
ASML, perusahaan Belanda pembuat peralatan pembuatan chip, mengalami perubahan signifikan dalam pola penjualannya akibat larangan AS yang membatasi ekspor mesin tercanggihnya ke China. Meskipun penjualan secara keseluruhan meningkat, penjualan ke China turun tajam yang disebabkan oleh pembatasan perdagangan tersebut.
Penjualan mesin DUV yang lebih lama dan bisa dijual ke China turun 6 persen menjadi 12 miliar euro di tahun 2025, setelah sebelumnya sempat terjadi lonjakan pengiriman pasca-pembukaan pembatasan Covid-19 di China. Sementara itu, permintaan mesin DUV di China diperkirakan akan kembali normal pada tahun 2026.
Mesin EUV yang merupakan teknologi paling canggih dari ASML tidak boleh dikirim ke China karena sanksi AS. Penjualan mesin ini malah naik 39 persen mencapai 11,6 miliar euro di tahun 2025, berkat permintaan kuat dari Eropa, AS, dan wilayah lain.
Secara keseluruhan, penjualan mesin ASML meningkat 12,4 persen menjadi 24,47 miliar euro berkat lonjakan permintaan mesin EUV, yang mendapat dorongan besar dari perkembangan sektor kecerdasan buatan. Pesanan pada kuartal terakhir 2025 melonjak 186 persen menjadi 13,2 miliar euro, termasuk 7,4 miliar untuk mesin EUV.
CEO ASML memproyeksikan pertumbuhan permintaan mesin EUV akan terus berlanjut di tahun 2026, sementara porsi pendapatan dari China diperkirakan turun ke sekitar 20 persen akibat keterbatasan perdagangan. Ini menunjukkan tantangan dan peluang di industri semikonduktor global.