Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Finansial

Perburuan Investasi AI oleh Raksasa Teknologi: Strategi Berbeda di Tengah Ketidakpastian

Share

Cerita ini mengulas bagaimana para pemain utama seperti Apple, Amazon, Microsoft, dan Tesla mengambil pendekatan berbeda dalam mengembangkan dan mengintegrasikan teknologi AI. Dengan adanya investasi besar-besaran, upaya monetisasi yang beragam, serta kekhawatiran atas gelembung pasar dan pengawasan regulasi, dinamika persaingan di sektor AI menjadi kunci dalam menentukan masa depan teknologi.

30 Jan 2026, 06.51 WIB

Bagaimana Apple Monetisasi AI? Jawaban Tim Cook yang Mengecewakan Investor

Bagaimana Apple Monetisasi AI? Jawaban Tim Cook yang Mengecewakan Investor
Apple baru saja mengumumkan laporan keuangan kuartalan yang mengesankan dengan pendapatan sebesar 143,8 miliar dolar AS, meningkat 16% dibanding tahun sebelumnya. Meski performa keuangannya bagus, ada pertanyaan penting yang jarang dibahas tentang bagaimana Apple dan perusahaan teknologi lainnya akan menghasilkan uang dari pengembangan kecerdasan buatan (AI). Selama panggilan konferensi hasil kuartal, seorang analis dari Morgan Stanley, Erik Woodring, berani menanyakan secara langsung kepada CEO Apple, Tim Cook, bagaimana mereka berencana memonetisasi investasi dalam AI. Pertanyaan ini dianggap berani karena biasanya topik seperti ini dihindari atau dijawab secara samar oleh para eksekutif industri teknologi. Jawaban Tim Cook atas pertanyaan tersebut terdengar umum dan tidak memberikan gambaran konkret. Ia menyebut bahwa Apple akan menghadirkan AI yang terintegrasi secara pribadi dan privasi ke produk serta layanan mereka, yang akan menciptakan nilai dan membuka berbagai peluang bisnis. Namun, tidak ada detail spesifik mengenai strategi monetisasi. Kasus serupa juga terjadi pada OpenAI, perusahaan yang terkenal dengan ChatGPT-nya. Mereka belum berencana menghasilkan keuntungan hingga tahun 2030 dan diperkirakan membutuhkan dana tambahan sebanyak 207 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan teknologi besar belum memiliki model ekonomi jelas untuk AI meskipun teknologi ini sangat hype. Situasi ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan untuk berinovasi dan berinvestasi di AI, industri teknologi masih mengalami kebingungan tentang bagaimana menerjemahkan kemajuan teknologi ini menjadi keuntungan nyata. Investor dan pelaku pasar kemungkinan akan terus menuntut kejelasan strategi monetisasi AI ke depan.
30 Jan 2026, 05.11 WIB

Amazon Berencana Investasi Besar ke OpenAI, Persaingan AI Semakin Sengit

Amazon Berencana Investasi Besar ke OpenAI, Persaingan AI Semakin Sengit
OpenAI, perusahaan yang sudah sangat besar dan bernilai sekitar 500 miliar dolar, kini sedang mencari pendanaan tambahan sebesar 100 miliar dolar. Pendanaan tersebut dapat membuat valuasi perusahaan ini melonjak hingga 830 miliar dolar. Menurut laporan Wall Street Journal, Amazon sedang mempertimbangkan untuk menginvestasikan setidaknya 50 miliar dolar dalam putaran pendanaan ini. CEO Amazon, Andy Jassy, sedang melakukan negosiasi langsung dengan CEO OpenAI, Sam Altman. Di luar Amazon, OpenAI juga berdiskusi dengan dana kekayaan negara yang ada di Timur Tengah, serta perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan SoftBank. Kesepakatan ini mungkin akan selesai pada akhir kuartal pertama tahun ini. Hal yang menarik dari potensi kemitraan ini adalah hubungan Amazon dengan Anthropic, perusahaan pesaing OpenAI. Amazon sudah menginvestasikan lebih dari 8 miliar dolar ke Anthropic dan AWS menjadi penyedia utama layanan cloud bagi Anthropic. Amazon bahkan baru saja membuka kampus pusat data senilai 11 miliar dolar di Indiana yang didedikasikan khusus untuk menjalankan model-model Anthropic. Ini membuat kolaborasi dengan OpenAI sangat menarik dan berpotensi mengubah lanskap industri AI di masa depan.
30 Jan 2026, 03.06 WIB

Microsoft Borong Investasi Besar di Cloud dan AI, Apakah Bakal Untung?

