Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Keanekaragaman Laut Dalam: Mengungkap Penemuan Luar Biasa Kehidupan Laut

Share

Serangkaian eksplorasi dan penelitian di lautan dalam, terutama di wilayah Indonesia dan lokasi global lainnya, telah mengungkapkan penemuan hewan laut yang unik dan adaptif. Temuan-temuan ini menantang pemahaman konvensional tentang perilaku hewan dan memberikan wawasan penting untuk konservasi serta studi ekologi laut.

02 Feb 2026, 19.40 WIB

Lost City: Kota Bawah Laut yang Ungkap Asal Usul Kehidupan Kini Terancam

Lost City: Kota Bawah Laut yang Ungkap Asal Usul Kehidupan Kini Terancam
Para ilmuwan telah menemukan sebuah kota bawah laut bernama Lost City Hydrothermal Field yang berada lebih dari 700 meter di bawah permukaan Samudra Atlantik, dekat dengan puncak gunung bawah laut di Mid-Atlantic Ridge. Kota ini terdiri dari struktur menara karbonat yang menjulang hingga 60 meter dan telah aktif selama minimal 120.000 tahun. Keunikan Lost City terletak pada proses kimianya, di mana mantel bumi bereaksi dengan air laut menghasilkan hidrogen, metana, dan hidrokarbon tanpa bantuan sinar matahari. Kondisi ini menjadi sumber energi bagi mikroba yang hidup tanpa oksigen, mirip keadaan Bumi pada masa sangat awal ketika kehidupan pertama kali muncul. Ekosistem di Lost City berbeda dengan ventilasi hidrotermal lain seperti black smokers, karena menghasilkan lebih banyak hidrogen dan metana yang membentuk cerobong karbonat raksasa. Monolit besar bernama Poseidon dan ventilasi yang mengeluarkan cairan karbonat membentuk struktur yang sangat unik. Namun, keberadaan Lost City sedang terancam oleh hak penambangan laut dalam yang diberikan kepada Polandia di sekitar kawasan tersebut sejak 2018. Meskipun ladang hidrotermalnya tidak mengandung sumber daya bernilai ekonomi, penambangan dapat merusak habitat unik ini. Para ilmuwan menyerukan agar Lost City ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia demi melindungi situs bersejarah dan unik ini. Perlindungan jangka panjang sangat penting untuk menjaga kesempatan belajar tentang kehidupan awal Bumi dan kemungkinan ekosistem serupa di planet lain.
31 Jan 2026, 17.30 WIB

BRIN dan OceanX Teliti Biodiversitas Laut Sulawesi Utara dengan Teknologi Canggih

BRIN dan OceanX Teliti Biodiversitas Laut Sulawesi Utara dengan Teknologi Canggih
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama organisasi internasional OceanX menyelesaikan misi penelitian laut kedua yang berlangsung pada 5-24 Januari 2026. Fokus utama penelitian adalah mempelajari biodiversitas, oseanografi, serta perangkat pengumpul ikan (FAD atau rumpon) di laut utara Sulawesi Utara. Kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memperkuat kapasitas eksplorasi laut Indonesia. Selama ekspedisi, tim menemukan 14 spesies megafauna laut, termasuk 10 mamalia laut, 2 hiu, dan 2 penyu. Penemuan tersebut diperoleh melalui pantauan udara dari helikopter kapal serta teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding yang memungkinkan deteksi keberadaan hewan secara tidak langsung dari genetik yang tertinggal di air. Salah satu temuan menonjol adalah kemungkinan identifikasi paus paruh Longman (Indopacetus pacificus) yang belum tercatat sebelumnya di wilayah perairan Indonesia. Penelitian ini membuka peluang untuk memperkaya data biodiversitas dan memberikan dasar baru dalam pengelolaan dan konservasi laut di Indonesia. Dalam ekspedisi ini, digunakan dua kapal selam berawak, Nadir dan Neptune, dengan fungsi berbeda, yaitu untuk dokumentasi visual dan pengambilan sampel ilmiah. Keberadaan kapal riset canggih tersebut menunjang pengumpulan data yang lebih detail dan lengkap serta mendukung analisis lebih lanjut di laboratorium di kapal. Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, menegaskan pentingnya mendokumentasikan hasil serta menyimpan sampel sesuai protokol agar bisa dijadikan referensi pengembangan kapal riset nasional. Ke depan, penelitian ini akan dilanjutkan menggunakan kapal riset Indonesia sendiri dengan fasilitas yang tidak kalah canggih dari kapal eksternal.
29 Jan 2026, 12.05 WIB

