Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Transformasi Lanskap Ritel Digital dan E-commerce

Share

Berita ini membahas transformasi digital dalam ritel dan e-commerce, mulai dari inovasi aplikasi styling, live shopping, hingga perubahan model bisnis ritel fisik dan daring, serta persaingan global antar pemain besar.

15 Feb 2026, 02.00 WIB

Teknologi Fashion 'Clueless': Cara Baru Berbelanja dengan Avatar Virtual

Teknologi Fashion 'Clueless': Cara Baru Berbelanja dengan Avatar Virtual
Jenny Wang, pendiri Alta, mengubah cara orang berbelanja pakaian dengan teknologi avatar virtual yang pernah terlihat dalam film 'Clueless'. Alta memungkinkan pengguna membuat lemari digital dan mencoba baju dengan avatar yang menyerupai diri mereka. Pada 2023, aplikasi ini dirilis dan menerima pujian dari Time dan Vogue sebagai inovasi terbaik tahun itu. Alta menerima dana investasi sebesar 11 juta dolar AS dari Menlo Ventures dan berbagai tokoh ternama termasuk model dan pendiri perusahaan fashion. Sejak peluncurannya, pengguna telah menciptakan lebih dari 100 juta outfit menggunakan fitur avatar dan lemari digital yang dimiliki. Perusahaan kini bermitra dengan platform fashion besar seperti Poshmark dan organisasi fashion bergengsi, serta bekerja sama dengan merek terkenal Public School yang menggunakan teknologi Alta secara langsung di situs web mereka untuk memberikan pengalaman coba baju virtual. Pendiri Public School, Dao-Yi Chow dan Maxwell Osborne, melihat teknologi sebagai mitra bisnis penting di era digital sekarang. Mereka menggunakan teknologi AI untuk memperluas cara mereka bercerita dan berinteraksi dengan pelanggan tanpa batasan lokasi fisik. Keunggulan Alta dibandingkan kompetitor adalah avatar virtual mereka bisa mengenakan delapan item pakaian dalam waktu singkat. Perusahaan ini bertujuan untuk menjadi lapisan identitas digital utama yang memahami preferensi gaya konsumen untuk masa depan belanja dengan AI.
28 Jan 2026, 20.08 WIB

Bagaimana Live Shopping Mengubah Cara Belanja Fashion di Era Digital

Bagaimana Live Shopping Mengubah Cara Belanja Fashion di Era Digital
Live shopping berkembang pesat dan mulai menggeser cara tradisional berbelanja fashion yang biasanya dilakukan di toko fisik atau halaman produk e-commerce yang statis. Metode baru ini menggabungkan hiburan dan perdagangan secara langsung melalui aplikasi seperti Whatnot, yang memungkinkan pembeli untuk berinteraksi langsung dengan penjual dan produk secara real time. Whatnot telah berhasil menguasai pangsa pasar besar di Amerika Utara dan Eropa dengan pendekatan live shopping yang menghadirkan pengalaman berbelanja seperti di butik, hanya saja dilakukan lewat ponsel. Penjual yang sering melakukan siaran langsung bisa meraih keuntungan jauh lebih tinggi dan membangun komunitas yang kuat di antara pembelinya. Salah satu masalah besar di industri fashion adalah tingginya tingkat pengembalian produk yang mengakibatkan kerugian besar. Dengan live shopping, pengembalian barang bisa dijadikan acara yang menarik dan transparan agar pembeli mengerti kondisi barang, sekaligus mempercepat perputaran stok seperti di acara lelang atau penjualan khusus. China telah memimpin tren live commerce dengan penjualan yang fantastis, bahkan bisa menghasilkan miliaran dolar dalam hitungan menit. Negara-negara Barat kini berada di titik perkembangan yang sama. Whatnot berperan sebagai pionir untuk menerapkan model ini secara luas di pasar barat dengan adaptasi ciri khas lokal seperti penekanan pada keaslian dan komunitas. Live shopping mengubah belanja dan pemasaran fashion menjadi sebuah kebiasaan sosial dan komunitas interaktif, bukan sekedar transaksi digital biasa. Dengan adanya host yang pandai, platform ini bisa menghilangkan rasa ragu konsumen dan membangun kepercayaan yang selama ini sulit didapat dalam belanja fashion online.
28 Jan 2026, 01.55 WIB

