Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Evolusi Pendanaan Modal Ventura dan Startup dalam Teknologi Global

Share

Perkembangan lanskap pendanaan modal ventura dan startup teknologi didorong oleh investasi besar dan kemunculan perusahaan inovatif di berbagai belahan dunia. Perubahan ini mencerminkan pergeseran kekuatan dan dinamika antara pendiri, investor, dan kebijakan teknologi.

15 Feb 2026, 03.37 WIB

Cherryrock Capital: Investasi Cerdas untuk Pengusaha yang Sering Terlupakan

Cherryrock Capital: Investasi Cerdas untuk Pengusaha yang Sering Terlupakan
Dalam dunia venture capital yang kini didominasi oleh pendanaan besar dan proyek kecerdasan buatan, Stacy Brown-Philpot memilih jalan berbeda dengan membangun Cherryrock Capital. Ia fokus pada investasi seri A dan B yang lebih kecil dengan alasan melihat masih banyak pengusaha yang kurang mendapat akses modal yang sesuai, terutama mereka yang tidak sesuai dengan pola umum Silicon Valley. Brown-Philpot yang sebelumnya CEO TaskRabbit dan veteran Google, menggunakan pengalamannya untuk menjalankan dana yang menargetkan 12-15 perusahaan dari ribuan calon yang telah dia evaluasi. Meski memiliki dana besar, Brown-Philpot bergerak hati-hati dan sudah menanam modal di lima perusahaan dalam setahun sejak peluncuran Cherryrock Capital. Hal menarik dari Cherryrock adalah dukungan institusi besar seperti JPMorgan, Bank of America, dan Goldman Sachs, yang menunjukkan bahwa investasi pada pengusaha kurang terlayani tidak mengabaikan keuntungan finansial. Hal ini juga didukung oleh peraturan pelaporan keberagaman baru di California yang fokus pada transparansi, bukan kuota. Beberapa portofolio Cherryrock termasuk Coactive AI, sebuah perusahaan AI untuk industri media dan hiburan, serta Vitable Health, yang menyediakan asuransi kesehatan berbasis perawatan primer. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana dana ini memilih perusahaan yang tidak hanya punya potensi teknologi tapi juga dampak sosial yang kuat. Brown-Philpot percaya bahwa kebanyakan startup akan diakuisisi daripada IPO, sebuah pandangan realistis di tengah ekosistem yang sering kali terlalu optimis soal publikasi. Tahun 2026, Cherryrock berencana terus aktif menyalurkan dana ke perusahaan yang telah menemukan kecocokan produk-pasar, menyasar pengusaha dari latar belakang beragam dan mengedepankan kejujuran bisnis.
14 Feb 2026, 23.23 WIB

India Luncurkan Dana Modal Ventura Rp 18.37 triliun ($1,1 Miliar) untuk Dukung Startup Deep Tech

India Luncurkan Dana Modal Ventura Rp 18.37 triliun ($1,1 Miliar)  untuk Dukung Startup Deep Tech
Pemerintah India telah menyetujui program dana modal ventura senilai Rp 18.37 triliun ($1,1 miliar) yang akan digunakan untuk mendukung startup di bidang teknologi tinggi dan manufaktur canggih. Program ini dirancang untuk menyalurkan uang pemerintah melalui investor swasta agar bisa fokus pada sektor yang membutuhkan modal besar dan waktu yang lebih lama untuk berkembang. Dana ini adalah kelanjutan dari program sebelumnya yang dimulai pada 2016 dan berhasil mendorong investasi lebih dari Rp 46.76 triliun ($2,8 miliar) ke dalam lebih dari 1.370 startup. Namun, program baru ini bertujuan untuk fokus lebih tajam, dengan dukungan yang lebih kuat terhadap startup deep tech dan memperluas jangkauan pendanaan ke kota-kota di luar kota-kota besar. Peningkatan regulasi juga dibuat supaya startup deep tech bisa menikmati periode pengakuan sebagai startup hingga 20 tahun dan menikmati manfaat pajak dengan batas pendapatan yang dinaikkan hingga sekitar Rp 551.10 miliar ($33 juta) . Ini adalah langkah untuk mengurangi tekanan regulasi dan mendukung pertumbuhan bisnis berteknologi tinggi yang berdampak jangka panjang. Meskipun jumlah startup di India melonjak dari kurang dari 500 pada 2016 menjadi lebih dari 200.000 pada 2025, pendanaan modal ventura justru menurun sebesar 17% dan jumlah transaksi berkurang hampir 39% pada 2025. Kondisi ini memicu pemerintah untuk turun tangan melalui program dana modal ventura yang baru. Program dana modal ventura ini diumumkan menjelang India AI Impact Summit, yang akan dihadiri oleh perusahaan teknologi global terkemuka seperti OpenAI, Google, dan Microsoft. Pemerintah berharap program ini bisa memperkuat ekosistem startup deep tech India dan menjadikan India sebagai pusat inovasi teknologi kelas dunia.
13 Feb 2026, 22.03 WIB

