Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Perubahan Strategis Tesla: Mengintegrasikan Robotik dan AI untuk Atasi Tantangan EV

Share

Tesla sedang mengalihkan fokus bisnisnya dengan menghentikan beberapa model mobil listrik tradisional demi membuat ruang bagi inovasi robotik dan AI. Investasi besar dalam xAI dan persiapan Optimus robot menunjukkan strategi perusahaan untuk mengatasi penurunan pendapatan dan persaingan yang ketat di industri EV.

30 Jan 2026, 20.00 WIB

Elon Musk dan Strategi Tesla Bak Cortés: Bertaruh Total pada Mobil Otonom Kamera Saja

Elon Musk dan Strategi Tesla Bak Cortés: Bertaruh Total pada Mobil Otonom Kamera Saja
Tesla memiliki strategi yang berbeda dari banyak perusahaan pengembang mobil otonom, seperti Waymo atau Baidu, dengan hanya mengandalkan kamera dan perangkat keras yang sudah terpasang di mobil mereka tanpa menambah sensor radar atau LIDAR. Mereka berharap kemampuan software dan machine learning bisa membuat mobil-mobil Tesla bisa mengemudi sendiri dengan aman, tanpa memerlukan pengawasan manusia di dalam kendaraan. Sementara itu, kompetitor seperti Waymo dan Baidu justru menggunakan berbagai alat canggih pada mobil mereka dan berhasil menjalankan robotaxi tanpa pengemudi jauh lebih awal, bahkan memberikan layanan ribuan perjalanan mingguan kepada pelanggan. Tesla, meskipun sudah mengumumkan fitur self-driving sejak 2016, hingga sekarang belum berhasil mengoperasikan sistem yang benar-benar bebas pengawasan secara luas di jalan umum. Elon Musk sengaja memilih strategi yang terkesan ‘membakar kapal’ agar timnya tidak punya pilihan selain sukses. Ia bahkan menghilangkan radar yang dulu dipakai dan terus mengeluarkan versi hardware baru karena versi sebelumnya ternyata tidak cukup kuat untuk mendukung fitur-fitur pengemudi otomatis yang lebih canggih. Ada dugaan Tesla masih menggunakan pengawasan jarak jauh dan chase car untuk mendukung demonstrasi mereka tentang robotaxi. Strategi ini berisiko tinggi, karena membuat Tesla harus memecahkan masalah yang lebih sulit dengan hardware keterbatasan dan tanpa sistem sensor ganda yang bisa meningkatkan keselamatan. Namun, jika berhasil, Tesla bisa memimpin pasar dengan melakukan peningkatan software pada jutaan mobil yang sudah terjual tanpa perlu mengganti hardware sensor mahal. Sampai sekarang masih banyak skeptisisme tentang kapan Tesla bisa benar-benar mengoperasikan robotaxi tanpa pengawasan. Musk berjanji akan memperkenalkan dalam beberapa kota di tahun 2026, tapi ada tanda-tanda mereka masih bergantung pada pengawasan manusia secara remote pada beberapa demonstrasi. Waktu akan menunjukkan apakah strategi berani ini akan membawa Tesla sukses besar, atau justru mereka harus mengubah pendekatan.
30 Jan 2026, 19.25 WIB

Tesla Alami Penurunan, Beralih Fokus ke AI dan Robotika

Tesla Alami Penurunan, Beralih Fokus ke AI dan Robotika
Tesla mengalami penurunan pendapatan sebesar 3% pada tahun 2025, diikuti oleh penurunan laba hingga 61% pada kuartal terakhir tahun tersebut. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah perusahaan mengalami penurunan tahunan. Penurunan ini terjadi di tengah perubahan strategi bisnis Tesla yang bergerak dari fokus kendaraan listrik murni ke bidang kecerdasan buatan dan robotika. Sebagai bagian dari strategi baru tersebut, Tesla menghentikan produksi dua model premium, Model S dan Model X. Pabrik di California yang selama ini memproduksi kedua model itu akan dialihfungsikan untuk memproduksi robot humanoid bernama Optimus, yang dinilai sebagai lini bisnis masa depan perusahaan. Di sisi lain, posisi Tesla dalam pasar global kendaraan listrik mendapat tekanan besar dari perusahaan China, BYD, yang kini mengungguli Tesla dalam volume penjualan kendaraan listrik secara global. Hal ini menunjukkan persaingan yang semakin ketat di segmen EV. Selain pengembangan robotika, Tesla juga melakukan investasi sebesar Rp 33.40 triliun (US$2 miliar) ke perusahaan AI milik Elon Musk, xAI. Keputusan ini dilakukan atas permintaan investor meski menuai sejumlah suara abstain dan penolakan dalam pemungutan suara pemegang saham. Rencana ambisius lain dari Tesla adalah meningkatkan belanja modal hingga Rp 334.00 triliun (US$20 miliar) sebagai upaya membangun masa depan perusahaan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kontroversi, termasuk reaksi negatif akibat keterlibatan Elon Musk dalam politik, saham Tesla tetap naik sekitar 2% setelah penutupan bursa. Analis menilai penghentian Model S dan Model X adalah langkah logis untuk fokus pada produk yang memiliki volume besar seperti Model 3 dan Model Y.
30 Jan 2026, 12.12 WIB

