
Perang yang terjadi di Gaza memberi dampak besar pada hubungan diplomatik antara China dan Israel. China yang mendukung Palestina menimbulkan ketegangan dengan Israel, terutama karena kedekatan Israel dengan Amerika Serikat yang menjadi lawan utama China dalam persaingan global.
Meski begitu, kerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi antara kedua negara di tingkat masyarakat sipil masih terus berjalan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa di balik konflik diplomatik, ada ruang untuk kerjasama dalam bidang yang penting seperti teknologi dan inovasi.
Yaroslav Efimov, seorang kepala ilmu pengetahuan dari PLANETech yang tergabung dalam Israel Innovation Institute, melakukan kunjungan ke China untuk mempromosikan teknologi dan sistem inovasi Israel. Dia bertemu dengan berbagai lembaga di China untuk mencari peluang kolaborasi yang saling menguntungkan.
Efimov menekankan pentingnya pemahaman bersama tentang kebutuhan dari kedua belah pihak. Dia percaya bahwa sektor energi dan pertanian sangat berpotensi untuk dijadikan lahan kerja sama antar China dan Israel, apalagi fokus mereka adalah pada teknologi perubahan iklim dan perkembangan inovasi.
Para ahli hubungan internasional memperingatkan bahwa konflik di Gaza dan rivalitas antara China dan Amerika Serikat dapat membuat hubungan diplomatik China dan Israel menjadi lebih rumit. Namun, Efimov optimis bahwa dunia ilmu pengetahuan berbicara dalam bahasa universal yang dapat mempererat kerjasama meski ada perbedaan politik.