Microsoft Borong Investasi Besar di Cloud dan AI, Apakah Bakal Untung?
Microsoft baru saja mengumumkan laporan keuangan kuartal yang sangat kuat dengan pendapatan mencapai 81,3 milyar dolar AS, naik 17% dibandingkan sebelumnya, dan laba bersih yang melonjak 21% menjadi 38,3 milyar dolar AS. Pendapatan dari layanannya di bidang cloud juga mencapai rekor baru lebih dari 50 milyar dolar AS. Namun kabar baik ini ternyata tidak membuat harga sahamnya naik karena investor khawatir dengan biaya besar yang dikeluarkan untuk membangun layanan tersebut. CEO Microsoft, Satya Nadella, berusaha meyakinkan para investor dalam panggilan pendapatan bahwa investasi besar ini akan membuahkan hasil. Dalam setengah tahun pertama fiskal ini, Microsoft telah menghabiskan 72,4 milyar dolar AS untuk modal dibandingkan dengan total 88,2 milyar dolar AS tahun lalu. Banyak dari biaya tersebut digunakan untuk layanan AI, termasuk untuk mitra besar seperti OpenAI dan Anthropic. Meskipun investasi besar, pertumbuhan produk utama Microsoft seperti Azure dan Microsoft 365 dianggap kurang memenuhi ekspektasi pasar. Beberapa analis melihat ini sebagai poin negatif, walaupun ada pula yang tetap optimis. Misalnya, khusus untuk produk AI bernama GitHub Copilot yang digunakan oleh para programmer, jumlah pelanggan berbayar meningkat 75% menjadi 4,7 juta orang, menunjukkan bisnis yang sehat. Nadella juga menyebut ada peningkatan besar dalam penggunaan AI di Microsoft 365 dan beberapa produk AI lain seperti Dragon Copilot di bidang kesehatan. Produk ini kini digunakan oleh sekitar 100.000 tenaga medis dan membantu mendokumentasikan jutaan kasus pasien. Walau begitu, angka pengguna harian produk AI konsumen tidak jelas sehingga masih menimbulkan tanda tanya akan dampak luasnya. Pihak Microsoft meyakini permintaan layanan AI jauh melebihi kapasitas data center yang ada, sehingga hampir semua kapasitas yang dibangun sudah dipesan penuh. Ini menunjukkan keyakinan perusahaan terhadap peluang jangka panjang, walau tantangan mencari pengguna dan meningkatkan pendapatan dari investasi besar ini tetap harus dihadapi.
29 Jan 2026, 04.52 WIB

Tesla Investasi 2 Miliar Dolar di xAI, Langkah Besar ke Era AI Robotik

Tesla Investasi 2 Miliar Dolar di xAI, Langkah Besar ke Era AI Robotik
Baru-baru ini, xAI, perusahaan AI milik Elon Musk, berhasil mengumpulkan 20 miliar dolar dalam putaran pendanaan Seri E. Menariknya, Tesla, perusahaan otomotif yang juga dipimpin oleh Musk, adalah salah satu investor utama yang menyumbang 2 miliar dolar. Meski mayoritas pemegang saham Tesla sempat menolak investasi ini dalam suara nonbinding, Tesla tetap melanjutkan investasi karena melihat adanya potensi sinergi jangka panjang dengan xAI. Tesla menjelaskan bahwa investasi ini bagian dari Master Plan Part IV mereka, yang fokus pada integrasi AI ke produk fisik, seperti kendaraan dan robot. xAI mengembangkan teknologi digital AI seperti chatbot Grok, yang telah mulai diintegrasikan ke dalam beberapa kendaraan Tesla. Selain itu, Tesla juga telah memasok baterai Megapack untuk pusat data milik xAI, menandakan adanya kerja sama erat antara kedua perusahaan. Kerjasama ini juga diperluas melalui kesepakatan kerangka kerja yang memungkinkan dua perusahaan untuk mengeksplorasi kolaborasi teknologi AI secara lebih luas. Rencana jangka panjang meliputi pengembangan AI untuk robot humanoid Optimus, kendaraan truk listrik, dan teknologi otonom lainnya yang akan mempercepat kemampuan Tesla dalam inovasi fisik dan digital. Meskipun ada kontroversi dari para pemegang saham, Tesla menganggap investasi ini sebagai bagian dari strategi untuk terus mendominasi pasar dengan produk yang lebih cerdas dan terintegrasi. Keberhasilan Tesla menggandeng xAI juga didukung oleh para investor besar seperti Nvidia, Cisco, serta perusahaan investasi internasional lainnya yang menaruh harapan besar pada masa depan AI. Investasi ini diharapkan resmi selesai pada kuartal pertama tahun ini dan akan membawa dampak besar pada pengembangan AI fisik yang menyentuh banyak aspek kehidupan manusia. Dengan teknologi seperti robot humanoid dan kendaraan otonom, masa depan penggabungan AI dan teknologi fisik menjadi semakin nyata dan mendekat.
29 Jan 2026, 02.58 WIB