Tesla dan Rival Tiongkok Bersaing Kembangkan Mobil Terbang dan Robot AI

Tesla dan Rival Tiongkok Bersaing Kembangkan Mobil Terbang dan Robot AI
Tesla tampaknya menghadapi tantangan besar di pasar Tiongkok dengan penurunan pengiriman mobil serta profitabilitas yang melemah sepanjang tahun lalu. Meskipun demikian, perusahaan tetap berkomitmen untuk bertransformasi dari produsen kendaraan menjadi perusahaan berbasis kecerdasan buatan fisik yang lebih luas. Sementara Tesla mengalami penurunan, para pesaingnya di Tiongkok seperti Xpeng, Li Auto, dan Nio justru semakin agresif dalam mengembangkan teknologi inovatif, termasuk mobil generasi berikutnya yang bukan hanya berfungsi sebagai kendaraan biasa saja. Tidak hanya mobil, para pesaing ini juga fokus memproduksi produk futuristik seperti mobil terbang, robot humanoid dan chip ciptaan sendiri. Langkah ini ditujukan untuk membangun sejumlah ekosistem yang dapat memberikan konsumen berbagai alternatif transportasi yang lebih modern dan canggih. Pengaruh Tesla terhadap pengembangan teknologi di kalangan perusahaan mobil listrik Tiongkok tetap sangat signifikan. Tesla dianggap sebagai pionir yang menggerakkan perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk meningkatkan kapasitas teknologi berpindah ke ranah AI dan robotik. Dengan masuknya teknologi baru ke pasar seperti mobil terbang dan robot pintar, persaingan antara Tesla dan rival-rival Tiongkok diprediksi akan semakin ketat. Konsumen memiliki pilihan lebih banyak, dan inovasi dalam transportasi modern akan menjadi faktor penentu di masa depan.
29 Jan 2026, 09.30 WIB

Produksi Mobil Tesla Turun, Elon Musk Fokus ke Robot Humanoid

Produksi Mobil Tesla Turun, Elon Musk Fokus ke Robot Humanoid
Tesla mengalami penurunan produksi mobil sebesar 7 persen dan penurunan pengiriman hingga 9 persen pada tahun 2025, sebuah tantangan besar bagi perusahaan yang dikenal sebagai pelopor kendaraan listrik. Pendapatan tahunan Tesla tercatat sebesar Rp 1.58 quadriliun (US$94,8 miliar) , menurun 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi pertama kalinya pendapatan turun dalam sejarah perusahaan. Meskipun penjualan menurun, pendapatan dan laba kotor Tesla pada kuartal terakhir tahun 2025 berhasil melampaui ekspektasi para analis, dengan pendapatan mencapai Rp 415.83 triliun (US$24,9 miliar) dan laba kotor sebesar Rp 83.50 triliun (US$5 miliar) . Hal ini menunjukkan ada potensi pemulihan dan efisiensi dalam operasi Tesla. Persaingan ketat dari produsen mobil listrik asal China, seperti BYD, menjadi salah satu faktor utama yang menekan performa Tesla di pasar global. Selain itu, aktivitas politik CEO Elon Musk, termasuk hubungannya dengan mantan Presiden AS Donald Trump, juga diperkirakan berdampak negatif pada penjualan Tesla, khususnya di pasar Eropa. Dalam upaya menghadapi tantangan ini, Tesla mengumumkan akan menghentikan produksi model mobil listrik unggulannya, Model S dan Model X, mulai kuartal berikutnya. Sebagai gantinya, pabrik Tesla di Fremont, California, akan dialihfungsikan menjadi fasilitas produksi robot humanoid bernama Optimus, yang merupakan proyek ambisius perusahaan. Elon Musk menargetkan agar Tesla dapat memproduksi hingga 1 juta robot humanoid Optimus setiap tahunnya di masa depan. Musk juga menjanjikan pengenalan model terbaru dari robot tersebut, Optimus 3, dalam waktu dekat. Langkah ini menunjukkan perubahan fokus bisnis Tesla dari kendaraan listrik menuju robotika sebagai strategi jangka panjang.
29 Jan 2026, 05.49 WIB

