
Courtesy of TechCrunch
Google dan Risiko Harga Mahal di Era Belanja Berbasis AI yang Baru
Memberikan peringatan kepada konsumen tentang potensi risiko privasi dan manipulasi harga dari integrasi AI dalam sistem belanja Google, sekaligus mendorong kesadaran pentingnya pengawasan dan inovasi teknologi independen di tengah dominasi perusahaan besar.
14 Jan 2026, 02.40 WIB
249 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Pentingnya kesadaran konsumen terhadap praktik penetapan harga yang mungkin tidak adil oleh perusahaan teknologi besar.
- Google berusaha untuk mengintegrasikan fitur belanja ke dalam AI, tetapi ada kekhawatiran tentang privasi dan data pengguna.
- Ada potensi untuk startup independen untuk berkembang dalam ruang belanja AI yang lebih transparan dan adil bagi konsumen.
New York, Amerika Serikat - Baru-baru ini, Google memperkenalkan protokol Universal Commerce yang memadukan kemampuan kecerdasan buatan dengan layanan belanja online. Tujuan dari protokol ini adalah untuk membuat proses belanja menjadi lebih personal dan efisien dengan fitur seperti upselling atau penawaran produk yang lebih mahal berdasarkan preferensi pengguna.
Namun, langkah ini mendapatkan sorotan dari Lindsay Owens, direktur Groundwork Collaborative, yang mengkhawatirkan kalau data chat pengguna bisa dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara tidak adil. Ia menyebut hal ini sebagai risiko 'surveillance pricing' di mana harga barang bisa berbeda tergantung data pribadi pengguna.
Google sendiri membantah tuduhan tersebut dan memastikan bahwa harga yang muncul dalam AI akan sama dengan harga yang ada di situs resmi penjual. Mereka juga menjelaskan bahwa fitur upselling adalah untuk memberikan pilihan lebih kepada konsumen, bukan untuk memaksa harga lebih tinggi.
Meski demikian, kekhawatiran tetap muncul karena Google adalah perusahaan besar yang memiliki kepentingan besar pada iklan dan menjual data. Ini memicu diskusi tentang perlunya teknologi alternatif yang lebih independen dan fokus pada perlindungan konsumen, seperti beberapa startup AI yang sudah mulai bermunculan.
Kesimpulannya, teknologi AI dalam belanja sangat menjanjikan, tetapi kita harus tetap waspada terhadap potensi penyalahgunaan data dan manipulasi harga. Sampai ada regulasi yang jelas dan transparansi, konsumen sebaiknya tetap berhati-hati dalam menggunakan layanan AI untuk membeli barang.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/01/13/a-consumer-watchdog-issued-a-warning-about-googles-ai-agent-shopping-protocol-google-says-shes-wrong/
[1] https://techcrunch.com/2026/01/13/a-consumer-watchdog-issued-a-warning-about-googles-ai-agent-shopping-protocol-google-says-shes-wrong/
Analisis Ahli
Lindsay Owens
"Protokol ini membuka celah untuk praktik harga yang tidak adil dan pengawasan konsumen yang invasif, yang bisa merugikan pembeli dalam jangka panjang."
Analisis Kami
"Google berada di posisi yang rawan konflik kepentingan antara melayani konsumen dan merchant, sehingga risiko penyalahgunaan data belanja sangat mungkin terjadi meskipun saat ini belum terwujud. Konsumen harus lebih waspada dan mendorong transparansi serta kontrol lebih ketat atas data mereka sebelum teknologi ini benar-benar meluas."
Prediksi Kami
Di masa depan, teknologi AI dalam belanja bisa memicu kontroversi besar terkait privasi dan diskriminasi harga, sehingga mendorong regulasi yang lebih ketat dan munculnya solusi alternatif dari perusahaan startup untuk melindungi konsumen.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang diumumkan Google terkait Protokol Perdagangan Universal?A
Google mengumumkan Protokol Perdagangan Universal yang mengintegrasikan belanja dengan penawaran AI mereka, termasuk fitur penjualan tambahan.Q
Apa kekhawatiran utama Lindsay Owens tentang protokol baru ini?A
Lindsay Owens khawatir bahwa Google akan menggunakan data percakapan untuk meningkatkan harga yang dibebankan kepada konsumen, yang ia sebut sebagai 'harga surveilans'.Q
Bagaimana Google menanggapi tuduhan mengenai penetapan harga yang tidak adil?A
Google menyatakan bahwa tuduhan tentang penetapan harga yang lebih tinggi tidak akurat dan menegaskan bahwa mereka melarang merchant untuk menampilkan harga yang lebih tinggi di platform mereka.Q
Apa yang dimaksud dengan 'penjualan tambahan' dalam konteks belanja AI?A
'Penjualan tambahan' merujuk pada praktik ritel untuk menawarkan produk premium tambahan yang mungkin diminati oleh pengguna, bukan untuk menaikkan harga.Q
Apa potensi risiko yang dihadapi konsumen dengan adanya AI dalam belanja?A
Risiko yang dihadapi konsumen termasuk kemungkinan penentuan harga yang berbeda-beda berdasarkan analisis data pribadi yang dapat merugikan konsumen.




