Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus

Dominasi Hipersonik & Maritim

Share

Kumpulan artikel ini mengeksplorasi perkembangan teknologi militer berkecepatan tinggi dan platform laut canggih, mulai dari pengembangan rudal hipersonik, scramjet, dan drone supersonik hingga kapal selam nuklir, kapal penjelajah otonom, dan peningkatan sistem deteren. Artikel juga membahas inovasi mesin jet tempur beradaptasi AI serta produksi kapal tanpa awak untuk misi stealth jarak jauh. Fokus utamanya adalah persaingan global dalam memperkuat keunggulan tempur di udara dan laut.

04 Mar 2026, 16.09 WIB

AS Gunakan Munisi Mengendap LUCAS Dalam Serangan Presisi ke Infrastruktur Militer Iran

AS Gunakan Munisi Mengendap LUCAS Dalam Serangan Presisi ke Infrastruktur Militer Iran
Operasi Epic Fury melibatkan penggunaan sistem munisi mengendap buatan AS bernama LUCAS (FLM 136) dalam kampanye bersama Israel untuk melumpuhkan infrastruktur militer Iran. Sistem ini mengoperasikan misi serang-loiter flight secara presisi di wilayah pertahanan udara yang padat dan berbahaya. LUCAS memiliki panjang sekitar 9,8 kaki dengan bobot maksimum lepas landas 180 pon, dilengkapi kemampuan beroperasi hingga 6 jam dengan jangkauan 563.27 km (350 mil) nautikal. Drone ini dapat membawa hingga 40 pon muatan peledak modular untuk menyerang target bergerak seperti peluncur rudal dan radar, diluncurkan dari kapal perang maupun posisi darat. Penggunaan LUCAS memungkinkan tekanan berkelanjutan terhadap target bernilai tinggi sambil mengurangi risiko bagi pilot dan menghemat biaya misi. Pendekatan ini menggambarkan perubahan strategi militer AS menuju penggunaan drone murah dan tahan lama sebagai pelengkap serangan presisi dalam konflik terkini.
04 Mar 2026, 07.56 WIB

Pentagon Gunakan Roket Komersial dan Cetak 3D untuk Uji Coba Senjata Hipersonik

Pentagon Gunakan Roket Komersial dan Cetak 3D untuk Uji Coba Senjata Hipersonik
Pentagon melalui Defense Innovation Unit meluncurkan misi Cassowary Vex yang melibatkan uji terbang demonstrator hipersonik DART AE menggunakan roket komersial HASTE dari Rocket Lab. Misi ini merupakan langkah pertama DIU mengoperasikan testbed hipersonik komersial di bawah program HyCAT. Hypersonix menyediakan kendaraan uji bermesin scramjet berbahan bakar hidrogen yang dibuat dengan teknologi cetak 3D menggunakan paduan logam tahan suhu tinggi. Modifikasi roket HASTE mendukung peluncuran suborbital untuk pengujian mesin udara dengan memisahkan payload pada ketinggian rendah. Langkah ini bertujuan mengatasi keterbatasan fasilitas uji hipersonik pemerintah yang sedikit dan mahal. Dengan platform komersial dan manufaktur aditif, Pentagon berharap siklus pengujian jadi lebih cepat dan ekonomis sehingga pengembangan senjata hipersonik bisa dipercepat.
03 Mar 2026, 19.50 WIB

Rolls-Royce Sukses Uji Mesin Baru F130 untuk B-52J Stratofortress

Rolls-Royce Sukses Uji Mesin Baru F130 untuk B-52J Stratofortress
Rolls-Royce telah menyelesaikan pengujian penting mesin F130 yang akan menggantikan mesin lawas Pratt & Whitney TF33 pada pesawat B-52J. Pengujian dilakukan di Arnold Engineering Development Complex dan mencakup uji ketinggian serta uji operabilitas mesin. Ujian ini menunjukkan mesin siap menghadapi misi jangka panjang dan kondisi penerbangan nyata. Boeing juga menguji Integrated Drive Generator untuk memastikan mesin dapat memberikan tenaga listrik yang stabil dan andal. Rolls-Royce menegaskan mesin F130 memiliki umur panjang dan perawatan rendah serta hadir dengan kemampuan pertukaran komponen dual-pod yang memudahkan logistik. Produksi akan dilakukan di fasilitas Indianapolis dengan investasi lebih dari 1,5 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun terakhir. Setelah pengujian ini selesai, Rolls-Royce akan melanjutkan dengan tahap integrasi sistem dan uji coba dual-pod di NASA Stennis Space Center. Data uji yang terkumpul akan digunakan untuk memodelkan kinerja mesin dalam berbagai skenario misi, memperkuat keyakinan terhadap pilihan mesin ini untuk B-52J. Hal ini menjanjikan peningkatan efisiensi dan kemampuan operasional Angkatan Udara AS.
03 Mar 2026, 19.34 WIB

