New York Wajibkan Media Sosial Jelaskan Dampak Algoritma pada Kesehatan Mental
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
27 Des 2025
84 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
New York memberlakukan aturan baru untuk transparansi algoritma media sosial.
Dampak negatif algoritma terhadap kesehatan mental menjadi perhatian utama.
Regulasi ini dapat menjadi contoh bagi negara bagian lain dan negara lainnya.
Negara bagian New York di Amerika Serikat baru saja memberlakukan aturan yang mengharuskan platform media sosial untuk memberikan peringatan kepada pengguna mengenai dampak negatif algoritma terhadap kesehatan mental. Aturan ini bertujuan supaya pengguna lebih waspada dan memahami bagaimana algoritma bekerja di balik layar.
Beberapa fitur yang menjadi perhatian utama dalam aturan ini adalah infinite scrolling, autoplay, dan konten yang dikurasi secara otomatis. Fitur ini dianggap bisa mempengaruhi kondisi psikologis pengguna dengan membuat mereka terus menerus terpaku pada layar dan terpapar konten yang memicu emosi atau kontroversi.
Platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok menjadi target dari aturan ini. Mereka harus menjelaskan bagaimana algoritma mereka bisa memicu efek negatif, misalnya Facebook yang memprioritaskan konten kontroversial untuk menjaga interaksi pengguna, dan TikTok yang mendapat kritik karena video singkatnya mengurangi rentang perhatian.
Pendekatan New York berbeda dari Australia yang melarang anak-anak menggunakan media sosial sama sekali. New York memilih cara yang lebih moderat dengan memberikan edukasi langsung ke pengguna, sehingga diharapkan mereka bisa lebih bijak dan sadar dalam menggunakan media sosial.
Meskipun baru diberlakukan di New York, aturan ini berpotensi menjadi contoh bagi negara bagian lain di AS dan bahkan negara-negara lain di dunia untuk mengatur media sosial agar lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan mental penggunanya.
Analisis Ahli
Dr. Jean Twenge (Psikolog dan Peneliti Kesehatan Mental Anak Muda)
Memberikan peringatan dan edukasi tentang dampak algoritma bisa membantu mengurangi risiko kesehatan mental pada remaja, tapi perlu juga intervensi yang lebih komprehensif agar perubahan nyata terjadi.

