Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Komdigi Mulai Konsultasi Teknologi Satelit NTN-D2D untuk Perluas Jaringan Digital

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
astronomy-and-space-exploration (5mo ago) astronomy-and-space-exploration (5mo ago)
23 Okt 2025
110 dibaca
2 menit
Komdigi Mulai Konsultasi Teknologi Satelit NTN-D2D untuk Perluas Jaringan Digital

Rangkuman 15 Detik

Teknologi NTN-D2D berpotensi meningkatkan akses komunikasi di daerah 3T di Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengundang partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan kebijakan ini.
Starlink sudah memperkenalkan teknologi serupa, namun memiliki batasan izin untuk digunakan di Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia mengumumkan dimulainya konsultasi publik terkait teknologi baru yang disebut Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D). Teknologi ini memungkinkan perangkat seluler langsung terhubung ke satelit tanpa harus bergantung pada menara BTS yang selama ini umum digunakan. Hal ini menjadi penting dalam memperluas jaringan komunikasi di wilayah yang sulit dijangkau oleh jaringan biasa. Tujuan utama dari konsultasi ini adalah untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak, termasuk operator telekomunikasi, penyedia layanan satelit, asosiasi industri, akademisi, dan masyarakat luas. Pendapat dari para pemangku kepentingan tersebut akan membantu pemerintah menyusun kebijakan dan regulasi yang tepat agar teknologi ini bisa diimplementasikan dengan efektif di Indonesia. Teknologi NTN-D2D dianggap sangat potensial untuk menjangkau wilayah 3T, yaitu wilayah yang terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia. Dengan jaringan ini, layanan komunikasi bisa diperluas ke daerah perbatasan, pelosok, dan perairan yang selama ini susah mendapatkan sinyal jaringan konvensional. Selain itu, teknologi ini juga dianggap akan memperkuat ketahanan komunikasi nasional dan mendorong perkembangan ekonomi digital. Kajian ini merupakan bagian dari Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital periode 2025-2029 dan juga mendukung sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Ini sejalan dengan visi Indonesia Emas tahun 2045 dan agenda pemerintahan saat ini. Pemerintah mengundang masyarakat dan pelaku industri untuk berpartisipasi aktif agar kebijakan yang dibuat semakin matang. Sementara itu, layanan serupa sudah ada di dunia, contohnya Starlink dari SpaceX yang telah meluncurkan teknologi direct-to-cell. Namun, di Indonesia layanan tersebut belum bisa digunakan karena izin yang terbatas dari pemerintah. Dengan regulasi yang mendukung, di masa depan teknologi ini diharapkan bisa berjalan di Indonesia dan memberikan manfaat besar bagi konektivitas nasional.

Analisis Ahli

Prof. Bambang Haryanto (Telekomunikasi ITB)
Teknologi direct-to-device via satelit adalah solusi strategis yang akan mengatasi keterbatasan infrastruktur terestrial di Indonesia, terutama untuk wilayah 3T. Namun, keberhasilan implementasinya sangat tergantung pada regulasi spektrum yang responsif dan koperasi erat antara pemerintah dan operator.