada mencatat suhu terpanas sepanjang sejarah mereka, yang memperparah risiko kebakaran hutan di kawasan tersebut. Organisasi baru ini bertujuan untuk meningkatkan respons federal terhadap kebakaran hutan lewat modernisasi teknologi, pengelolaan data terpadu, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan manajemen yang lebih baik, mereka berharap dapat melindungi lebih banyak wilayah publik dan tanah adat yang luas dari dampak kebakaran, serta mendukung ketahanan nasional yang lebih kuat. Menghadapi tantangan iklim dan meningkatnya kejadian kebakaran hutan, U.S. Wildland Fire Service diharapkan menjadi model koordinasi pemerintah yang efektif dan efisien. Dengan sumber daya lebih terpusat dan pengelolaan yang terstandarisasi, masa depan pengendalian kebakaran hutan di Amerika Serikat terlihat lebih terorganisir dan berdaya guna.
24 Jan 2026, 22.57 WIB

Mengenal Kekuatan Bumi: Ketika Iklim Stabil Holosen Mulai Berakhir

Mengenal Kekuatan Bumi: Ketika Iklim Stabil Holosen Mulai Berakhir
Selama ratusan tahun terakhir, manusia merasa bisa mengendalikan alam dan memanfaatkan sumber daya tanpa batas. Tapi kenyataannya, bumi dan kekuatannya jauh lebih besar dari yang kita kira. Energi yang disalurkan oleh matahari ke bumi sangat besar, jauh melampaui kebutuhan energi manusia di kota-kota besar seperti New York. Bumi, sebagai sistem yang terdiri dari atmosfer, lautan, es, dan daratan, mengubah energi matahari menjadi iklim yang kita kenal. Iklim ini menentukan cuaca harian kita dan memengaruhi kegiatan sehari-hari seperti pertanian dan perdagangan global. Stabilitas iklim yang kita nikmati selama 10.000 tahun terakhir dikenal sebagai periode Holosen. Iklim Holosen yang hangat dan lembap ini telah memungkinkan manusia memulai pertanian, membangun kota, dan mengembangkan teknologi serta budaya. Namun, itu hanya masa yang singkat secara geologis dan sangat berharga karena iklim bumi pada dasarnya selalu dipengaruhi oleh energi besar dan kekuatan dahsyat. Saat ini, badai musim dingin besar yang mendekat hanya salah satu contoh bagaimana alam bisa menunjukkan kekuatannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa bumi tidak pernah benar-benar stabil dan bisa berubah secara besar-besaran tanpa peringatan. Kita harus sadar bahwa kita hanya bagian kecil dari sistem yang sangat besar ini. Maka dari itu, tujuan kita bukanlah menyelamatkan bumi, karena bumi akan terus ada dan berubah seiring waktu, tetapi kita yang harus menyelamatkan diri kita sendiri dengan belajar menghormati dan mengakui kekuatan alam. Sikap ini penting agar kita bisa bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
24 Jan 2026, 22.57 WIB

Menghadapi Kekuatan Alam: Pelajaran dari Badai dan Iklim yang Berubah

Menghadapi Kekuatan Alam: Pelajaran dari Badai dan Iklim yang Berubah
Selama seribu tahun terakhir, manusia hidup dalam periode iklim yang relatif stabil yang disebut Holosen. Iklim yang hangat dan lembap ini memungkinkan manusia untuk memulai pertanian, membangun kota, dan mengembangkan peradaban serta teknologi. Namun, stabilitas ini tidak berarti Bumi mudah dikendalikan. Bumi menerima energi besar dari Matahari, yaitu sekitar 166.000 Terawatt, yang menggerakkan sistem iklim seperti atmosfer, lautan, dan es. Energi ini sangat besar, jauh lebih besar daripada penggunaan energi seluruh manusia di kota-kota besar seperti New York. Walaupun iklim terlihat stabil, di balik itu tersembunyi kekuatan besar yang kadang-kadang memicu badai besar dan fenomena cuaca ekstrem. Contohnya adalah super badai musim dingin yang kini sedang mendekat, yang mengingatkan kita bahwa alam bisa menjadi sangat kuat dan tidak dapat dikuasai oleh manusia. Aktivitas manusia dalam peradaban modern justru telah mengubah dan mendestabilisasi iklim Holosen yang damai ini. Akibatnya, kita menghadapi era baru dengan cuaca yang semakin tidak menentu dan risiko bencana alam yang meningkat. Pesan pentingnya adalah bahwa Bumi tidak perlu diselamatkan oleh manusia, melainkan kita sendiri yang harus belajar untuk menghormati dan menyesuaikan diri dengan kekuatan alam yang ada. Dengan sikap ini, kita dapat berusaha mengurangi dampak dari perubahan iklim dan menjaga kelangsungan hidup manusia.
24 Jan 2026, 17.00 WIB

