TLDR
Krisis iklim semakin memperburuk risiko bencana alam di Indonesia. Bencana banjir dan longsor di Sumatra membawa dampak besar terhadap infrastruktur dan korban jiwa. Perlu adanya evaluasi kebijakan lingkungan hidup untuk mencegah bencana serupa di masa depan. Indonesia kembali dikejutkan oleh bencana banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025. Bencana ini berdampak luas dengan jutaan orang terkena dampak langsung, ratusan rumah dan fasilitas rusak, serta ribuan korban terluka dan meninggal dunia.Data terbaru mengungkapkan sebanyak 631 orang tewas dan ratusan lainnya masih hilang akibat bencana ini. Pemerintah melalui berbagai lembaga dan tokoh seperti Muhaimin Iskandar pun mulai menggerakkan upaya penanganan dan mengajak pihak-pihak terkait untuk bersama-sama melakukan evaluasi kebijakan lingkungan yang lebih baik.Bencana ini tidak lepas dari konteks perubahan iklim yang semakin ekstrim di Asia. Laporan dari Badan Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa tahun 2024 adalah salah satu tahun terpanas di Asia dengan suhu permukaan laut mencapai rekor tertinggi yang memperburuk cuaca ekstrem dan risiko bencana alam.Berbagai fenomena cuaca ekstrem lain seperti siklon tropis, banjir besar, kekeringan hebat, dan gelombang panas juga melanda Asia sepanjang tahun 2024 dan 2025. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak krisis iklim dan perlunya respons cepat dan komprehensif dari pemerintah dan masyarakat.Upaya pemerintah Indonesia yang mengajak untuk melakukan 'tobatan nasuhah' atau evaluasi total kebijakan lingkungan menjadi langkah awal penting. Namun, diperlukan kolaborasi lebih luas dan langkah nyata agar bencana seperti ini bisa dicegah di masa depan demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.