Italia Luncurkan Kapal Selam U212NFS Modern untuk Perkuat Angkatan Laut

Italia Luncurkan Kapal Selam U212NFS Modern untuk Perkuat Angkatan Laut
Italia memulai pembangunan kapal selam U212 Near Future Submarine (NFS) terbaru yang bertujuan menggantikan armada kapal selam lama dari tahun 1980-an. Fincantieri sebagai perusahaan galangan kapal di Muggiano memimpin konstruksi kapal pertama sejak 2022 dengan target operasional pada 2029. Program empat kapal ini diharapkan selesai pada 2032. Kapal selam U212 NFS menawarkan berbagai peningkatan, termasuk penggunaan baterai lithium-ion dan sistem tempur generasi baru yang meningkatkan kemampuan senyap, daya tahan, dan keamanan siber. Kapal memiliki displacement 1.600 ton, kru 29 orang, serta dilengkapi rudal jelajah jarak jauh dan torpedo Black Shark dari Leonardo. Pabrik Power4Future juga dibangun untuk memproduksi baterai tersebut. Inovasi ini memungkinkan Angkatan Laut Italia menangani ancaman bawah laut yang semakin kompleks serta memperkuat misi perlindungan wilayah maritim dan kebebasan navigasi. Program ini juga membuka peluang upgrade teknologi untuk kapal selam lama dan memperkuat posisi pertahanan maritim Italia di masa depan.
03 Mar 2026, 06.45 WIB

Pentagon Kembangkan Kapal Kargo Otonom Agar Logistik di Wilayah Konflik Lebih Aman

Pentagon Kembangkan Kapal Kargo Otonom Agar Logistik di Wilayah Konflik Lebih Aman
Pentagon mengumumkan inisiatif untuk mengembangkan kapal kargo otonom kecil yang dapat digunakan di wilayah perairan berbahaya untuk mengurangi risiko personel. Tujuannya adalah mendukung operasi logistik yang tersebar dalam lingkungan litoral yang diperebutkan oleh berbagai ancaman. Proyek ini diharapkan mampu menyediakan kapal murah, dengan sistem navigasi yang handal dan tahan gangguan. Kapak yang dibutuhkan harus memiliki kapasitas angkut minimal 9 ton, berkecepatan minimal 12 knot, dan mampu menempuh jarak antara 1.000 sampai 2.0.00 km (000 mil) di laut. Kapal juga harus memiliki profil rendah dan cukup kecil agar dapat diangkut dengan truk trailer standar. Sistem otonom kapal harus dapat beroperasi walaupun dalam kondisi GPS dan komunikasi terganggu serta tahan terhadap usaha pembajakan musuh. Dengan adanya kapal-kapal otonom ini, Pentagon berharap dapat meningkatkan efektifitas dan keamanan dalam rantai pasokan di daerah peperangan pesisir. Kapal tersebut juga bisa menghancurkan diri jika terancam ditangkap musuh sehingga mencegah informasi atau teknologi jatuh ke tangan yang salah. Ini merupakan pergeseran signifikan dalam strategi logistik militer yang mengutamakan kelincahan dan pengurangan risiko personel.
02 Mar 2026, 19.24 WIB

Boeing Perlihatkan Bocoran Mesin Baru untuk Pesawat Tempur Generasi Keenam F-47

Boeing sedang mengembangkan pesawat tempur generasi keenam F-47 untuk menggantikan F-22 Raptor, dengan prototipe pertama dijadwalkan terbang pada 2028. Program ini merupakan bagian dari Next Generation Air Dominance (NGAD) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara Amerika Serikat secara signifikan. Pratt & Whitney merilis video menampilkan mesin XA-103 yang akan digunakan oleh F-47, dengan fitur peningkatan thrust 10% dan jangkauan 25% lebih jauh dibanding mesin F-35. Video tersebut juga menunjukkan potensi desain pesawat dengan modifikasi sayap delta dan konfigurasi tanpa ekor. Jika berhasil, F-47 akan menjadi pesawat tempur utama dengan teknologi canggih seperti manajemen termal yang unggul dan AI yang mampu mengunci target secara cepat. Hal ini akan memperkuat dominasi udara Amerika dan mengantisipasi ancaman masa depan secara efektif.
27 Feb 2026, 20.35 WIB

