Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Nasib TikTok di AS Masih Mengambang, Blackstone Batal Jadi Investor

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (8mo ago) investment-and-capital-markets (8mo ago)
21 Jul 2025
269 dibaca
2 menit
Nasib TikTok di AS Masih Mengambang, Blackstone Batal Jadi Investor

Rangkuman 15 Detik

Negosiasi antara pemerintah AS dan ByteDance mengenai TikTok masih berlangsung.
Blackstone tidak jadi berinvestasi dalam TikTok, yang mengubah dinamika konsorsium investor.
Pemerintah AS mengkhawatirkan keamanan data pengguna TikTok jika tetap di bawah ByteDance.
TikTok menghadapi ketidakpastian di Amerika Serikat karena regulasi yang memaksa perusahaan induknya, ByteDance asal China, untuk melepaskan kontrol bisnis TikTok di AS. Pemerintah AS sangat khawatir data pengguna TikTok dapat disalahgunakan oleh pihak asing, terutama pemerintah China. Presiden Donald Trump telah menunda pelaksanaan regulasi yang akan memblokir TikTok di AS sebanyak tiga kali hingga tanggal 17 September 2025. Penundaan ini memberikan waktu bagi ByteDance dan pemerintah AS untuk bernegosiasi mengenai masa depan TikTok di pasar AS. Salah satu hal penting dalam negosiasi ini adalah pembentukan konsorsium investor dari AS yang akan mengendalikan 80% bisnis TikTok di AS. Namun, baru-baru ini salah satu calon investor penting, Blackstone, dilaporkan batal bergabung dalam konsorsium tersebut, yang berpotensi mengubah dinamika negosiasi. Konsorsium yang tiba-tiba kehilangan Blackstone masih dipimpin oleh Susquehanna International Group dan General Atlantic, yang keduanya juga merupakan investor ByteDance. Pemerintah AS era Joe Biden menegaskan regulasi yang mewajibkan ByteDance divestasi atau menghadapi pemblokiran permanen. Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan AS dan China, terutama di tengah ketegangan perdagangan dan keamanan siber. Semua pihak masih menunggu keputusan akhir mengenai nasib TikTok agar layanan populer ini bisa terus beroperasi di Amerika Serikat.

Analisis Ahli

Bruce Schneier
Negosiasi ini menyoroti betapa pentingnya kontrol data dalam era digital dan bagaimana geopolitik dapat mempengaruhi perusahaan teknologi global.
Kash Hill
Perlu ada transparansi lebih dalam proses pencaplokan dan pengelolaan data agar pengguna tetap terlindungi dari potensi penyalahgunaan.