Fokus
Finansial

Pembasmian Kekayaan Tersembunyi dan Penggelapan Fiskal Secara Global

Share

Berbagai negara, termasuk China dan Indonesia, tengah berupaya mengungkap praktik pencucian uang dan penggelapan fiskal yang mengakumulasi kekayaan tersembunyi. Kolaborasi antara regulator dan institusi keuangan diharapkan mampu membawa transparansi serta memastikan keadilan dalam sistem fiskal global.

30 Jan 2026, 18.20 WIB

Kasus Harta Karun Romawi Senilai Jutaan Euro Seret Penemu ke Pengadilan

Kasus Harta Karun Romawi Senilai Jutaan Euro Seret Penemu ke Pengadilan
Pada tahun 1985, Félix Biancamaria dan dua temannya menemukan ratusan koin emas dan sebuah piring emas Romawi saat menyelam di sekitar Korsika. Penemuan ini bukan hanya kebetulan biasa; mereka menemukan harta karun yang sekarang dikenal dengan nama 'Harta Karun Lava', dipercaya berasal dari abad ke-3. Nilai harta karun ini diperkirakan sangat tinggi, mencapai hingga 8 juta euro atau sekitar 160 miliar rupiah. Awalnya, koin-koin langka ini dijual secara diam-diam dengan harga murah. Namun, keberadaan koin tersebut ternyata menarik perhatian komunitas numismatik dan publik setelah beberapa koin langka muncul dalam lelang di daratan Prancis. Hal ini menyebabkan penyelidikan intensif dan penggerebekan oleh pihak berwenang, yang menemukan pola penyelaman berulang serta lonjakan kekayaan dari para penemu. Pada 1995, para pelaku termasuk Félix dihukum karena terlibat penyelundupan harta karun tersebut. Meskipun hukuman penjara bersyarat dan denda dijatuhkan, sebagian besar koin dan medali emas sudah tersebar di berbagai koleksi pribadi di berbagai negara, membuat penelusuran dan pengembalian koin sangat sulit meskipun Interpol sudah turun tangan. Keadaan menjadi semakin rumit ketika piring emas yang ternyata bagian dari harta tersebut ditemukan pada 2010 saat Félix ditangkap mencoba menjualnya secara ilegal di Bandara Charles de Gaulle. Dalam persidangan, Félix mengklaim bahwa penemuan itu ditemukan di darat, sehingga menurutnya ia berhak atas sebagian kepemilikan. Sedangkan negara Prancis menegaskan bahwa harta tersebut milik negara karena ditemukan di perairan laut mereka. Sidang ini kini menjadi tonggak penting yang akan menentukan nasib hukum Félix dan mengatur bagaimana regulasi dan kepemilikan terhadap harta karun arkeologis di bawah laut dapat diterapkan ke depan. Kasus ini menunjukkan betapa besar dampak dari penemuan tidak sengaja yang mengubah hidup seseorang, sekaligus memicu perdebatan hukum yang kompleks dan mendalam.
29 Jan 2026, 17.45 WIB

Kontrol Modal China Picu Ledakan Pencucian Uang Kripto Senilai Miliaran

Kontrol Modal China Picu Ledakan Pencucian Uang Kripto Senilai Miliaran
Aktivitas pencucian uang di China telah mencapai angka sangat tinggi, sekitar Rp 734.80 miliar (US$44 juta) per hari sepanjang tahun lalu. Pencucian uang ini banyak dilakukan melalui jaringan kripto berbahasa Mandarin yang dikenal dengan nama CLMN. Jaringan ini tumbuh pesat dan mulai mendominasi pasar pencucian uang kripto global. Laporan Chainalysis menunjukkan bahwa CLMN kini menguasai 20 persen dari pangsa pasar pencucian uang kripto dan telah memproses dana hingga Rp 268.87 triliun (US$16,1 miliar) pada 2025. Jaringan ini menggunakan lebih dari 1.799 dompet aktif yang dibantu oleh beberapa layanan seperti Black U, Gambling insider, Money movement, dan lain-lain untuk menjalankan aktivitas ilegal tersebut. Salah satu penyebab utama pertumbuhan ini adalah kontrol modal ketat yang diberlakukan di China. Individu kaya yang ingin memindahkan uangnya keluar dari China menggunakan layanan pencucian uang ini sebagai perantara agar transaksi tetap tersembunyi dan tidak terdeteksi otoritas. Menurut analis dan ahli keuangan, peralihan dari metode tradisional ke sistem transfer berbasis kripto membuat pencucian uang lebih mudah dan cepat dilakukan secara rahasia. Dengan kripto, dana bisa berpindah lintas negara tanpa pengawasan manual atau catatan fisik yang rumit. Prediksi ke depan mengindikasikan bahwa aktivitas pencucian uang kripto ini akan terus berkembang seiring teknologi kripto yang makin maju. Otoritas global akan menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan dan menegakkan hukum untuk mencegah penyalahgunaan sistem keuangan digital tersebut.
27 Jan 2026, 19.00 WIB

Penemuan Cadangan Emas Terbesar Dunia di China Bisa Ubah Industri Global

Penemuan Cadangan Emas Terbesar Dunia di China Bisa Ubah Industri Global
Para peneliti di Provinsi Hunan, China, menemukan cadangan emas terbesar di dunia yang terkubur di kedalaman 3.000 meter. Dengan total lebih dari 1.000 ton emas, nilai cadangan ini diperkirakan mencapai Rp 1.43 quadriliun (US$85,9 miliar) atau sekitar Rp 1.440 triliun. Penemuan emas ini dilakukan setelah pengeboran pada 2.000 dan dilanjutkan pada 3.000 meter. Teknologi pemodelan tiga dimensi yang digunakan oleh Biro Geologi Hunan memungkinkan pemetaan formasi emas dengan sangat akurat. Hal ini membuat pengeboran menjadi lebih tepat sasaran, termasuk di area-area pinggiran, sehingga memaksimalkan potensi penemuan emas yang terkandung dalam inti batuan. Penemuan ini diperkirakan akan menarik minat besar dari investor domestik dan perusahaan tambang global. Selain itu, pengembangan infrastruktur jaringan transportasi dan energi baru di wilayah terkait juga diprediksi akan meningkat sebagai respons atas temuan besar ini. Selain temuan di Hunan, China juga baru saja menemukan deposit emas bawah laut terbesar Asia di lepas pantai Laizhou, Provinsi Shandong, dengan cadangan mencapai 3.900 ton. Penemuan-penemuan lain di Provinsi Liaoning dan Pegunungan Kunlun juga melengkapi posisi China sebagai salah satu negara dengan cadangan emas terbesar di dunia. Menurut data dunia, total emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah mencapai sekitar 216.265 ton, dan China kini semakin mengonsolidasikan cadangannya. Produksi emas domestik di Amerika Serikat juga meningkat pada 2024 dengan nilai mencapai Rp 200.40 triliun (US$12 miliar) , menunjukkan persaingan global dalam industri emas yang terus berkembang.