Kekeringan Ekstrem Penyebab Kepunahan Homo floresiensis di Flores
Sains
Iklim dan Lingkungan
24 Jan 2026
7 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Kekeringan ekstrem berperan besar dalam kepunahan Homo floresiensis.
Perubahan iklim dapat memiliki dampak signifikan terhadap ekosistem dan spesies yang ada di dalamnya.
Interaksi antara spesies manusia purba dan Homo sapiens membuka kemungkinan kompetisi dan perubahan habitat.
Peneliti dari berbagai universitas menggunakan analisis stalagmit dari gua di Pulau Flores untuk memahami perubahan iklim yang terjadi sejak ribuan tahun lalu. Penelitian ini bertujuan mengungkap penyebab kepunahan Homo floresiensis, spesies manusia purba kecil yang hidup di sana lebih dari satu juta tahun.
Hasil penelitian menunjukkan ada tiga fase iklim utama: periode basah ekstrem, periode monsun musiman yang kuat, dan periode kekeringan panjang yang terjadi sekitar 61 ribu tahun lalu. Perubahan ini memengaruhi ketersediaan air dan sumber makanan yang vital bagi Homo floresiensis dan gajah kerdil yang mereka buru.
Data fosil menunjukkan populasi gajah kerdil menurun drastis setelah periode monsun yang mendukung kehidupan mereka, yang secara tidak langsung juga mengancam keberadaan Homo floresiensis. Kekeringan panjang menyebabkan Sungai Wae Racang, sumber air utama, menyusut dan akhirnya memicu migrasi serta kepunahan bagi kedua spesies.
Selain faktor iklim, lapisan abu vulkanik ditemukan menutupi artefak dan fosil yang berumur sekitar 50 ribu tahun. Ini menunjukkan letusan gunung berapi juga turut memperparah kondisi lingkungan, meski bukti interaksi langsung antara Homo floresiensis dan Homo sapiens masih belum pasti.
Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya air tawar untuk kelangsungan hidup spesies dan memperingatkan bagaimana perubahan iklim ekstrem bisa berdampak serius pada keberadaan manusia serta kerabatnya. Temuan ini akan membantu penelitian lebih lanjut tentang interaksi manusia purba dengan lingkungan dan perubahan iklim.
Analisis Ahli
Nick Scroxton
Analisis stalagmit memberikan bukti iklim yang sangat akurat dan membantu menghubungkan perubahan lingkungan dengan kepunahan Homo floresiensis.Gerrit van den Bergh
Temuan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana ekosistem dan iklim mempengaruhi interaksi antar spesies purba di Flores.Michael Gagan
Pentingnya rekonstruksi iklim kuno sebagai dasar memahami perubahan populasi fosil dan evolusi hominin di wilayah tropis.Mika Rizki Puspaningrum
Data paleontologi dan iklim memberikan gambaran holistik tentang penyebab kepunahan Homo floresiensis dan hubungannya dengan aktivitas vulkanik serta kedatangan Homo sapiens.

