TikTok Ubah Kebijakan Data Demi Bertahan di AS dengan Risiko Privasi Pengguna
Teknologi
Keamanan Siber
22 Okt 2025
251 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Kebijakan baru TikTok di AS memungkinkan pembagian data pengguna dengan pemerintah.
DHS dan ICE aktif dalam meminta data pengguna TikTok meskipun dengan beban hukum yang lebih ringan.
Rencana penjualan operasi TikTok di AS oleh Trump menciptakan kejelasan baru dalam pengelolaan data dan privasi pengguna.
TikTok sedang menghadapi tekanan besar agar bisa terus beroperasi di Amerika Serikat. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan mengubah kebijakan privasinya sehingga kini bisa membagikan data pengguna tidak hanya kepada penegak hukum tapi juga kepada otoritas pengatur, jika dianggap relevan. Ini merupakan langkah besar yang mengubah bagaimana data pengguna TikTok dikelola.
Data yang bisa diminta pemerintah termasuk nama pengguna, nomor telepon, alamat IP, dan informasi identifikasi lain. Permintaan data ini bisa datang melalui panggilan pengadilan administratif, yang tidak sama dengan pengadilan umum dan tidak memerlukan dasar hukum yang kuat. Artinya, TikTok bisa menerima tuntutan data tanpa harus melalui proses pengadilan yang biasa.
Selain itu, TikTok juga menghilangkan janji untuk memberi tahu pengguna jika data mereka diserahkan kepada pemerintah. Sementara itu, bahasa dalam kebijakan yang dulu menyatakan 'TikTok menolak permintaan data' sekarang berubah menjadi 'dapat menolak permintaan data,' yang menunjukkan pengurangan kemampuan menolak permintaan data.
Menurut laporan, Trump pernah membocorkan rencana pembelian bisnis TikTok di AS oleh sekelompok investor yang membentuk perusahaan baru senilai 14 miliar dolar AS. ByteDance akan memegang kurang dari 20% saham, dengan perusahaan baru mengawasi bisnis, data, dan algoritma TikTok yang beroperasi khusus di AS.
Perubahan kebijakan ini menunjukkan betapa sulitnya posisi TikTok dalam menjaga bisnisnya di AS tanpa mengorbankan privasi pengguna. Meski perusahaan berupaya agar pengguna bisa menentang permintaan data di pengadilan, kebijakan terbaru akan makin mempersulit hal tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan data pribadi.
Analisis Ahli
Edward Snowden
Pengungkapan ini menegaskan kembali bahwa tidak ada yang benar-benar aman dari pengawasan pemerintah, terutama di platform besar dengan akar asing. Kebijakan seperti ini bisa menjadi preseden berbahaya bagi privasi global.Shoshana Zuboff
Formasi perusahaan baru masih merupakan upaya strategi kontrol data yang sangat kuat oleh korporasi dan negara, dimana pengguna selalu menjadi pihak paling rentan di tengah permainan geopolitik dan bisnis.