Riset Laut Dalam BRIN & OceanX Ungkap Keanekaragaman Hayati Sulawesi Utara

Riset Laut Dalam BRIN & OceanX Ungkap Keanekaragaman Hayati Sulawesi Utara
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas. Banyak bagian dari laut Indonesia, terutama laut dalam, belum banyak diteliti sehingga menyimpan potensi besar untuk ilmu pengetahuan dan ekonomi. Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan OceanX melakukan penelitian lautan yang mendalam di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Sulawesi Utara. Penelitian ini berfokus pada gunung bawah laut atau seamounts yang merupakan habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut dalam. Mereka menggunakan kapal riset canggih bernama OceanXplorer untuk memetakan dasar laut hingga kedalaman 4.500 meter. Metode ini memungkinkan pengumpulan data geologi dan informasi tentang makhluk hidup besar di laut, seperti mamalia laut dan sebaran rumpon. Menurut Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, sekitar 70% laut Indonesia adalah laut dalam yang belum pernah dieksplorasi. Hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menemukan sumber daya alam baru yang bermanfaat secara ilmiah dan ekonomi. Misi riset ini juga menegaskan bahwa seluruh data dan sampel akan dikelola di dalam negeri tanpa dikirim ke luar negeri untuk menjaga kedaulatan data. Kegiatan riset ini melibatkan banyak pihak dari lembaga riset nasional, universitas, dan organisasi terkait. Selain itu, keamanan riset dijaga ketat dengan keterlibatan TNI AL dan Kementerian Pertahanan agar seluruh proses berjalan sesuai prosedur nasional. Setiap hari, tim melakukan pengambilan sampel, pemetaan, dan analisis data yang disusun secara rapih dan terkoordinasi dengan baik. Kolaborasi ini juga diharapkan menjadi awal dari riset kelautan berkelanjutan di Indonesia. Para peneliti Indonesia mendapat pengalaman berharga dalam menggunakan teknologi canggih kapal riset. Di masa depan, riset ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penggunaan sumber daya laut dalam secara lebih optimal, yang dapat memperkuat aspek keanekaragaman hayati dan geologi perairan Indonesia.
29 Jan 2026, 09.59 WIB

Penemuan Langka Hiu Goblin di Gran Canaria Buka Misteri Laut Dalam

Penemuan Langka Hiu Goblin di Gran Canaria Buka Misteri Laut Dalam
Pada tanggal 4 Mei 2024, hiu goblin yang sangat jarang terlihat berhasil ditangkap sementara oleh nelayan di lepas pantai Gran Canaria, Kepulauan Canary. Hiu dengan panjang lebih dari 8 kaki ini dilepaskan kembali ke laut dalam setelah hanya 10 sampai 15 menit berada di permukaan. Hiu goblin memiliki ciri khas moncong panjang dan rahang yang dapat menjulur untuk menangkap ikan dan cumi-cumi di kedalaman laut yang gelap. Ukuran hiu ini bisa mencapai hingga 6 meter, dengan pertumbuhan yang lambat dan masa dewasa yang terlambat. Sebelumnya, hanya kurang dari 250 individu hiu goblin yang tercatat di seluruh dunia. Penemuan di Canary Islands menjadi catatan pertama di wilayah tersebut dan menambah data penting tentang ekologi dan distribusinya di Samudra Atlantik. Hiu goblin berkembang biak dengan cara aplacental viviparous, yaitu melahirkan anak yang sudah hidup tanpa adanya plasenta, dan anaknya mengkonsumsi telur yang belum dibuahi selama masa perkembangan. Strategi reproduksi ini membuat mereka rentan terhadap gangguan manusia walaupun hidup jauh di dalam laut. Kondisi laut di sekitar Kepulauan Canary yang bebas dari penangkapan ikan trawl sejak 1980-an membuat lingkungan ini menjadi tempat yang potensial sebagai kawasan perlindungan bagi hiu laut dalam, meskipun penangkapan tak sengaja masih terjadi.
29 Jan 2026, 09.37 WIB

Penelitian Baru Ungkap Reproduksi Hiu Epaulette Tidak Menguras Energi Seperti Diduga

