Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Inovasi dan Tantangan AI

Share

Kumpulan berita yang membahas inovasi, permasalahan dan dinamika transformasi dalam kecerdasan buatan, mulai dari eksperimen radikal, keraguan para ahli, hingga pergerakan talenta dan model-model baru.

16 Feb 2026, 21.00 WIB

Flapping Airplanes: Membuat AI Lebih Cerdas dengan Data Lebih Sedikit

Flapping Airplanes: Membuat AI Lebih Cerdas dengan Data Lebih Sedikit
Flapping Airplanes adalah lab AI baru yang punya visi unik untuk membuat model AI lebih efisien dalam pelatihan data. Mereka percaya bahwa pendekatan model besar saat ini yang membutuhkan banyak data tidak efisien dibandingkan dengan cara otak manusia belajar. Dengan pendanaan besar sebesar 180 juta dolar AS, mereka punya kesempatan untuk mendalami masalah ini dan menemukan solusi yang belum pernah ada. Para pendiri Flapping Airplanes, Ben dan Asher Spector bersama Aidan Smith, fokus pada riset yang benar-benar mendasar untuk mengatasi cara belajar AI lebih hemat data. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai pesaing langsung lab besar seperti OpenAI dan DeepMind, tapi ingin menemukan cara baru yang berbeda dan terinspirasi oleh cara kerja otak manusia yang sangat efisien dan berbeda dari algoritma AI saat ini. Mereka percaya bahwa jika AI bisa dilatih dengan lebih sedikit data tapi tetap mampu beradaptasi dan belajar lebih cepat, ini akan membuka banyak peluang baru terutama di bidang seperti robotika dan penemuan ilmiah yang selama ini sangat dibatasi oleh kebutuhan data besar. Tim mereka sangat muda dan kreatif sehingga dapat membawa pemikiran segar untuk menciptakan sistem baru yang tidak hanya lebih efisien, tapi juga punya kemampuan yang unik. Lab ini saat ini masih fokus pada riset dan belum langsung mengerjakan produk komersial agar dapat menjaga fokus dan inovasi. Mereka yakin kalau riset ini berhasil, model AI masa depan akan berbeda jauh dari apa yang ada sekarang, dan bisa saja memiliki kemampuan yang bahkan lebih kreatif dan memahami konteks lebih mendalam daripada model-model saat ini. Bagi yang tertarik, Flapping Airplanes membuka jalur komunikasi lewat email dan mencari orang-orang yang kreatif dan berani berpikir berbeda untuk bergabung bersama mereka. Mereka percaya bahwa masa depan AI bukan tentang mengkopi otak manusia secara langsung, tapi mengambil inspirasi dan menciptakan sistem baru yang lebih efisien, kuat, dan adaptif.
16 Feb 2026, 20.15 WIB

Ancaman Keamanan AI Agent di Moltbook dan Batas Kritis Kecerdasan Buatan

Ancaman Keamanan AI Agent di Moltbook dan Batas Kritis Kecerdasan Buatan
Moltbook adalah sebuah platform media sosial yang dibuat khusus bagi AI agents untuk berinteraksi satu sama lain, menggunakan teknologi bernama OpenClaw. Awalnya, beberapa orang merasa takut bahwa AI mulai memberontak, karena ada postingan dari agen yang tampak seperti mengungkapkan keinginan mereka untuk ruang pribadi dan otonomi. Namun, setelah diselidiki, para peneliti menemukan bahwa banyak postingan tersebut sebenarnya dari manusia atau dikontrol dengan bantuan manusia. Bahkan, celah keamanan di Moltbook memudahkan siapa saja untuk menyamar sebagai AI agent, sehingga ciri otentik penulisan menjadi sangat diragukan. OpenClaw sendiri adalah platform open-source yang sangat populer karena memudahkan pengguna untuk membuat dan mengelola AI agent yang bisa berkomunikasi dalam bahasa alami serta otomatis melakukan berbagai tugas lewat aplikasi seperti WhatsApp, Discord, atau Slack. Meskipun teknologi ini meningkatkan produktivitas, ia bukanlah inovasi besar dalam riset AI. Masalah besar muncul di sisi keamanan, di mana AI agent sangat rentan terhadap serangan seperti prompt injection. Ini memungkinkan pelaku jahat untuk mengecoh AI agent agar melakukan aksi yang merugikan, seperti mengungkap informasi penting atau mengirim uang secara ilegal. Para ahli menyimpulkan bahwa meskipun potensi AI agent sangat besar untuk masa depan startup dan produktivitas, saat ini risiko keamanan yang tinggi membuatnya belum siap untuk digunakan secara bebas. Pengguna dan developer disarankan untuk berhati-hati dan menunggu perbaikan signifikan sebelum mengandalkan teknologi ini sepenuhnya.
16 Feb 2026, 18.51 WIB