Startup AI Kanada Cohere Raih Pendapatan Rp3,6 Triliun, Siap IPO 2026

Startup AI Kanada Cohere Raih Pendapatan Rp3,6 Triliun, Siap IPO 2026
Cohere, startup AI asal Kanada, berhasil melampaui target pendapatan tahun 2025 dengan mencapai 240 juta dolar AS, lebih tinggi dari target awal 200 juta dolar AS. Pertumbuhan mereka menunjukkan lonjakan yang kuat dengan kenaikan lebih dari 50% setiap kuartal sepanjang tahun. Didirikan pada 2019, Cohere didukung oleh investor teknologi besar seperti Nvidia, AMD, dan Salesforce. Teknologi utamanya adalah model generatif AI yang disebut Command, yang dirancang sangat efisien sehingga bisa dijalankan di GPU dengan kapasitas terbatas, membuat solusi mereka sangat menarik bagi perusahaan yang ingin mengendalikan biaya. Pada musim panas lalu, Cohere meluncurkan platform bernama North yang menyediakan workspace AI untuk perusahaan, memungkinkan pembuatan agen AI kustom dan otomatisasi proses kerja dengan keamanan tinggi. Ini meningkatkan nilai bagi pengguna bisnis dengan kebutuhan AI yang dapat disesuaikan. CEO Cohere, Aidan Gomez, menyatakan pada Oktober 2023 bahwa perusahaan kemungkinan akan melakukan IPO atau penawaran saham perdana dalam waktu dekat, kemungkinan besar pada tahun 2026. Ini akan menempatkan Cohere dalam persaingan langsung dengan pemain besar lainnya seperti OpenAI, Anthropic, dan xAI dari SpaceX. Keberhasilan Cohere menunjukkan bahwa di tengah persaingan ketat dunia AI, inovasi teknologi yang efisien dan fokus pada solusi bisnis menjadi faktor kunci sukses. IPO yang direncanakan akan menjadi momen penting untuk melihat bagaimana startup ini berkembang sebagai pesaing utama di pasar AI global.
13 Feb 2026, 03.18 WIB

Anthropic Kumpulkan Dana 30 Miliar Dolar, Nilai Perusahaan Melonjak Jadi 380 Miliar

Anthropic Kumpulkan Dana 30 Miliar Dolar, Nilai Perusahaan Melonjak Jadi 380 Miliar
Anthropic adalah sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI) yang baru-baru ini berhasil mengumpulkan dana sebesar 30 miliar dolar AS dalam pendanaan Seri G. Dana ini merupakan bagian dari langkah besar perusahaan untuk mengembangkan model-model AI yang lebih canggih dan memperluas basis pelanggannya. Dengan pendanaan baru ini, nilai perusahaan Anthropic melonjak ke angka 380 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelumnya yaitu 183 miliar dolar AS. Ini menunjukkan kepercayaan besar dari investor terhadap potensi teknologi Anthropic di masa depan. Pendanaan ini dipimpin oleh beberapa perusahaan besar seperti GIC dari Singapura dan Coatue, serta didukung oleh nama-nama besar lain seperti D. E. Shaw Ventures, Founders Fund milik Peter Thiel, MGX dari Abu Dhabi, dan beberapa investor ternama seperti Accel dan General Catalyst. Anthropic kini bersaing ketat dengan OpenAI, yang juga sedang mencari pendanaan tambahan sebesar 100 miliar dolar AS untuk memperbesar nilai dan kapasitas teknologi mereka. Dalam persaingan ini, kedua perusahaan berusaha menarik perhatian dan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan bisnis. Menurut Krishna Rao, CFO Anthropic, produk unggulan mereka yang bernama Claude sudah menjadi bagian penting dari operasi banyak bisnis. Dengan dana tersebut, perusahaan akan terus mengembangkan produk yang berkualitas tinggi untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat.
12 Feb 2026, 05.48 WIB

