
Operasi militer AS-Israel menggunakan sistem AI seperti Palantir dan model Claude untuk mengolah data intelijen besar dalam persiapan serangan terhadap Iran. AI membantu menyaring dan mengidentifikasi pola dalam data dengan lebih cepat dibandingkan manusia. Namun, keputusan penargetan tetap dipegang oleh manusia.
Serangan misil pada 28 Februari di sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran, menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak, memicu kecaman internasional, terutama dari China. Penggunaan AI dalam persiapan serangan ini memunculkan perdebatan hukum dan etika tentang penggunaan teknologi dalam konflik bersenjata. Sumber dari AS menegaskan bahwa AI hanya berperan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan utama.
Kejadian ini menyoroti kebutuhan akan regulasi ketat terkait penggunaan AI dalam operasi militer agar menghindari kesalahan tragis di masa depan. Sementara teknologi mempercepat analisis intelijen, tanggung jawab moral dan keputusan akhir harus selalu berada di tangan manusia. Kondisi ini membuka diskusi global terkait peran dan batas penggunaan AI dalam peperangan.