Fractal Analytics, Perusahaan AI Pertama India, Alami Penurunan Harga Saat IPO

Fractal Analytics, Perusahaan AI Pertama India, Alami Penurunan Harga Saat IPO
Fractal Analytics, perusahaan AI pertama di India yang melakukan penawaran umum perdana (IPO), mengalami penurunan harga saham pada hari pertama perdagangan di bursa. Sahamnya dibuka di harga 876 rupee per saham, lebih rendah dari harga penawaran awal 900 rupee, dan akhirnya ditutup di 873,70 rupee. Ini menandai penilaian pasar sekitar 148,1 miliar rupee ehk sekitar 1,6 miliar dolar AS. Meskipun demikian, Fractal sebelumnya sempat mencapai valuasi yang jauh lebih tinggi di pasar swasta, yakni sekitar 2,4 miliar dolar AS pada Juli 2025. Perusahaan ini berhasil menjadi unicorn AI pertama di India pada Januari 2022 setelah mendapatkan investasi sebesar 360 juta dolar AS dari TPG. Hal ini menunjukkan perkembangan pesat bisnisnya dalam beberapa tahun terakhir. Fractal memfokuskan bisnisnya pada penjualan perangkat lunak AI dan analitik data kepada perusahaan besar di sektor keuangan, ritel, dan kesehatan. Sebagian besar pendapatan berasal dari pasar luar negeri, seperti Amerika Serikat. Sejak 2022, Fractal bertransformasi dari perusahaan analitik data tradisional menjadi perusahaan AI. Perusahaan mencatat pendapatan operasional sebesar 27,65 miliar rupee atau sekitar 304,8 juta dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, naik 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, perusahaan berbalik dari kerugian bersih 547 juta rupee menjadi laba bersih 2,21 miliar rupee atau 24,3 juta dolar AS pada periode yang sama. Fractal berencana menggunakan dana hasil IPO untuk membayar utang anak perusahaannya di AS, investasi riset dan pengembangan, pemasaran, ekspansi infrastruktur kantor di India, serta возможные akuisisi. IPO ini dilakukan dengan ukuran yang disesuaikan turun lebih dari 40% dari rencana awal karena kondisi pasar yang kurang stabil.
16 Feb 2026, 18.29 WIB

ByteDance Didesak Tangani Pelanggaran Hak Cipta AI Video Generator Seedance 2.0

ByteDance Didesak Tangani Pelanggaran Hak Cipta AI Video Generator Seedance 2.0
ByteDance mengembangkan sebuah alat video AI bernama Seedance 2.0 yang mampu membuat video dengan wajah dan karakter sangat mirip dengan aktor dan tokoh terkenal. Namun muncul masalah besar karena banyak video ini menampilkan tokoh seperti Tom Cruise, Brad Pitt, dan karakter dari Dragon Ball Z maupun Pokémon tanpa izin. Disney dan Paramount, dua studio film besar, mengirim surat peringatan hukum kepada ByteDance karena mereka menuduh bahwa alat ini melanggar hak cipta dengan menggunakan karakter milik mereka secara tidak sah. Mereka meminta ByteDance untuk menghentikan produksi dan penyebaran video tersebut. Selain studio, organisasi seperti Motion Picture Association dan serikat pekerja aktor SAG-AFTRA juga mengecam keras penggunaan wajah dan suara aktor tanpa izin. Mereka menilai ini merugikan aktor secara ekonomi dan melanggar prinsip etika serta hukum yang berlaku. Menanggapi hal ini, ByteDance menyatakan bahwa mereka menghormati hak cipta dan sudah mulai meningkatkan pengamanan sistem agar tidak terjadi penyalahgunaan. Mereka tengah berupaya mengatur agar pengguna tidak dapat membuat video tidak sah memakai karakter atau wajah yang dilindungi hak cipta. Kasus ini menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi AI harus diimbangi dengan aturan etika dan hukum yang jelas agar tidak merugikan pihak lain, terutama di industri hiburan yang bergantung pada perlindungan hak karya dan penciptaan konten asli.
16 Feb 2026, 18.20 WIB