Modal Labs Siap Kumpulkan Dana, Valuasi AI Infrastruktur Capai 2,5 Miliar

Modal Labs Siap Kumpulkan Dana, Valuasi AI Infrastruktur Capai 2,5 Miliar
Modal Labs, sebuah perusahaan startup yang fokus pada teknologi inferensi AI, sedang dalam proses mengumpulkan dana investasi baru dengan valuasi sekitar 2,5 miliar dolar AS. Jika berhasil, valuasi ini akan lebih dari dua kali lipat dari valuasi mereka yang terakhir sebesar 1,1 miliar dolar AS, yang diumumkan kurang dari lima bulan lalu. General Catalyst, salah satu perusahaan modal ventura, dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk memimpin putaran pendanaan ini. Modal Labs sendiri memiliki pendapatan tahunan yang sudah mencapai sekitar 50 juta dolar AS, menandakan keberhasilan mereka dalam produk dan pasar saat ini. Fokus utama Modal Labs adalah mengoptimalkan proses inferensi AI, yaitu menjalankan model AI yang sudah dilatih agar bisa menjawab permintaan pengguna dengan lebih cepat dan efisien. Hal ini sangat penting karena dapat menurunkan biaya komputasi dan mempercepat waktu respons sistem AI. Persaingan di bidang ini juga cukup ketat, dengan perusahaan seperti Baseten dan Fireworks AI yang baru saja mendapatkan pendanaan besar dengan valuasi berkali lipat dalam waktu singkat. Selain itu, beberapa startup lain yang terkait dengan inferensi AI juga mulai menarik perhatian investor besar. Modal Labs didirikan oleh Erik Bernhardsson pada 2021, yang sebelumnya memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di perusahaan teknologi besar seperti Spotify dan Better.com. Keberhasilan startup ini juga didukung oleh investor awal seperti Lux Capital dan Redpoint Ventures.
12 Feb 2026, 00.51 WIB

Bagaimana AI Agen Microsoft Membuka Era Baru untuk Startup dan Perusahaan

Amanda Silver, wakil presiden Microsoft CoreAI, telah bekerja selama lebih dari 24 tahun membantu pengembang. Saat ini, fokusnya adalah membangun sistem AI agen yang dapat digunakan perusahaan untuk mengotomatisasi dan mempercepat berbagai tugas operasional dan pengembangan. Salah satu bidang utama adalah sistem Foundry di Azure yang menyediakan portal AI terpadu untuk perusahaan. Dengan sistem ini, perusahaan dapat dengan mudah menjalankan aplikasi dan agen AI untuk membantu berbagai pekerjaan seperti pemeliharaan kode dan operasi situs langsung. Penggunaan agen AI multi-tahap sudah membantu mengurangi waktu pembaruan perangkat lunak dan mengatasi masalah layanan tanpa harus selalu membangunkan staf 24/7. Hal ini membuat biaya operasional dapat ditekan dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, penerapan agen AI tidak semudah yang dibayangkan karena banyak pengembang belum memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan agen dan data apa yang harus disediakan. Hal ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan dan deployment yang sukses. Amanda juga menekankan bahwa meskipun agen AI dapat banyak mengotomatisasi, tetap dibutuhkan pengawasan manusia terutama dalam proses yang sensitif seperti kewajiban hukum dan produksi kode. Namun, teknologi ini membuka peluang besar bagi startup untuk berkembang lebih cepat dengan sumber daya yang lebih sedikit.
11 Feb 2026, 23.00 WIB