Peta Terbaru Zona Megathrust 2024: Waspadai Gempa Besar dan Tsunami di Indonesia

Peta Terbaru Zona Megathrust 2024: Waspadai Gempa Besar dan Tsunami di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rawan terhadap gempa bumi terutama di zona megathrust yang terletak di bawah laut. Pada tahun 2024, para ahli gempa menyusun peta terbaru yang menunjukkan 14 zona megathrust di Indonesia dengan potensi gempa besar yang kuat. Beberapa zona bahkan diprediksi mampu menghasilkan gempa dengan magnitudo lebih dari 9. Zona megathrust di Jawa, Aceh, Mentawai, Enggano, dan beberapa wilayah lain disebut memiliki potensi gempa terbesar. Zona Jawa misalnya bisa menghasilkan gempa hingga magnitudo 9,1. Peningkatan bahaya ini menjadi perhatian besar karena selama ini zona-zona tersebut sudah lama tidak melepaskan gempa besar sehingga menimbulkan ketegangan tektonik. BMKG dan BRIN secara aktif memberikan peringatan kepada masyarakat terkait ancaman gempa dan tsunami. Kedua lembaga ini mengingatkan bahwa gempa besar di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hanya tinggal menunggu waktu, dan gempa ini juga berpotensi memicu tsunami besar yang dapat menyapu wilayah pesisir mulai dari Banten, Lampung hingga Jakarta. Dalam menghadapi ancaman tersebut, BMKG telah menyiapkan berbagai alat peringatan dini tsunami dan melakukan edukasi kepada masyarakat serta pemerintah daerah. Mereka juga bekerja sama dengan komunitas internasional untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana gempa dan tsunami di kawasan Samudera Hindia. Meskipun kapan pastinya gempa besar itu terjadi belum bisa dipastikan, penting bagi masyarakat untuk selalu waspada dan memperhatikan jalur evakuasi serta infrastruktur mitigasi yang telah disiapkan. Edukasi serta kesiapsiagaan menjadi kunci agar dampak bencana dapat diminimalisir dan kehidupan masyarakat tetap terlindungi.
24 Jan 2026, 14.45 WIB

Kekeringan Ekstrem Penyebab Kepunahan Homo floresiensis di Flores

Kekeringan Ekstrem Penyebab Kepunahan Homo floresiensis di Flores
Peneliti dari berbagai universitas menggunakan analisis stalagmit dari gua di Pulau Flores untuk memahami perubahan iklim yang terjadi sejak ribuan tahun lalu. Penelitian ini bertujuan mengungkap penyebab kepunahan Homo floresiensis, spesies manusia purba kecil yang hidup di sana lebih dari satu juta tahun. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga fase iklim utama: periode basah ekstrem, periode monsun musiman yang kuat, dan periode kekeringan panjang yang terjadi sekitar 61 ribu tahun lalu. Perubahan ini memengaruhi ketersediaan air dan sumber makanan yang vital bagi Homo floresiensis dan gajah kerdil yang mereka buru. Data fosil menunjukkan populasi gajah kerdil menurun drastis setelah periode monsun yang mendukung kehidupan mereka, yang secara tidak langsung juga mengancam keberadaan Homo floresiensis. Kekeringan panjang menyebabkan Sungai Wae Racang, sumber air utama, menyusut dan akhirnya memicu migrasi serta kepunahan bagi kedua spesies. Selain faktor iklim, lapisan abu vulkanik ditemukan menutupi artefak dan fosil yang berumur sekitar 50 ribu tahun. Ini menunjukkan letusan gunung berapi juga turut memperparah kondisi lingkungan, meski bukti interaksi langsung antara Homo floresiensis dan Homo sapiens masih belum pasti. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya air tawar untuk kelangsungan hidup spesies dan memperingatkan bagaimana perubahan iklim ekstrem bisa berdampak serius pada keberadaan manusia serta kerabatnya. Temuan ini akan membantu penelitian lebih lanjut tentang interaksi manusia purba dengan lingkungan dan perubahan iklim.
24 Jan 2026, 12.15 WIB

Ancaman Kenaikan Air Laut dan Penurunan Tanah di Wilayah Pesisir Indonesia

Kenaikan muka air laut merupakan masalah serius yang sedang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim yang membuat es di kutub mencair dan air laut mengembang. BMKG mencatat bahwa laju kenaikan muka air laut global saat ini meningkat tajam bila dibandingkan beberapa dekade lalu. Wilayah pesisir Indonesia seperti Sayung di Demak dan Jakarta Utara mengalami dampak berat akibat kenaikan muka air laut yang dipadukan dengan fenomena penurunan tanah. Di beberapa tempat, penurunan tanah ini bahkan bisa mencapai lebih dari 10 cm per tahun, yang mengakibatkan lahan pertanian hilang dan risiko banjir semakin meningkat. Penurunan tanah biasanya terjadi karena pengambilan air tanah secara berlebihan, tanah yang lunak, serta beban dari bangunan yang berat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa fenomena ini memperbesar risiko kerusakan infrastruktur dan meningkatkan frekuensi banjir rob di daerah pesisir. Dampak dari kenaikan muka air laut dan penurunan tanah tidak hanya berujung pada kerugian material seperti kerusakan rumah dan lahan pertanian, tetapi juga mengancam kelangsungan ekosistem laut. Gangguan seperti pemutihan terumbu karang dan terganggunya rantai makanan laut berisiko mengurangi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. BMKG dan BRIN mendorong masyarakat dan pemerintah untuk melakukan mitigasi seperti mengurangi emisi karbon, melakukan konservasi pesisir dengan penanaman mangrove, menjaga terumbu karang, serta mendukung kebijakan internasional seperti High Seas Treaty yang bertujuan melindungi ekosistem laut. Langkah-langkah ini sangat penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir Indonesia.

Baca Juga

  • Inovasi Teknologi Terbaru untuk Industri Masa Depan

  • Psikologi dan Tren Sosial

  • Krisis Iklim dan Bencana Alam

  • Seri Teka-teki NYT

  • Revolusi Kesehatan: Inovasi Medis dan Bioteknologi