Israel dan Jerman Luncurkan Kapal Selam Otonom BlueWhale untuk Tugas Militer Laut

Sebuah perusahaan pertahanan Israel bernama Israel Aerospace Industries (IAI) telah mengembangkan dan menyerahkan kapal selam bawah laut otonom pertama kepada Angkatan Laut Jerman. Kapal ini dinamakan BlueWhale dan dirancang untuk mendukung operasi maritim rahasia dan perang anti-kapal selam tanpa awak. BlueWhale dilengkapi dengan berbagai sensor canggih yang mampu melakukan pengintaian, mendeteksi target baik di permukaan maupun bawah laut, serta mengumpulkan data akustik. Kapal ini juga dapat mengidentifikasi ranjau laut sebagai bagian dari tugasnya dalam pengamanan laut. Sistem ini dikembangkan bersama Atlas Elektronik yang merupakan anak perusahaan TKMS, perusahaan pertahanan asal Jerman. Kerja sama ini menghasilkan teknologi sonar yang memungkinkan BlueWhale melakukan deteksi dan pengawasan bawah laut dengan lebih efektif di lingkungan yang sulit dan bising. Salah satu keunggulan BlueWhale adalah kemampuannya beroperasi secara otonom selama berminggu-minggu dan dapat dengan mudah dipindahkan menggunakan kontainer standar. Sistem pengendali cerdas di dalam kapal membantu mengelola sensor dan distribusi energi selama operasi berjalan. Menurut perwakilan Atlas Elektronik, pengembangan BlueWhale sejalan dengan rencana masa depan marinir Jerman ‘Kurs Marine 2035+’ dan membantu memperkuat kemampuan pertahanan laut negara tersebut secara signifikan agar siap menghadapi ancaman modern.
26 Feb 2026, 19.41 WIB

Kapal Otonom Liberty Class Siap Dukung Armada Laut AS dengan Produksi Cepat

Blue Water Autonomy bekerja sama dengan Damen Shipyards mengembangkan kapal perang otonom Liberty Class yang bisa dikerahkan dengan sangat cepat. Kapal ini dirancang untuk mendukung kapal berawak dengan menjalankan tugas-tugas yang lebih sederhana secara mandiri selama hingga tiga bulan tanpa manusia di dalamnya. Kapal Liberty Class menggunakan desain hull 'axe bow' dari kapal komersial Damen Stan Patrol 6009 yang telah digunakan di lebih dari 300 kapal di seluruh dunia. Dengan panjang 58 meter dan kapasitas muatan lebih dari 150 ton, kapal ini siap menjalankan misi dengan efisien dan memiliki jangkauan lebih dari 10.0.00 km (000 mil) laut. Produksi kapal dilakukan di Conrad Shipyard, Louisiana, menggunakan teknologi otomatisasi seperti panel otomatis dan pengelasan robotik. Hal ini memungkinkan pembangunan beberapa kapal secara bersamaan dengan target produksi antara 10 sampai 20 kapal per tahun. Berbeda dengan kapal berawak, Liberty Class tidak memiliki ruang kru sehingga menghilangkan kebutuhan sistem plumbing, pemanas, dan ventilasi yang rumit. Ini mempercepat waktu produksi dan mengurangi bobot kapal, menjadikannya lebih efisien untuk operasi otonom. Dengan kapal pertama yang siap diluncurkan dalam waktu dekat, teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas operasional angkatan laut AS dengan kapal yang dapat menjalankan berbagai misi seperti membawa misil, sensor, dan logistik tanpa campur tangan manusia secara langsung.
26 Feb 2026, 16.08 WIB

