Teknologi Server Bawah Laut: Solusi Hemat Energi untuk Data Center Masa Depan
Sains
Iklim dan Lingkungan
03 Okt 2025
2 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Server bawah laut dapat mengurangi konsumsi energi hingga 90 persen.
Proyek ini merupakan salah satu layanan komersial pertama untuk server bawah laut di dunia.
Kolaborasi antara perusahaan maritim dan konstruksi negara dapat mendorong inovasi dalam infrastruktur teknologi.
Data center merupakan pusat penyimpanan dan pengolahan data yang sangat penting untuk internet dan aplikasi yang kita gunakan sehari-hari. Namun, pusat data ini memerlukan sangat banyak energi, khususnya untuk menjaga server agar tetap dingin dan berfungsi dengan baik.
Sebuah perusahaan China, Highlander, sedang mengembangkan sebuah kapsul server yang akan ditempatkan di bawah laut dekat kota Shanghai. Mereka berharap dengan memanfaatkan suhu air laut yang dingin, konsumsi energi untuk pendinginan bisa dikurangi hingga sekitar 90 persen.
Teknologi ini bukanlah sebuah inovasi yang sepenuhnya baru. Pada tahun 2018, Microsoft juga pernah mencoba menempatkan server di bawah laut lepas pantai Skotlandia. Namun, proyek Shanghai menjadi salah satu yang pertama mencoba menghadirkan layanan komersial berdasarkan teknologi ini.
Keuntungan utama dari server bawah laut adalah penurunan kebutuhan energi untuk pendinginan secara drastis. Hal ini penting karena penggunaan energi yang tinggi di pusat data berkontribusi pada masalah lingkungan dan biaya operasional yang besar.
Walaupun menjanjikan, teknologi ini juga menimbulkan pertanyaan terkait dampak ekologis terhadap lingkungan laut di sekitar penempatan server tersebut. Proyek ini akan menjadi contoh utama yang menentukan kelayakan komersial dan keberlangsungan teknologi server bawah laut.
Analisis Ahli
Dr. Mei Lin (pakar teknologi lingkungan)
Penggunaan suhu alami dari laut sebagai pendingin server bisa menjadi lompatan besar dalam efisiensi energi, selama pengelolaan dampak ekosistem laut dilakukan dengan hati-hati.


