TLDR
Perusahaan spyware seperti Intellexa semakin banyak digunakan oleh pemerintah untuk mengawasi jurnalis dan aktivis. Amnesty International terus menyoroti pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi akibat penggunaan teknologi pengawasan. Kasus Teixeira Cândido menunjukkan bahwa individu dalam masyarakat sipil dapat menjadi target utama dalam konflik politik. Amnesty International mengungkap bahwa jurnalis dan aktivis kebebasan pers di Angola, Teixeira Cândido, menjadi korban serangan spyware Predator dari perusahaan Intellexa. Spyware ini dipasang lewat tautan berbahaya yang dikirimkan melalui WhatsApp dan berhasil menginfeksi iPhone korban saat tautan tersebut diklik.Intellexa dikenal sebagai pembuat spyware yang kontroversial dan beroperasi tersembunyi lewat berbagai entitas perusahaan agar bisa menghindari hukum ekspor. Perusahaan ini tetap aktif meski sudah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat, termasuk terhadap pendirinya, Tal Dilian dan mitranya Sara Fayssal Hamou.Peneliti Amnesty melakukan analisis forensik pada perangkat Cândido dan menghubungkan infeksi spyware dengan server-server yang sebelumnya diketahui milik Intellexa. Spyware ini menyamar sebagai proses iOS asli untuk menghindari deteksi di telepon korban, dan hanya hilang setelah ponselnya di-reboot.Amnesty juga menemukan beberapa domain yang terkait dengan spyware ini di Angola sejak Maret 2023, yang menandakan bahwa Intellexa mungkin telah menguji atau menggunakan spyware ini di negara tersebut sejak awal tahun. Namun, mereka belum bisa memastikan siapa pelanggan Intellexa yang menjalankan serangan di Angola.Kasus ini memperlihatkan tren bagaimana spyware komersial kini semakin sering digunakan oleh pemerintah untuk mengawasi dan menekan jurnalis, politikus, dan warga biasa yang mengkritik pemerintah. Amnesty mengingatkan masih banyak penyalahgunaan yang belum terungkap di berbagai negara dunia.