Prancis Luncurkan Kapal Selam Nuklir Canggih De Grasse untuk Perkuat Armada Baru

Prancis telah memulai fase berikutnya dari program pembaruan kapal selam bawah lautnya dengan mengirimkan kapal selam serang bertenaga nuklir De Grasse untuk diuji coba laut pertama kali pada 24 Februari 2026. Kapal ini menjadi yang keempat dalam seri Suffren yang akan menggantikan armada lama kelas Rubis. Pada Desember 2025, reaktor nuklir De Grasse telah diaktifkan, sebuah pencapaian besar yang menandai kesiapan kapal menuju operasi aktif. Kapal selam ini dirancang untuk pengujian sistem tempur, propulsi, dan performa reaktor dalam kondisi operasi nyata. Program Barracuda, yang dikelola oleh badan pengadaan pertahanan Prancis dan didukung oleh CEA serta perusahaan Naval Group dan TechnicAtome, bertujuan membangun enam kapal selam kelas Suffren dengan kemampuan canggih, termasuk teknologi stealth dan armament modern. Setiap kapal selam memiliki bobot sekitar 4.700 ton saat muncul dan 5.100 ton ketika menyelam, dengan kemampuan menyelam lebih dari 350 meter serta kecepatan melebihi 25 knot. Kapal-kapal ini dipersiapkan untuk bertugas hingga lebih dari 30 tahun, menjamin dominasi Prancis di bawah laut hingga 2060. Fasilitas modern seperti masts optik tanpa penetrasi dan tempat untuk operasi pasukan khusus membuat kapal ini sangat multifungsi. Upgrade masa depan diperkirakan akan meliputi integrasi sistem tak berawak, memperkuat peran kapal selam ini dalam perang bawah laut modern.
26 Feb 2026, 07.34 WIB

Drone DropShip: Solusi Logistik Canggih Untuk Lingkungan Paling Berbahaya

Sebuah perusahaan asal Alameda, Amerika Serikat, mengembangkan drone bernama DropShip yang dirancang untuk beroperasi di lingkungan paling berbahaya di dunia. Drone ini mampu melakukan operasi berat seperti pengiriman suplai penting dan evakuasi personel tanpa menempatkan pilot atau pesawat mahal dalam risiko bahaya. Penggunaan drone ini diharapkan mengatasi masalah yang ada ketika misi harus dibatalkan karena risiko terlalu tinggi. DropShip dikembangkan oleh perusahaan Pyka untuk menawarkan solusi dengan biaya lebih rendah dibandingkan platform UAS legacy yang selama ini digunakan militer dengan harga antara 10 hingga 30 juta dolar Amerika. Drone ini memberikan kemampuan setara dengan sistem lama tetapi dengan biaya dan skalabilitas tingkat tinggi milik UAS taktis yang lebih kecil dan mudah dioperasikan. Salah satu keunggulan utama DropShip adalah kemampuannya dalam memberikan konektivitas yang terjamin di daerah rural dan terpencil serta mendukung pengiriman barang penting secara cepat dan andal. Drone ini juga dirancang dapat diluncurkan dan didaratkan di area tanpa runway seperti tanah, kerikil, atau jalan setapak yang tidak beraspal, sehingga sangat fleksibel digunakan di lokasi sulit. Selain untuk keperluan militer, DropShip juga bisa digunakan dalam misi kemanusiaan, termasuk bantuan bencana dan operasi logistik ekspedisi di medan yang sulit dijangkau. Drone ini mampu membawa beban berat dan menjalankan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian, selain juga berfungsi sebagai relay komunikasi yang tidak bergantung pada jenis gelombang tertentu. Penggunaan teknologi seperti DropShip menjadi penting karena sistem pesawat lama yang mahal bisa dengan mudah dinetralkan oleh musuh dengan biaya yang jauh lebih murah. Dengan adanya drone ini, operasi yang dulunya berisiko tinggi bisa dilakukan lebih aman dan efisien, membuka jalan baru dalam dunia logistik dan bantuan kemanusiaan di wilayah rawan konflik.
Sebelumnya
Setelahnya

Baca Juga

  • Meta Melesat: AI & Ekspansi Global

  • Pionir Material dan Energi Cerdas

  • Sorotan AI dan Pasar Global

  • Gym, Tarian & Parkour Robot Humanoid

  • Asisten AI Tanpa Batas

  • Privasi Terbongkar

  • Perjudian Geopolitik: Bursa Konflik

  • Dominasi Hipersonik & Maritim

  • Badai Rudal Teheran

  • Gejolak Bumi Nusantara