Amazon Tutup Banyak Toko Go dan Fresh, Fokus Besarkan Whole Foods

Amazon Tutup Banyak Toko Go dan Fresh, Fokus Besarkan Whole Foods
Amazon memutuskan untuk menutup sebagian besar toko fisik yang bermerk Amazon Go dan Amazon Fresh. Keputusan ini diambil untuk mengubah strategi bisnis mereka dalam ritel bahan makanan. Beberapa toko akan diubah menjadi toko Whole Foods Market yang sudah lebih populer dan memiliki basis pelanggan kuat. Meski toko fisik Amazon Go dan Fresh tutup, pelanggan masih bisa memesan produk Amazon Fresh secara online. Amazon juga merencanakan untuk memperluas layanan pengiriman bahan makanan dan keperluan rumah tangga di hari yang sama ke lebih banyak kota. Hal ini menunjukkan fokus Amazon pada layanan pengiriman dan belanja digital. Whole Foods Market akan membuka lebih dari 100 lokasi baru dalam beberapa tahun ke depan, termasuk lima toko kecil bergaya convenience store bernama Whole Foods Market Daily Shop. Dengan langkah ini, Amazon memusatkan sumber dayanya ke merek yang telah dikenal luas dan dipercaya oleh konsumen. Amazon juga masih menguji konsep toko fisik baru seperti Amazon Grocery di Chicago dan konsep toko Whole Foods di Pennsylvania yang memungkinkan pembelian produk-produk dari Amazon. Selain itu, proposal toko supercenter besar seperti Walmart juga disetujui di Orland Park, Illinois, menunjukkan Amazon belum meninggalkan rencana toko fisik baru mereka. Secara keseluruhan, Amazon sedang bertransformasi dari berfokus pada beberapa merek toko fisik mereka sendiri, ke menguatkan posisi Whole Foods dan layanan pengiriman. Strategi ini bertujuan membuat Amazon lebih kompetitif dan efisien di pasar ritel bahan makanan yang terus berkembang.
20 Jan 2026, 07.15 WIB

Temu, Platform Belanja Murah Tiongkok, Samai Amazon di Pasar Global 2025

Temu, Platform Belanja Murah Tiongkok, Samai Amazon di Pasar Global 2025
Pada tahun 2025, terjadi perubahan besar dalam pasar e-commerce lintas batas global, di mana platform belanja asal Tiongkok, Temu, berhasil menyamai pangsa pasar Amazon dengan 24 persen. Temu diluncurkan pada 2022 dan melesat cepat dari kurang dari 1 persen pangsa pasar menjadi 24 persen dalam waktu tiga tahun saja. Amazon, meskipun tetap menjadi pemain utama, mengalami penurunan sedikit dalam pangsa pasarnya dari 26 persen pada 2022 menjadi 25 persen pada 2024. Penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Amazon menghadapi pesaing baru dengan model bisnis berbeda yang lebih fokus pada harga rendah dan efisiensi pasokan. Selain Temu dan Amazon, platform lain asal Tiongkok juga menunjukkan dinamika berbeda. Shein mempertahankan pangsa pasar sebesar 9 persen pada 2025, sementara AliExpress menurun dari 12 persen pada 2023 menjadi 8 persen pada 2025. Hal ini menunjukkan kompetisi yang ketat antar platform asal Tiongkok itu sendiri. Platform lama seperti eBay mengalami penurunan drastis, kehilangan 68 persen pangsa pasar antara 2018 dan 2025. Posisi eBay jatuh ke peringkat kelima dengan hanya 5 persen pangsa pasar, akibat ketidakmampuannya bersaing dengan model bisnis baru dan perubahan kebiasaan konsumen. Perubahan dalam kebijakan bea cukai global pada tahun 2025 dan 2026 juga mempengaruhi rantai pasok e-commerce secara signifikan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi platform-platform e-commerce untuk menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di pasar global.

Baca Juga

  • Transformasi Lanskap Ritel Digital dan E-commerce

  • Transformasi Ritel Digital dan E-commerce

  • Startup Teknologi India Raih Pendanaan Besar

  • Transformasi Digital di Indonesia

  • Transformasi Digital di Ritel dan E-commerce