
Pada tanggal 22 Januari 2026, TikTok resmi menjadi entitas mayoritas milik Amerika Serikat setelah diwajibkan melepaskan kepemilikan ByteDance. Langkah ini menyebabkan gangguan besar di platform, seperti tertundanya pembayaran dan kehilangan fungsi yang sebelumnya mendukung kreator dan merek di TikTok.
Banyak pengguna melaporkan performa konten yang menurun drastis dengan jumlah tayangan sangat rendah, kadang di bawah 1.000, bahkan beberapa kreator menemukan video mereka tertahan dalam proses review selama berjam-jam tanpa hasil yang jelas. Masalah ini membuat kepercayaan para kreator menurun karena jangkauan adalah kunci untuk menjalin kemitraan dengan merek.
Selain itu, metrik di platform menjadi tidak dapat diandalkan, ada situasi aneh dimana jumlah like melebihi jumlah view, yang secara teknis tidak mungkin. Beberapa kreator dan pengelola sosial media melaporkan kehilangan akses ke data analitik yang sangat penting dalam mengelola konten dan strategi pemasaran mereka.
Melihat ketidakpastian ini, banyak kreator sudah mulai beralih atau mengembangkan konten mereka di platform lain seperti YouTube Shorts, Instagram, dan platform baru seperti UpScrolled yang menjanjikan kontrol lebih besar terhadap konten tanpa intervensi algoritmik yang berat. Ini menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu platform.
Agensi dan pelaku bisnis disarankan untuk mengadopsi strategi multi-platform agar terhindar dari dampak negatif yang mungkin timbul akibat kondisi TikTok yang sedang tidak stabil. Ke depan, platform dengan kontrol terpusat yang ketat akan semakin sulit diandalkan untuk koneksi jangka panjang antara merek dan konsumen.