Mohamed Mohamed mengamati bahwa banyak perusahaan besar seperti BlackRock dan Goldman Sachs menggunakan sistem canggih yang memanfaatkan AI untuk analisis investasi properti. Namun, investor biasa masih menggunakan cara yang lebih tradisional dan tidak terintegrasi, seperti menyimpan data dalam PDF atau komunikasi lewat WhatsApp, yang membuat proses transaksi lambat dan berisiko.
Pada tahun 2024, Mohamed meninggalkan pekerjaannya di Boston Consulting Group dan mendirikan Smart Bricks, sebuah startup teknologi properti yang berbasis AI dengan tujuan membantu investor bisa mendapatkan investasi dengan kualitas terbaik. Startup ini menggabungkan berbagai data publik dan khusus untuk menilai harga, likuiditas, riwayat transaksi, dan lain-lain secara otomatis.
Smart Bricks tidak hanya menampilkan daftar properti tersedia, tetapi juga memetakan hasil yang mungkin dari sebuah transaksi dengan model penilaian otomatis, peramalan arus kas, dan pemodelan risiko. Produk ini juga mendukung proses transaksi yang biasanya memakan waktu berhari-hari, dengan menggunakan agen AI untuk menangani berbagai tugas secara otomatis.
Startup ini baru saja menerima pendanaan pre-seed sebesar 5 juta dolar yang dipimpin oleh Andreessen Horowitz, serta didukung oleh berbagai investor besar dari sektor teknologi dan keuangan. Dana ini akan digunakan untuk memperluas operasional ke pasar lain seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Emirat Arab, serta untuk mengembangkan produk lebih lanjut.
Mohamed percaya bahwa teknologi proptech generasi berikutnya harus fokus pada peningkatan proses kognisi dan eksekusi yang selama ini tersebar dan lambat di pasar properti. Dengan membangun infrastruktur AI yang lengkap, Smart Bricks berusaha membuat pasar properti menjadi lebih transparan, cepat, dan seperti pasar keuangan modern lainnya.