AI summary
AI slop dapat mengganggu kualitas dan integritas publikasi ilmiah. Peningkatan adopsi AI meningkatkan produktivitas peneliti, tetapi juga membawa risiko pengajuan makalah berkualitas rendah. Langkah-langkah baru diperlukan untuk mengatasi lonjakan jumlah pengajuan dan memastikan evaluasi yang efektif dari makalah ilmiah. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan, khususnya model bahasa besar (LLM), telah membuat penulisan makalah ilmiah menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Namun, hal ini juga memicu ledakan jumlah makalah dengan kualitas rendah atau bahkan palsu yang dikenal sebagai AI slop, terutama dalam bidang ilmu komputer. Fenomena ini membuat proses peer review menjadi sangat berat dan sulit mengendalikan kualitas penelitian.International Conference on Machine Learning (ICML) tahun 2026 mencatat lebih dari 24.000 makalah yang masuk, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lonjakan ini menimbulkan tantangan besar bagi sistem review yang ada saat ini, dimana peninjau harus menilai ribuan makalah dalam waktu terbatas. Hal ini menyebabkan banyak makalah yang tidak mengalami proses evaluasi mendalam dan validasi yang ketat.Masalah lain adalah banyak makalah yang penulisnya tidak melakukan verifikasi atas hasil yang dihasilkan AI. Banyak paper yang sepenuhnya dibuat oleh AI, bahkan mengandung informasi palsu atau halusinasi, yang sulit dideteksi secara manual. Peningkatan pengajuan makalah ini juga tercermin dari lonjakan pengajuan di arXiv dan peningkatan penolakan yang signifikan.Berbagai langkah telah diambil untuk mengatasi masalah ini. Beberapa konferensi menerapkan kebijakan baru, seperti membatasi jumlah makalah yang dapat diajukan oleh satu penulis dan mengenakan biaya untuk pengajuan lebih dari satu makalah. Ada juga gagasan untuk mengubah model publikasi ilmiah dari konferensi tahunan ke model jurnal yang berjalan terus menerus demi mengurangi tekanan peer review dalam satu waktu.Jika masalah AI slop tidak segera diatasi, kepercayaan masyarakat dan komunitas ilmiah terhadap hasil penelitian di bidang ilmu komputer bisa terkikis. Hal ini menimbulkan risiko serius bagi perkembangan ilmu dan teknologi, mengingat semakin tinggi peran AI dalam penelitian masa depan.
Masalah AI slop dan lonjakan jumlah paper bukan hanya soal volume, tetapi juga soal kualitas dan validitas ilmiah yang harus dijaga agar penelitian tetap bermakna. Penggunaan AI dalam review bisa membantu, tapi tanpa regulasi ketat dan edukasi etika penelitian, krisis kepercayaan akan makin meluas.