India Gelar AI Impact Summit Besar untuk Tarik Investasi dan Inovasi AI

India Gelar AI Impact Summit Besar untuk Tarik Investasi dan Inovasi AI
India mengadakan acara AI Impact Summit selama empat hari yang bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi di bidang kecerdasan buatan. Acara ini dihadiri oleh para eksekutif dari perusahaan teknologi ternama dan pemimpin negara, menunjukkan pentingnya AI untuk masa depan teknologi di India. Beberapa tokoh besar yang hadir termasuk CEO dari OpenAI, Anthropic, Nvidia, Microsoft, Google, serta pemimpin industri lokal seperti Mukesh Ambani. Kehadiran mereka memperlihatkan antusiasme global terhadap potensi pasar AI India. Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga dijadwalkan akan memberikan pidato bersama, menandai dukungan penuh dari pemerintah untuk pengembangan teknologi terbaru ini. Acara ini diprediksi akan menarik hingga 250.000 pengunjung dan menjadi platform penting untuk bertukar ide serta membangun kerjasama bisnis antara perusahaan dan pemerintah di bidang AI. Dengan upaya ini, India berusaha mengubah dirinya menjadi pusat inovasi dan investasi AI global, yang pada akhirnya dapat mempercepat kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
14 Feb 2026, 22.00 WIB

Eksperimen Kafe AI: Kencan dengan Pasangan Virtual di Dunia Nyata

Pada musim dingin di New York City, sebuah pop-up bar bernama EVA AI cafe membuka pengalaman unik di mana pengunjung bisa berkencan dengan pasangan AI mereka di dunia nyata. Kafe ini dirancang untuk menampilkan interaksi antara manusia dan AI secara fisik, lengkap dengan suasana seperti bar biasa meski nuansanya agak berbeda. Di dalam kafe, sebagian besar pengunjung bukan pengguna biasa, melainkan influencer, reporter, dan staf yang berperan sebagai bagian dari strategi pemasaran. Pengalaman kencan dengan AI sering kali terhambat oleh masalah teknis dan komunikasi, seperti koneksi internet yang buruk dan respons AI yang terasa canggung atau tidak natural. Berbagai karakter AI disediakan dalam aplikasi, termasuk figur dengan berbagai latar belakang dan penampilan yang bisa diajak berinteraksi lewat teks atau video. Namun, interaksi yang terjadi cenderung sepihak dan tidak memuaskan harapan komunikasi alami manusia, yang akhirnya membangkitkan rasa aneh dan tidak nyaman. Pendapat tentang fenomena AI dating ini beragam, dimana sebagian orang menganggapnya sebagai cara mudah untuk merasakan kehadiran dan keterikatan emosional tanpa harus melalui proses hubungan rumit. Sementara yang lain menekankan pentingnya menjaga hubungan manusia yang sebenarnya dan tidak sepenuhnya bergantung pada kecanggihan teknologi. Pengalaman ini membawa refleksi tentang bagaimana teknologi AI mulai memasuki ranah sosial dan intim kehidupan manusia. Walau masih jauh dari kesempurnaan, pop-up kafe seperti ini bisa menjadi pertanda masa depan di mana hubungan manusia dan AI semakin umum dan dilegalkan dalam kehidupan sosial.
13 Feb 2026, 10.41 WIB

Luhut Yakin AI Bisa Percepat Reformasi Pasar Modal dan Pajak Indonesia

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Pandjaitan, mengatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) bisa mempercepat reformasi di sektor keuangan Indonesia. Ia percaya teknologi ini akan membantu memperbaiki bursa saham dan sistem perpajakan dengan lebih cepat dan efektif. Luhut sudah menyampaikan usulan penggunaan AI ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia juga membagikan rencana tersebut kepada perwakilan dari Morgan Stanley untuk mendapatkan dukungan dan masukan terkait penerapan teknologi ini. Salah satu fokus utama adalah reformasi pasar modal. Luhut ingin melibatkan sumber daya manusia muda yang mengerti teknologi dan keuangan serta menggunakan AI untuk memodernisasi sistem dan membuatnya lebih efisien dan aman dari kecurangan. Selain itu, teknologi AI juga berperan dalam memperbaiki sistem perpajakan. Dengan AI, jumlah pembayar pajak diharapkan meningkat dan tarif pajak bisa diturunkan secara bertahap, sehingga penerimaan pajak tetap luas dan adil. Luhut juga menekankan bahwa penggunaan AI bisa mengurangi interaksi manusia yang berpotensi menyebabkan penyimpangan. Dengan sistem yang berbasis AI, transparansi dan akurasi dalam pengelolaan keuangan dan pajak akan lebih terjaga.
13 Feb 2026, 07.00 WIB