Tesla Hentikan Model S dan X Demi Produksi Robot Humanoid Optimus

Tesla Hentikan Model S dan X Demi Produksi Robot Humanoid Optimus
Tesla mengumumkan akan menghentikan produksi dua mobil andalannya, Model S dan Model X, pada kuartal kedua tahun 2026. Keputusan ini diambil setelah penjualan kedua mobil tersebut menurun akibat fokus perusahaan yang bergeser ke model yang lebih terjangkau seperti Model 3 dan Model Y. Elon Musk menyatakan bahwa penghentian ini juga bertujuan untuk memberikan ruang produksi di pabrik Fremont bagi robot humanoid Tesla yang bernama Optimus. Robot ini menjadi bagian penting dari visi baru Tesla yang ingin berkembang dari sekadar perusahaan otomotif menjadi perusahaan teknologi robotik. Model S yang diluncurkan sejak 2012 dan Model X yang hadir sejak 2015 sudah bukan menjadi prioritas Tesla karena penjualannya terus turun. Bahkan penjualan keseluruhan untuk Model S, Model X, dan Cybertruck tahun 2025 mengalami penurunan sebesar 40,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Upaya Tesla untuk bertransformasi fokus ke mobil swakemudi dan robot humanoid menyebabkan tantangan besar, terlihat dari penurunan laba perusahaan yang sampai 61 persen pada kuartal keempat terbaru. Ini menunjukkan bahwa perubahan strategi ini tidak mudah dan membutuhkan waktu serta investasi yang besar. Dengan penghentian Model S dan Model X, Tesla berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi untuk proyek baru mereka, termasuk Optimus, yang diharapkan menjadi produk revolusioner. Namun, transisi ini membawa risiko di mana permintaan pasar dan performa perusahaan harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah lebih besar di masa depan.
29 Jan 2026, 04.52 WIB

Tesla Investasi 2 Miliar Dolar ke xAI, Dorong Masa Depan AI dan Robotika

Tiga minggu lalu, perusahaan AI milik Elon Musk bernama xAI mengumumkan penggalangan dana sebesar 20 miliar dolar dalam putaran pendanaan Seri E. Kini terungkap bahwa Tesla menjadi salah satu investor utamanya dengan menyuntikkan 2 miliar dolar ke xAI, yang juga memiliki perusahaan media sosial X. Investasi ini sebenarnya sempat ditolak dalam pemungutan suara pemegang saham Tesla karena aturan perusahaan yang menganggap abstain sebagai suara menolak. Meski begitu, Tesla tetap melanjutkan investasi dan memberikan alasan bahwa langkah ini sesuai dengan rencana master plan terbaru mereka. Tesla dan xAI menyepakati kerangka kerja yang memungkinkan kolaborasi yang lebih erat dalam pengembangan teknologi AI. Tesla pun sudah memasok baterai untuk data center xAI dan mulai memasukkan chatbot Grok milik xAI ke dalam beberapa produk kendaraannya. Selain itu, xAI merencanakan pengembangan AI untuk robot humanoid yang serupa dengan robot Optimus Tesla. Elon Musk menekankan bahwa kalau xAI dapat membantu mempercepat kemajuan Tesla dalam teknologi otonom dan robotika, maka investasi tersebut sangat layak dilakukan. Tahun ini, Tesla berencana meningkatkan pengeluaran modalnya untuk mengembangkan kemampuan otonomi kendaraan dan memproduksi robot Optimus secara massal. Semua langkah ini diharapkan meningkatkan posisi Tesla sebagai pelopor dalam integrasi AI dan teknologi fisik di masa depan.
29 Jan 2026, 04.28 WIB