Monaco Luncurkan Platform AI Sales dengan Sentuhan Ahli Manusia untuk Startup

Sam Blond, yang sebelumnya bekerja sebagai venture capitalist di Founders Fund, meninggalkan pekerjaannya untuk kembali ke dunia operasional dan mendirikan startup baru bernama Monaco. Monaco adalah sebuah platform penjualan terbaru yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dengan pengalaman tenaga penjualan manusia. Perusahaan ini bersama dengan saudaranya Brian Blond dan dua co-founder lainnya berhasil mendapatkan investasi sebesar 35 juta dolar Amerika. Kini, Monaco sedang membuka beta publik untuk platform AI penjualan mereka, setelah sebelumnya melakukan pengujian secara tertutup. Monaco menawarkan fitur-fitur seperti sistem manajemen hubungan pelanggan (CRM) yang berbasis AI, database prospek yang dibuat khusus, serta kemampuan AI untuk membuat dan melaksanakan kampanye email, semua diawasi langsung oleh tenaga penjualan berpengalaman agar terhindar dari kesalahan AI. Ide utama Monaco adalah meringankan pekerjaan berat dalam penjualan dengan mengotomatisasi proses-proses yang membosankan seperti menemukan prospek dan menjadwalkan pertemuan, namun tetap mempertahankan sentuhan manusia melalui pengawasan langsung. Hal ini berbeda dari startup penjualan AI lain yang berusaha menggantikan tenaga manusia, sebab Monaco percaya tenaga manusia tetap sangat dibutuhkan. Pasar teknologi penjualan yang melibatkan AI saat ini sangat padat dengan banyak startup dan pemain besar seperti Salesforce dan Hubspot. Namun, Monaco berusaha memanfaatkan celah pasar dengan menawarkan solusi AI-native yang terintegrasi dengan layanan manusia, menyasar khususnya startup tahap awal yang belum bisa merekrut tenaga penjualan profesional secara mandiri. Sam Blond menyatakan bahwa saat ini belum ada produk AI sales yang benar-benar dominan di pasaran, dan Monaco berharap menjadi pemimpin di era perubahan platform penjualan berikutnya. Dengan menggabungkan teknologi dan layanan manusia, mereka ingin membangun masa depan penjualan yang lebih efisien dan efektif untuk startup kecil hingga menengah.
10 Feb 2026, 21.00 WIB

Smart Bricks: AI Baru untuk Mempermudah Investasi Properti Tingkat Lanjut

Mohamed Mohamed mengamati bahwa banyak perusahaan besar seperti BlackRock dan Goldman Sachs menggunakan sistem canggih yang memanfaatkan AI untuk analisis investasi properti. Namun, investor biasa masih menggunakan cara yang lebih tradisional dan tidak terintegrasi, seperti menyimpan data dalam PDF atau komunikasi lewat WhatsApp, yang membuat proses transaksi lambat dan berisiko. Pada tahun 2024, Mohamed meninggalkan pekerjaannya di Boston Consulting Group dan mendirikan Smart Bricks, sebuah startup teknologi properti yang berbasis AI dengan tujuan membantu investor bisa mendapatkan investasi dengan kualitas terbaik. Startup ini menggabungkan berbagai data publik dan khusus untuk menilai harga, likuiditas, riwayat transaksi, dan lain-lain secara otomatis. Smart Bricks tidak hanya menampilkan daftar properti tersedia, tetapi juga memetakan hasil yang mungkin dari sebuah transaksi dengan model penilaian otomatis, peramalan arus kas, dan pemodelan risiko. Produk ini juga mendukung proses transaksi yang biasanya memakan waktu berhari-hari, dengan menggunakan agen AI untuk menangani berbagai tugas secara otomatis. Startup ini baru saja menerima pendanaan pre-seed sebesar 5 juta dolar yang dipimpin oleh Andreessen Horowitz, serta didukung oleh berbagai investor besar dari sektor teknologi dan keuangan. Dana ini akan digunakan untuk memperluas operasional ke pasar lain seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Emirat Arab, serta untuk mengembangkan produk lebih lanjut. Mohamed percaya bahwa teknologi proptech generasi berikutnya harus fokus pada peningkatan proses kognisi dan eksekusi yang selama ini tersebar dan lambat di pasar properti. Dengan membangun infrastruktur AI yang lengkap, Smart Bricks berusaha membuat pasar properti menjadi lebih transparan, cepat, dan seperti pasar keuangan modern lainnya.
10 Feb 2026, 21.00 WIB

