
Astronom telah lama menggunakan pelat kaca sebagai metode pengamatan langit sebelum era digital. Pelat kaca ini merekam data kosmik selama lebih dari satu abad dan menyimpan catatan penting tentang fluktuasi objek langit seperti bintang, black hole, dan ledakan kosmik yang tidak selalu teramati oleh teknologi modern.
Observatorium Vera C. Rubin yang mulai beroperasi pada tahun 2026 menandai era baru survei langit dengan kamera digital sangat canggih. Observatorium ini dapat merekam objek sangat redup dan melacak perubahan langit dengan sangat cepat, memperluas dan memperdalam pengamatan astronomi waktu-dominio.
Proyek digitalisasi pelat kaca seperti DASCH di Harvard memungkinkan akses lebih luas kepada data historis ini, menghubungkan masa lalu astronomi dengan data modern dan memungkinkan studi fenomena kosmik secara kronologis selama lebih dari satu abad.
Sementara teknologi modern unggul dalam kecepatan dan volume data, pelat kaca memiliki nilai unik dalam menyediakan data jangka panjang, yang sangat dibutuhkan untuk memahami evolusi fenomena astronomi seperti supernova, black hole aktif, dan bintang biner.
Untuk memastikan data berharga ini tidak hilang, penting bagi komunitas astronomi untuk lebih menghargai, melestarikan, dan mendigitalkan arsip pelat kaca yang rentan rusak atau hilang, sehingga ilmu pengetahuan bisa terus berkembang dengan pemahaman tentang alam semesta yang lebih lengkap.