Tesla Siapkan Robot Humanoid Optimus Generasi Ketiga untuk Produksi Massal 2026

Tesla mengumumkan akan meluncurkan versi ketiga dari robot humanoid Optimus yang akan difokuskan untuk produksi massal pada kuartal pertama tahun 2026. Versi ini akan membawa sejumlah peningkatan besar, termasuk desain tangan terbaru yang lebih canggih dan fungsional. Persiapan untuk jalur produksi pertama robot ini sudah berjalan dan dijadwalkan akan mulai sebelum akhir tahun 2026. Tesla menargetkan kapasitas produksi robot mencapai 1 juta unit per tahun, sebuah target yang sangat ambisius bagi perusahaan otomotif ini. Elon Musk sebelumnya pernah memprediksi bahwa Tesla akan memproduksi sekitar 5.000 robot pada tahun 2025. Namun, banyak pihak meragukan apakah target ini tercapai mengingat berbagai kendala yang dihadapi selama tahap pengembangan dan peluncuran awal robot ini. Selain untuk dipakai di pabrik Tesla, Musk memiliki visi robot Optimus dapat digunakan sebagai asisten rumah tangga dan bahkan tenaga medis atau ahli bedah di masa depan. Robot ini juga bakal dijual ke konsumen mulai tahun depan, sebagai bagian dari usaha Tesla mendiversifikasi sumber pendapatan. Meski ada masalah seperti kegagalan teleoperation dan pengunduran diri kepala divisi robotika Tesla, proyek Optimus dianggap sangat krusial tidak hanya untuk masa depan teknologi Tesla tapi juga sangat berpengaruh terhadap paket kompensasi senilai 1 triliun dolar bagi Elon Musk, yang mengharuskan produksi masif robot tersebut.
28 Jan 2026, 15.10 WIB

Tesla Jatuh, Nilai Brand Turun Drastis karena Minim Inovasi dan Kontroversi Elon Musk

Tesla menghadapi penurunan besar dalam nilai merek pada tahun 2025, dengan penurunan sekitar 35% yang setara dengan Rp 257.18 triliun (US$15,4 miliar) atau Rp257 triliun. Penurunan ini membuat nilai brand mereka saat ini hanya sekitar Rp 461.09 triliun (US$27,61 miliar) atau Rp460 triliun dibandingkan Rp 1.11 quadriliun (US$66,2 miliar) di puncaknya tahun 2023. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk minimnya inovasi untuk model-model baru Tesla dan harga produknya yang dianggap masih relatif tinggi dibandingkan dengan pesaingnya di pasar otomotif. Faktor-faktor ini membuat Tesla kehilangan daya tarik di mata konsumen. Selain itu, kontroversi yang kerap melibatkan CEO Tesla, Elon Musk, juga turut memberi tekanan besar pada nilai brand. Keterlibatan Musk dalam masalah geopolitik dan fokusnya yang terpecah pada bisnis mobil otomatis dinilai mengganggu kepercayaan pasar dan merusak reputasi perusahaan. Beberapa produsen mobil global seperti Mercedes-Benz, Volkswagen, Porsche, dan Toyota kini berhasil melampaui nilai brand Tesla. Toyota justru meraih nilai brand tertinggi di industri otomotif pada 2025 dengan nilai sekitar Rp 1.05 quadriliun (US$62,7 miliar) atau Rp1.046 triliun. Sementara itu, pesaing utama Tesla di segmen mobil listrik, BYD asal China, mengalami peningkatan nilai brand sebesar 23% menjadi sekitar Rp 288.74 triliun (US$17,29 miliar) atau Rp288 triliun, menunjukkan pergeseran kekuatan di industri otomotif global.

Baca Juga

  • Alibaba Mempercepat Inovasi AI dengan Qwen dan Kemajuan Chip

  • Penguatan Keamanan Siber untuk Infrastruktur Kritis

  • Penyusunan Ulang Rantai Pasokan Teknologi Global di Tengah Ketegangan Geopolitik

  • Generator Dunia AI Google Mengguncang Industri Video Game

  • Munculnya Ekosistem Robotik: Platform Terbuka Memacu Integrasi AI Praktis