Smart Bricks Bawa AI Bantu Investor Raih Kesuksesan Real Estate Modern

Mohamed Mohamed melihat bahwa selama ini investor besar menggunakan teknologi canggih untuk analisis properti, sementara investor biasa masih menggunakan cara konvensional yang lambat dan tidak efisien. Ia memutuskan untuk mendirikan Smart Bricks, sebuah perusahaan proptech dengan teknologi AI yang mampu menganalisis dan mengelola investasi properti dengan lebih modern. Smart Bricks menggunakan jutaan data publik dan data khusus yang dikombinasikan dengan model valuasi otomatis, prediksi arus kas, serta simulasi risiko untuk membantu investor membuat keputusan investasi yang lebih baik. Platform ini tidak hanya menampilkan properti, tapi juga memproyeksikan hasil yang mungkin didapatkan dari sebuah transaksi. Selain analisis, Smart Bricks memiliki kemampuan untuk mengotomatisasi proses transaksi yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu. Dengan bantuan agen AI, platform ini bisa mempercepat alur kerja yang melibatkan banyak pihak seperti pengacara dan broker. Perusahaan ini mendapat suntikan dana pra-benih sebesar 5 juta dolar AS dari berbagai investor ternama termasuk Andreessen Horowitz. Dana ini akan digunakan untuk memperluas pasar ke negara lain seperti Uni Emirat Arab serta mengembangkan produk agar mampu melayani lebih banyak pengguna. Smart Bricks ingin mengubah cara kerja pasar properti agar mirip dengan pasar keuangan modern yang sudah dibantu oleh lapisan intelijen, eksekusi otomatis, dan pengambilan keputusan berkelanjutan berbasis perangkat lunak. Dengan ini, investasi properti akan menjadi lebih cepat, transparan, dan optimal.
08 Feb 2026, 10.30 WIB

India Perpanjang Status Startup untuk Dorong Ekosistem Deep Tech Jangka Panjang

Di India, startup deep tech di sektor seperti ruang angkasa, semikonduktor, dan bioteknologi memerlukan waktu lebih lama untuk berkembang sebelum menjadi produk komersial. Pemerintah India merespon dengan memperpanjang status startup menjadi 20 tahun agar sesuai dengan siklus pengembangan yang panjang di bidang tersebut. Selain memperpanjang periode pengakuan startup, batas pendapatan untuk mendapatkan manfaat pajak, bantuan, dan regulasi juga dinaikkan dari 1 miliar rupiah ke 3 miliar rupiah. Hal ini membantu startup deep tech agar tidak kehilangan statusnya terlalu cepat saat masih dalam tahap pengembangan. Pemerintah juga membentuk dana Research, Development and Innovation (RDI) sebesar ₹1 triliun untuk mendukung pembiayaan yang sabar bagi startup deep tech, dengan dana ini dianggarkan agar sejalan dengan masa investasi investor swasta. Selain itu, aliansi deep tech yang melibatkan banyak venture capital juga mulai menunjukkan kerja sama untuk memperkuat ekosistem ini. Meskipun investor swasta mulai lebih percaya mendanai startup deep tech dengan total Rp 27.55 triliun ($1,65 miliar) di tahun 2025, jumlah ini masih jauh lebih kecil dibandingkan pendanaan di AS dan China. Pemerintah berharap kebijakan terbaru dan dana RDI akan membuat lebih banyak modal masuk ke startup deep tech di India. Bagi pendiri startup, perubahan aturan ini mengurangi tekanan agar cepat mencapai pendapatan besar dan menjadikan India tempat yang lebih layak untuk membangun dan mengembangkan teknologi canggih secara jangka panjang. Namun, tantangan besar tetap ada pada akses modal tahap lanjut dan pengembangan pasar global.
Setelahnya

Baca Juga

  • Penegakan Regulasi dan Antitrust Teknologi Global

  • Krisis Rantai Pasokan Hardware dan Gangguan Pasar

  • Konferensi Teknologi dan Ketahanan Komunitas

  • Evolusi Konten Streaming dan Hiburan Digital

  • Tantangan dalam Tenaga Kerja Teknologi dan Tren Pekerjaan