Peningkatan Pesat Penggunaan Crypto untuk Hindari Sanksi Negara Terlarang
Courtesy of CoinDesk

Peningkatan Pesat Penggunaan Crypto untuk Hindari Sanksi Negara Terlarang

Melaporkan peningkatan signifikan penggunaan cryptocurrency oleh entitas yang terkena sanksi untuk menghindari sistem keuangan tradisional dan menggambarkan dampak serta mekanisme aktivitas ilegal yang membantu bypass sanksi global.

05 Mar 2026, 23.52 WIB
185 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Penggunaan cryptocurrency oleh negara yang dikenakan sanksi meningkat secara signifikan.
  • Stablecoin, terutama A7A5, menjadi alat utama untuk menghindari sanksi dan melakukan transaksi internasional.
  • Korea Utara terus menjadi ancaman utama dalam hal pencurian cryptocurrency.
Kirgizstan, Rusia, Iran, Korea Utara - Sanctions evasion melalui cryptocurrency melonjak signifikan tahun lalu, dengan entitas terlarang menerima setidaknya Rp 1.74 quadriliun ($104 miliar) dan volume transaksi onchain ilegal mencapai rekor Rp 2.57 quadriliun ($154 miliar) . Negara seperti Rusia, Iran, dan Korea Utara menjadi aktor utama dalam fenomena ini. Ini menunjukkan integrasi crypto ke dalam strategi keuangan nasional untuk menghindari sistem perbankan tradisional.
Token A7A5, stablecoin yang dipatok pada rubel dan beroperasi di Kirgizstan, memproses transaksi sebesar Rp 1.56 quadriliun ($93,3 miliar) dalam kurang dari satu tahun, berperan sebagai jalur pembayaran untuk entitas Rusia yang terkena sanksi. Layanan A7A5 Instant Swapper memudahkan konversi ke stablecoin dolar dengan sedikit atau tanpa pemeriksaan KYC. Aktivitas ini memicu perhatian karena memperkuat jaringan keuangan ilegal lintas negara.
Iran memanfaatkan crypto untuk mendanai proxy regional dan perdagangan minyak dengan nilai lebih dari Rp 50.10 triliun ($3 miliar) , sementara Korea Utara melakukan pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah senilai lebih dari Rp 33.40 triliun ($2 miliar) , termasuk serangan terhadap Bybit. Data ini menandai pergeseran struktural dalam kejahatan kripto dengan stablecoin mendominasi transaksi ilegal, menandakan kebutuhan tindakan pengawasan yang lebih ketat.
Referensi:
[1] https://www.coindesk.com/business/2026/03/05/sanctions-evasions-using-crypto-increased-by-700-in-2025-chainalysis

Analisis Ahli

Andreas M. Antonopoulos
"Peningkatan evasi sanksi melalui stablecoin menegaskan bahwa teknologi blockchain harus diimbangi dengan regulasi yang efektif agar tidak digunakan untuk aktivitas ilegal secara masif."

Analisis Kami

"Penggunaan cryptocurrency oleh negara-negara yang terkena sanksi menunjukkan kegagalan sistem keuangan tradisional dalam mengatasi praktik evasi sanksi. Regulator global harus memperketat pengawasan sekaligus mendorong adopsi teknologi yang mampu mendeteksi pola transaksi mencurigakan tanpa menghambat inovasi di ruang crypto."

Prediksi Kami

Penggunaan stablecoin dan layanan crypto semacam A7A5 akan terus meningkat oleh aktor yang terkena sanksi, memaksa lembaga internasional dan regulator meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum di sektor crypto.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang didapatkan oleh entitas yang dikenakan sanksi dalam cryptocurrency?
A
Entitas yang dikenakan sanksi menerima setidaknya $104 miliar dalam cryptocurrency.
Q
Sebutkan stablecoin yang paling banyak digunakan oleh entitas yang dikenakan sanksi!
A
Stablecoin A7A5 adalah yang paling banyak digunakan, dengan $72 miliar terkait dengan token tersebut.
Q
Apa yang dilakukan A7A5 dalam konteks keuangan ilegal?
A
A7A5 berfungsi sebagai jalur penyelesaian untuk bisnis Rusia yang dikenakan sanksi dalam perdagangan lintas batas.
Q
Bagaimana Chainalysis berkontribusi dalam memahami keuangan ilegal?
A
Chainalysis melakukan analisis dan pelaporan tentang keuangan ilegal, termasuk penggunaan cryptocurrency oleh entitas yang dikenakan sanksi.
Q
Apa yang dicuri oleh Korea Utara dalam konteks cryptocurrency?
A
Korea Utara mencuri lebih dari $2 miliar dalam cryptocurrency, termasuk dari peretasan Bybit.