Penelitian Baru Ungkap Reproduksi Hiu Epaulette Tidak Menguras Energi Seperti Diduga
Reproduksi pada hewan sering kali dianggap sebagai proses yang sangat menguras energi, terutama bagi hiu yang berkembang biak lambat dan memberi investasi besar pada keturunannya. Namun, sebuah penelitian terbaru dari James Cook University menantang anggapan lama ini dengan mempelajari langsung energi yang digunakan hiu epaulette saat bertelur. Hiu epaulette adalah spesies hiu kecil yang terkenal karena kemampuannya berjalan di karang menggunakan siripnya. Peneliti mengukur penggunaan oksigen, sebagai indikasi pembakaran energi, pada lima hiu betina selama proses pembuatan telur dalam kondisi terkontrol. Hasilnya sangat mengejutkan karena tidak ada peningkatan metabolisme yang signifikan saat hiu bertelur. Selain pengukuran metabolisme, peneliti juga memantau hormon dan parameter darah terkait oksigen. Semua data menunjukkan stabilitas selama siklus reproduksi, kecuali lonjakan testosteron kecil di awal. Hal ini menunjukkan bahwa proses reproduksi hiu ini mungkin tidak sesulit yang kita kira dari segi energi. Penjelasan yang diajukan mencakup strategi pembiakan 'income breeding' dimana hiu menggunakan energi dari makanan harian yang stabil, berbeda dengan pengeluaran energi besar dalam waktu singkat. Juga, organ pembentuk telur yang kecil mungkin tidak menyebabkan lonjakan metabolisme besar dalam tubuh hiu secara keseluruhan. Temuan ini penting karena menunjukan bahwa beberapa spesies hiu bisa lebih tahan terhadap perubahan lingkungan seperti pemanasan lautan dibandingkan yang diperkirakan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi bagaimana reproduksi hiu bereaksi terhadap suhu dan kondisi alami yang berubah-ubah.
27 Jan 2026, 20.10 WIB

Rahasia Nama Lumba-Lumba: Komunikasi Suara Unik yang Mirip Manusia

Lumba-lumba terkenal karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan sosial yang kompleks. Salah satu aspek menarik dari komunikasi mereka adalah penggunaan 'signature whistles' atau suara khas yang berfungsi seperti nama unik individu. Setiap lumba-lumba mengembangkan suara ini sejak kecil dan mempertahankannya sepanjang hidup sebagai tanda pengenal. Berbeda dengan panggilan hewan lainnya yang berubah-ubah sesuai suasana hati atau lingkungan, signature whistle lumba-lumba selalu konsisten dan hanya mengandung informasi identitas. Penelitian telah menunjukkan bahwa lumba-lumba mampu mengenali siapa yang memanggil mereka hanya dari suara tanda tangan tersebut, bahkan ketika unsur lain dari suara dihilangkan. Selain itu, lumba-lumba dapat meniru suara tanda tangan lumba-lumba lain, khususnya milik teman dekat, untuk memanggil dan berinteraksi secara spesifik, mirip seperti kita menyebut nama seseorang dalam percakapan. Ini menunjukkan tingkat komunikasi yang sangat canggih di antara mereka. Studi terbaru juga mengungkap bahwa lumba-lumba memiliki memori sosial jangka panjang yang luar biasa, dimana mereka dapat mengenali suara tanda tangan lumba-lumba lain meskipun sudah lama terpisah. Kemampuan ini sangat membantu dalam mempertahankan ikatan sosial dalam lingkungan laut yang luas dan terbatas visibilitasnya. Meskipun banyak aspek dari sistem komunikasi ini masih belum sepenuhnya dipahami, kemajuan teknologi terbaru membantu ilmuwan untuk terus meneliti dan mengembangkan pengetahuan tentang bahasa dan kecerdasan lumba-lumba. Penemuan ini membuktikan bahwa konsep nama, identitas, dan ikatan sosial tidak hanya milik manusia saja.

Baca Juga

  • Rebalancing Ilmu Pengetahuan Global: Migrasi Talenta AS–Cina dan Investasi Kolaboratif

  • Tantangan Meningkat di Indonesia: Cuaca Ekstrem dan Bahaya Geologis

  • Peringatan Megatsunami Apokaliptik: Gelombang 200 Meter Mengancam

  • Reformasi Penerbitan Ilmiah di Era Media Sosial

  • Pengungkapan Kosmik: Menyingkap Rahasia Pembentukan Bintang dan Supernova