Investasi Miliar Dolar di AI dan Quantum: Peluang Besar untuk Masa Depan

Investasi Miliar Dolar di AI dan Quantum: Peluang Besar untuk Masa Depan
Investor sedang mencari peluang besar di dunia kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat. Dari konferensi di Davos, terlihat bahwa investasi di bidang AI semakin besar dan fokus bergeser dari hanya menciptakan teknologi baru ke bagaimana memanfaatkan AI secara efektif dalam berbagai sektor bisnis dan pemerintahan. Para ahli dan pelaku investasi memperkirakan pengeluaran untuk infrastruktur AI, terutama pusat data, akan tumbuh drastis hingga 1,4 triliun dolar pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan betapa besarnya kesempatan yang hadir bagi investor untuk terlibat dalam rantai bisnis terkait AI, termasuk layanan, chip, dan kebutuhan energi. Selain AI, teknologi komputasi kuantum juga mulai diperhitungkan sebagai solusi baru yang mampu mengoptimalkan problem rumit, seperti logistik dan perhitungan kompleks lainnya, bahkan akan mempengaruhi geopolitik dan operasi perusahaan besar. Disisi lain, diskusi tentang pendidikan dalam era AI menyoroti pentingnya mengajarkan siswa untuk berpikir baik dengan AI maupun tanpa AI. Pendekatan ini mengarah pada integrasi teknologi yang produktif dalam proses belajar tanpa takut pada masalah kecurangan akibat AI. Kesimpulan akhir dari panel ini adalah bahwa investor harus melihat dua fokus utama dalam AI: para pengembang teknologi dan para pengguna yang mengadopsi AI. Terutama sektor kesehatan yang dianggap sangat menjanjikan karena AI berpotensi mengurangi biaya di bidang farmasi dan uji klinis.
21 Jan 2026, 08.30 WIB

Perbedaan Besar Investasi AI AS dan China dalam Persaingan Teknologi Global

Tahun lalu, investasi modal ventura di bidang kecerdasan buatan (AI) mencapai angka fantastis yakni 175 miliar dolar AS di Amerika Serikat. Jumlah ini hampir 30 kali lipat dibandingkan dengan investasi yang dilakukan di China yang hanya mencapai 6 miliar dolar AS pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan besar dalam fokus dan besaran pendanaan di sektor AI antara dua negara adidaya tersebut. China memilih jalur berbeda dari AS dengan mengandalkan pemerintah sebagai pendorong utama investasi. Negara ini banyak mengalokasikan dananya pada pengembangan teknologi dasar seperti semikonduktor agar bisa mengatasi masalah keterbatasan akses terhadap chip canggih yang sangat penting untuk kemajuan AI. Strategi ini menjadi fokus utama China untuk membangun kekuatan teknologi internal. Sedangkan Amerika Serikat lebih mengandalkan sektor swasta yang sangat aktif dan besar dalam investasi. AS lebih memprioritaskan pembangunan pusat data dan infrastruktur energi yang dapat mendukung kebutuhan listrik besar untuk menjalankan teknologi AI secara luas. Ini mencerminkan pendekatan yang berbeda antara sektor privat AS dengan sistem pemerintah China dalam pengembangan AI. Dalam total pengeluaran di bidang AI dari kedua sumber, baik swasta maupun negara, China mengeluarkan dana sekitar 165 miliar dolar AS dalam beberapa tahun terakhir. Namun, total tersebut masih jauh di bawah pengeluaran Amerika Serikat yang mencapai 563 miliar dolar AS, baik dari perusahaan teknologi besar maupun pemerintah federal. Ini menegaskan bahwa AS tetap lebih unggul dalam investasi AI secara keseluruhan. Perbedaan yang mencolok dalam fokus investasi ini tidak hanya karena cara pendanaan yang berbeda, tetapi juga karena adanya kesenjangan dalam infrastruktur canggih dan chip khusus untuk AI yang dimiliki oleh kedua negara. Persaingan dalam pengembangan AI ini diperkirakan akan semakin ketat, terutama karena kedua negara memiliki strategi yang berbeda dalam menghadapi tantangan teknologi dan geopolitik.

Baca Juga

  • Mereformasi Ekosistem Ride-Hailing Indonesia untuk Kompensasi Pengemudi yang Adil

  • Memberdayakan Pemimpin Masa Depan melalui Peningkatan Dana Riset dan Inovasi

  • Perubahan Investasi Kedaulatan di China di Tengah Ketegangan Politik

  • Represi Regulasi Keuangan di China: Menekan Pencucian Uang, Penggelapan Pajak, dan Spekulasi Pasar

  • Mengubah Lanskap Ride-Hailing di Indonesia: Menyeimbangkan Kesejahteraan Pengemudi dan Pertumbuhan