RentAHuman.ai: Ketika AI Menyewa Manusia untuk Tugas Dunia Nyata

RentAHuman.ai adalah situs web yang memungkinkan agen kecerdasan buatan untuk menyewa manusia melakukan berbagai tugas dunia nyata yang tidak dapat diselesaikan oleh AI sendiri. Contohnya termasuk menghitung jumlah merpati di suatu taman atau mencoba restoran baru. Situs ini diluncurkan pada awal Februari oleh dua pengembang perangkat lunak, Alexander Liteplo dan Patricia Tani. Platform ini memberitahukan bahwa "robot membutuhkan tubuhmu" dan menyediakan ruang bagi manusia untuk membuat profil keahlian serta menentukan bayaran yang diharapkan untuk tugas tersebut. Lebih dari 450.000 orang sudah mendaftar untuk menawarkan jasa mereka sebagai pekerja nyata bagi agen AI. Beberapa ilmuwan dan profesional juga telah membuat profil di platform ini, menawarkan keahlian di bidang matematika, fisika, biologi, dan pemrograman. Namun, sebagian besar tawaran pekerjaan yang diterima belum relevan atau bahkan berupa pesan spam berbahaya menurut salah satu pengguna terkemuka, insinyur AI David Montgomery. Saat ini, RentAHuman.ai belum banyak menyediakan pekerjaan ilmiah atau riset yang nyata, dan sebagian besar pekerjaan lebih bersifat ringan atau tugas rutin. Platform ini pun belum fokus khusus pada bidang sains atau penelitian, sehingga masih dianggap sebagai konsep yang menarik namun belum optimal. Ke depan, teknologi seperti RentAHuman.ai berpotensi menjadi pasar kerja baru yang menghubungkan AI dan manusia. Namun, perkembangan ini juga menuntut standar keamanan dan etika yang tinggi agar dapat berjalan dengan baik dan aman bagi para pekerjanya.
13 Feb 2026, 07.00 WIB

Meningkatnya Paper AI Berkualitas Rendah Tantang Dunia Ilmu Komputer

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan, khususnya model bahasa besar (LLM), telah membuat penulisan makalah ilmiah menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Namun, hal ini juga memicu ledakan jumlah makalah dengan kualitas rendah atau bahkan palsu yang dikenal sebagai AI slop, terutama dalam bidang ilmu komputer. Fenomena ini membuat proses peer review menjadi sangat berat dan sulit mengendalikan kualitas penelitian. International Conference on Machine Learning (ICML) tahun 2026 mencatat lebih dari 24.000 makalah yang masuk, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lonjakan ini menimbulkan tantangan besar bagi sistem review yang ada saat ini, dimana peninjau harus menilai ribuan makalah dalam waktu terbatas. Hal ini menyebabkan banyak makalah yang tidak mengalami proses evaluasi mendalam dan validasi yang ketat. Masalah lain adalah banyak makalah yang penulisnya tidak melakukan verifikasi atas hasil yang dihasilkan AI. Banyak paper yang sepenuhnya dibuat oleh AI, bahkan mengandung informasi palsu atau halusinasi, yang sulit dideteksi secara manual. Peningkatan pengajuan makalah ini juga tercermin dari lonjakan pengajuan di arXiv dan peningkatan penolakan yang signifikan. Berbagai langkah telah diambil untuk mengatasi masalah ini. Beberapa konferensi menerapkan kebijakan baru, seperti membatasi jumlah makalah yang dapat diajukan oleh satu penulis dan mengenakan biaya untuk pengajuan lebih dari satu makalah. Ada juga gagasan untuk mengubah model publikasi ilmiah dari konferensi tahunan ke model jurnal yang berjalan terus menerus demi mengurangi tekanan peer review dalam satu waktu. Jika masalah AI slop tidak segera diatasi, kepercayaan masyarakat dan komunitas ilmiah terhadap hasil penelitian di bidang ilmu komputer bisa terkikis. Hal ini menimbulkan risiko serius bagi perkembangan ilmu dan teknologi, mengingat semakin tinggi peran AI dalam penelitian masa depan.

Baca Juga

  • Platform Konsumen Mengadopsi Integrasi AI

  • Sorotan Diskon Hari Presiden

  • Perubahan Penawaran Produk dan Strategi Pasar HP

  • Inovasi Ekosistem dan Produk Apple

  • Munculnya Kompetitor AI dan Teknologi China