AI summary
HiCloud membangun pusat data bawah laut yang efisien dengan tenaga angin. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi daya hingga 23% dibandingkan pusat data biasa. Microsoft pernah menjalankan eksperimen dengan pusat data bawah laut melalui Project Natick. Perusahaan HiCloud di China sedang mengembangkan sebuah data center unik yang dibangun di bawah laut dan menggunakan tenaga angin sebagai sumber energi utamanya. Fasilitas ini akan berlokasi di lepas pantai Shanghai dan memiliki kapasitas daya sebesar 24 megawatt.Sebagian besar energi yang digunakan dalam pusat data ini berasal dari turbin angin lepas pantai, sekitar 95%, sementara sistem pendinginnya memanfaatkan suhu dingin alami dari arus laut, sehingga mengurangi penggunaan listrik untuk pendinginan konvensional.Untuk membangun fasilitas tersebut, HiCloud membutuhkan dana sekitar US$266 juta atau Rp 4,4 triliun. Di sisi lain, penggunaan teknologi inovatif ini diperkirakan dapat menurunkan konsumsi energi hingga 23% dibandingkan pusat data tradisional.Sebelumnya, HiCloud juga telah berhasil menyelesaikan pembangunan data center bawah laut pertama di China yang berada di bawah perairan Hainan, berisi ratusan rak server yang terhubung langsung ke daratan melalui kabel.Meskipun konsep data center bawah laut pernah dilakukan oleh Microsoft dengan Project Natick, proyek tersebut dibatalkan pada tahun 2024, namun tetap dipakai sebagai platform riset untuk mengeksplorasi teknologi pusat data berkelanjutan dan efisien.
Langkah HiCloud dengan data center bawah laut dan pemanfaatan tenaga angin menunjukkan kemajuan nyata dalam integrasi teknologi hijau dan infrastruktur digital, yang bisa menjadi model utama ke depan. Namun, tantangan teknis dan biaya tinggi masih menjadi penghalang yang memerlukan perhatian lebih agar solusi ini bisa diterapkan secara masif.