TLDR
Perubahan iklim menjadi ancaman yang semakin nyata dan membutuhkan perhatian serius. Krisis lingkungan yang dihadapi saat ini adalah akibat dari kelalaian manusia dan kebijakan yang tidak mendukung keberlanjutan. Kita perlu mengubah perspektif mengenai perubahan iklim sebagai masalah sistemik yang mempengaruhi semua aspek kehidupan. Pernyataan dari Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, atau Cak Imin, mempertegas bahwa kiamat akibat kerusakan lingkungan tidak hanya mendekat tetapi sudah terjadi, menyusul bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa provinsi di Sumatra. Ini menjadi pengingat serius bahwa kelalaian manusia membawa dampak yang sangat besar bagi bumi dan kehidupan kita semua.Sejumlah ilmuwan dari lebih 161 negara dengan total lebih dari 15.000 penandatangan telah mengeluarkan peringatan keras lewat sebuah makalah ilmiah. Mereka menyoroti bahwa kenaikan suhu global yang dipicu oleh aktivitas manusia, khususnya penggunaan bahan bakar fosil, menyebabkan kondisi iklim yang semakin ekstrem dan bencana yang semakin sulit dikendalikan.Laporan menunjukkan bahwa pada tahun-tahun terakhir rekor iklim buruk terus terpecahkan, misalnya kebakaran hutan hebat di Kanada. Ilmuwan menilai ini menjadi tanda adanya titik kritis yang mengarah pada perubahan kondisi iklim yang sangat merugikan dan sulit untuk dipulihkan.Ironisnya, di tengah ancaman krisis ini, subsidi terhadap bahan bakar fosil malah meningkat secara signifikan di Amerika Serikat, mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS antara tahun 2021 hingga 2022. Ini menunjukkan adanya dukungan besar yang secara tidak langsung memperburuk krisis iklim yang sedang berlangsung.Para ilmuwan menekankan bahwa perubahan harus menyentuh cara pandang kita terhadap iklim, dari masalah lingkungan menjadi ancaman eksistensial yang harus segera ditangani. Peralihan dari bahan bakar fosil dan pengurangan konsumsi berlebihan merupakan kunci untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan menyelamatkan masa depan bumi.